
"Author pov"
20 tahun kemudian
Di roof top gedung bertingkat lima, nampak seorang gadis bertubuh proporsional dengan mata elangnya, serius mengamati objek sasarannya. Laras panjang jenis AW 50 dengan berat 15 kg, panjang laras 686 mm dengan jarak bidik 1500 m bertengger tepat didepannya.
Ia berjongkok siap menembakkan senjatanya menunggu sasaran berada di posisi tepat, tak lama targetnya keluar dari gedung seberang, berjalan menuju ke mobil yang terparkir di depan gedung.
Tepat saat targetnya membuka pintu mobil, pelatuk di tangan gadis itu ia tarik dan
Doooorrrrr,,,,,,,,,,,, tubuh pria berjas hitam tersebut ambruk ke tanah dengan luka mengenaskan. Para pengawal yang mengamankan pria tersebut kocar kacir berlari ke arah tembakan datang.
Sementara gadis diatas roof top segera memasukkan senjatanya ke tas, dan menyerahkan pada laki laki disampingnya. Ia segera turun dan memasuki toilet untuk segera mengganti bajunya dengan dress floral selutut dengan warna hijau kesukaannya, sepatu hitamnya juga ia ganti dengan sepatu kets berwarna putih, tas slempang berisi pistol colt 1911 tak lupa ia bawa, baju bekas ia buang ke tempat sampah.
Lantas ia keluar dan berjalan santai menuruni gedung tersebut, banyak pria berjas hitam berlari melewatinya untuk naik ke atas gedung, gadis itu tertabrak salah satu pria berjas hitam
"Aw,,,,," gadis itu terhuyung dan hampir terjatuh
"Izvinite miss" (maaf nona) ucap pria itu dalam bahasa Rusia
"Eto normal'no"( tidak apa apa)
Kemudian pria itu kembali berlari ke atas gedung sedangkan gadis tadi terus turun menuju mobil yang tengah menunggunya di depan.
Saat gadis itu berada tepat di depan pintu mobil, pria di dalam mobil segera membuka pintu, setelah gadis tersebut masuk mereka segera meninggalkan tempat tersebut.
"Kerja bagus Ai" ucap pria yang sedang duduk dibalik kemudi mobil
"Tentu,,,,, kita langsung pulang saja Dim"
"Ok Laika kusuma"
"No,,,,. jangan panggil aku seperti itu panggil aku Ai"
"Ok baiklah" jawab pria kebangsaan Rusia bernama Dimitri tersebut dengan senyuman.
Lantas mobil tersebut terus berjalan menuju ke penthouse milik papi Laika. Sesampainya di lobi Laika langsung menaiki lift menuju penthouse papinya.
"Papi sudah melihat berita kematian Feliks bogdan??" tanya Laika saat memasuki ruang kerja papinya
"Tentu,,,,, kau gadis papi yang sangat bisa papi andalkan Ai"
"Spasibo" (terima kasih) ucap Laika lalu menghampiri papinya dan memeluknya
"Papi ajak aku jalan jalan" rengek Laika pada papinya
"Ajaklah Dimitri,,,, kau tau papi sibuk"
"Baiklah" jawab Laika tak bersemangat
Entahlah meskipun papinya memanjaknnya dengan harta yang berlimpah, tapi Laika selalu merasakan ada kekosongan di sudut hatinya, ibunya sudah lama meninggal saat ia berumur 13 tahun. Kini papinya tak ingin menikah lagi, tapi Laika tahu papinya sering bergonta ganti perempuan hampir setiap minggu, pesona tuan Afanas kusuma memang mampu melumpuhkan banyak wanita.
Sedangkan di belahan bumi lainnya yak ni di indonesia, seorang gadis cantik yang menggunakan jas putih kebangganya, sedang sibuk memeriksa pasien terakhirnya.
"Ok anak manis,,,, ingat gak boleh makan jajan pinggir jalan sembarangan lagi ya! biar perutnya gak sakit dan gak muntah lagi"
"Iya dokter cantik hanna gak akan makan sembarangan lagi"
"Anak pintar,,,," ucap Airi sambil mengusap puncak kepala anak tersebut
"Bu,,,, ini saya tuliskan resep,,, bisa ibu tebus di apotik depan" ucapnya sambil menyerahkan resep ke ibu anak bernama hanna
"Terima kasih dok" ucap ibu hanna tulus
Kemudian ibu dan anak tersebut meninggalkan ruangan Airi. Setelah pasiennya keluar Airi melihat jam dipergelangan kirinya, dia sudah berjanji pada bundanya akan menjemput adik laki laki satu satunya di kampus, motor adiknya hari ini rusak, jadilah Airi yang bertugas menjemputnya.
Tapi di lorong rumah sakit iya bertemu dokter Rafael yang sangat tak ia sukai,
"Sore dokter Airi cantik,,,," sapa dokter Rafael
"Sore,,," jawab Airi singkat dengan malas
"Jutek banget sih?? tambah cantik lo" goda Rafael
"Bisa gak sih kamu itu bersikap dewasa,,,,?? mana ada dokter pecicilan seperti kamu?" ucap Airi dengan muka garang
Namun muka itu seketika berubah berbinar saat ia mengetahui dokter pujaannya berjalan kearahnya, atau tepatnya dokter Sean hanya mau lewat di samping Airi.
"Sore dokter Sean,,,,, " sapa Airi ramah dengan senyum sejuta watt
"Tadinya sama aku jutek banget,,, sekarang sama dokter Sean kayak bidadari lagi" Ucap Rafael saat Sean tepat di depan Aira.
Aira yang mendengar itu berdecak kesal kenapa Rafael harus mengatakan hal itu tepat di depan Sean, kan Airi jadi tengsin,,,,,, huft,,,,,,,,
Sean yang mendengar itu hanya tersenyum dan balik menyapa Airi "Sore juga dokter Airi"
"Uuhhhh,,,, senyuman dokter Sean moodboster banget dah" batin Airi bersorak sorak
"Dokter sudah mau pulang?" tanya Airi pada Sean
"Iya saya mau pulang"
"Kalau gitu barengan ke parkiran deh" ucap Airi mencari kesempatan
"Ayuuukk,,,,,,"
Kemudian mereka berdua berjalan beriringan meninggalkan Rafael, yang memandang mereka berdua dengan wajah memelas, tiba tiba pundak Rafael ada yang menepuk dan terdengar sebuah suara di sampingnya
"Kamu yang sabar ya ,,,,, kayaknya anak om gak suka sama kamu" ucap Fatih meledek
Rafael yang mendengar perkataan Fatih makin cemburut
"Coba om dukung aku gitu,,,,, bukan malah meledek"
"Eheeemmmmm,,,,, ini masih jam kerja kamu ya,,,. panggil saya bapak, saya laporkan ke papa kamu baru tahu" canda Fatih menunjukkan kekuasaannya
"Iya bapak direktur,,,,, maaf" ucap Rafael dengan memutar bola matanya jengah
"Ya udah om mau pulang dulu"
"Tadi katanya minta dipanggil bapak" ucap Rafael ngegas
"Ow,,,,, ini om makin gak mau dukung kamu deketin Airi ya"
"Jangan jangan om gak asik ah,,,,,"
Kemudian perbincangan mereka diakhiri dengan langkah kepergian Fatih.
Rafael terlihat dekat dengan Fatih karena ayah Rafael adalah dokter Iman, teman Fatih sekaligus dokter kandungan Aruna sejak dahulu kala, Rafael sering berkunjung ke rumah Fatih, dan dengan sifat cerianya Rafael selalu menjadi teman main catur Fatih.
Seiring perjalanan waktu kini Fatih telah menjadi pemilik utama rumah sakit besar, sedangkan Aruna yang depresi semenjak kepergian Aira, menjadi sembuh karena setelah lima bulan kepergian Aira, atau tepatnya saat Aira dibawa Andi menaiki kapal, Arun merasakan tendangan pertama di perutnya, karena terlalu larut dalam kesedihan ia tak menyadari bahwa dirinya tengah hamil.
Untuk anak yang ada dalam kandungannya, akhirnya Aruna bisa bangkit dan menata hidupnya kembali.
Namun meskipun waktu telah bergulir begitu lama Fatih dan Aruna tak pernah melupakan Aira, mereka masih berharap Airanya hidup dan tumbuh sebaik Airi. Saat hari dimana melihat Anaknya digendong Andi dan meninggalkannya tak pernah Fatih ceritakan pada Aruna dia takut jika istrinya makin terpuruk mengetahui kenyataan itu.
To be continue
Kok belum ada yang ikhlas ngasih vote author sih??? ikhlasin sedikit votenya dong buat Author😄😄