My Fat Girl

My Fat Girl
Target Baru



"Author pov"


"Ai kamu dari mana?" tanya Afanas dingin saat Laika memasuki rumah


"Emmm,,,,,,, Ai jalan jalan me mall pi" jawab Laika gugup


"Harus dengan kabur dari Dimitri?"


"Maaf pi,,,, Ai hanya ingin jalan jalan sendiri"


"Jangan ulangi itu lagi"


"Iya pi"


Kemudian Afanas meninggalkan Laika menuju ruang kerjanya, sesampainya di ruang kerja, Afanas duduk di kursi belakang meja kerjanya, ia membuka laci mejanya kemudian mengeluarkan file di dalamnya.


Afanas membuka file tersebut dan memandangi foto di dalamnya sambil tersenyum sinis


"Tunggulah,,,,,,,, aku akan membunuhmu dengan tangan anakmu sendiri hahahahaha"


tok tok tok tok


Saat sedang asyik tertawa tiba tiba terdengar pintu ruang kerjanya diketuk.


"Masuk" teriak Afanas pada si pengetuk


Perlahan daun pintu ruang kerjanya terbuka, dan menampakkan Laika yang memasuki ruangan.


"Apa papi marah padaku??" tanya Laika takut


Laika masih ingat betul saat masih berada di Rusia, dia pernah melakukan sebuah kesalahan Fatal menurut papinya, tapi sebenarnya dia juga masih bingung mengapa kesalahan itu dianggap kesalahan fatal oleh papinya. Saat itu dia hanya mengambil map yang terjatuh di lantai dan melihat isinya, bahkan ia tak tau apa maksut isinya, itu hanya foto seorang perempuan dan laki laki yang Laika tak kenali, dalam foto tersebut sang laki laki sudah di lubangi bagian wajahnya sehingga tak nampak wajah itu seperti apa.


Namun karena hal itu papinya menjadi murka, Hari itu tanpa ampun papinya memukulinya, berulang kali Laika meminta maaf tapi papinya terus memukulinya bahkan saat itu ia fikir ia akan dibunuh papinya,tapi papinya berhenti saat melihatnya sudah tak berdaya, kemudian meminta maaf pada Laika karena sudah khilaf. Semenjak saat itu Laika sangat berusaha tidak melakukan kesalahan pada papinya.


Laika sangat takut papinya murka kembali dan akan memukulinya seperti dulu, ya semacam perasaan trauma yang tidak hilang sampai sekarang.


"Tentu papi marah,,,, papi sudah katakan padamu, kemana saja kau pergi Dimitri harus mengikutimu"


"Maafkan Ai pi" Mohon Laika lagi pada papinya


"Baiklah papi akan memaafkanmu dengan satu syarat"


"Iya pi apa syaratnya?" ucap Laika dengan mata berbinar


"Habisi orang ini untuk papi" ucap Afanas sambil melemparkan file ke meja ujung


Kemudian Laika memungut file tersebut dan membukanya, ia melihat foto pria dengan wajah yang terlihat familiar baginya, lantas membaca keterangan yang ada di dalamnya


Nama: Fatih al azzam, jabatan: presiden direktur rumah sakit Pelita alamat,,,,,,,, anak,,,,,,,,,Dan masih banya keterangan di dalamnya


"Ok pi ,,,,,, Ai akan melakukan pengintain dulu seperti biasanya"


Afanas hanya tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban pada Laika.


Hari telah berganti esok, hari ini Laika mulai melakukan pengintainnya pada Fatih, hampir semua jadwal kegiatan Fatih ada dalam keterangan file yang diserahkan Afanas.


Jadwal Fatih pagi ini adalah rapat dengan direksi rumah sakit, sejak pagi Laika sudah berada di rumah sakit Pelita, hari ini dia mengenakan celana panjang dan kaos oblong yang di rangkap hoddie warna army, rambutnya selalu ia kuncir tinggi, tak lupa kaca mata hitam bertengger di matanya.


Dia memperhatikan langkah Fatih saat memasuki area rumah sakit, dan dengan hati hati ia ikuti Fatih.


Angan angannya buyar saat tiba tiba ada tangan menyentuh pundaknya, karena kaget ia reflek mencengkram tangan tersebut, dan berbalik lalu menekuk tangan yang menyentuhnya ke belakang tubuh yang tetnyata seorang pria tersebut.


"Aw aw aw kenapa aku tidak tahu kamu punya kekuatan menekuk sih Ri?" ucap Rafael saat merasa tekukan Laika makin menyakitkan "Ri lepasin aku,,,, Ya Allah ini sakit banget lo, kamu kerasukan apa sih jadi kayak cowok gini?" ucap Rafael yang membuat Laika bingung


"Saya bukan Ri dan saya tidak mengenal anda beraninya anda menyentuh saya??"


"Airi jangan becanda sakit,,,,,"ucap Rafael sedikit keras, untung kini mereka sedang ada di lorong rumah sakit yang sepi, jadi mereka tidak mengganggu orang.


Mendengar nama Airi disebut Laika jadi ingat dengan pemuda bernama Alan kemarin, saat pertama kali bertemu Alan juga memanggilnya Airi, jadi semirip apa sebenarnya dirinya dan Airi.


Selesai membayangkan tentang nama Airi,Laika melepas tangan Rafael dengan kasar. Merasakan cengkraman di tangannya lepas Rafael menghembuskan nafas lega, kemudian berbalik memandang Laika yang dia anggap Airi.


"Ri sumpah bercandamu gak asik" ucap Rafael dengan pandangan sebal


"Sudah saya bilang saya bukan Airi" jawab Laika ketus


"Trus kamu mau bilang kamu kembarannya Airi gitu?? gak percaya banget kembaran Airi itu udah lama meninggal ya" setidaknya itu yang diketahui Rafael


Laika yang sudah mulai jengah berdebat dengan pria di depannya , berniat meninggalkan pria crewet ini, pengintaiannya bahkan kacau karena pria ini. Saat Laika mulai melangkahkan kakinya, tiba tiba ada suara yang memanggil namanya.


"Kak Ai" panggil Alan


Laika yang mendengar suara Alan langsung berbalik ke arah sumber suara.


"Alan kamu juga di sini??" tanya Laika heran. Laika tak tahu Alan adalah putra Fatih, karena di keterangan File Laika hanya membaca Fatih memiliki dua anak namun tak ada Foto yang disertakan.


"Iya kak ayah sama kak Airi kerja di sini"


Laika yang mendengar penjelasan Alan jadi faham kenapa pria di sampingnya ini menyebutnya dengan Airi, ternyata Airi bekerja di rumah sakit ini. Sedangkan Rafael makin bingung mendengar Alan memanggil gadis disampingnya Ai.


"Al bukannya ini Airi ngapain kamu panggil kak Ai??ow,,,,, atau kamu panggil nama depannya saja??? tanya Rafael pada Alan


"Kak Rafael ini emang bukan kak Airi, kakak ini namanya Laika dan kakak ini baru datang dari Rusia dua hari yang lalu" jelas Alan pada Rafael, dan Rafael yang mendengarkan itu hanya manggut manggut


"Pantesss kasar banget" ucap Rafael yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Laika


Alan yang melihat itu hanya bisa tertawa geli, dia tau bagaiman kekonyolan dokter Rafael ini.


"Ngomong ngomong kak Ai mau ngapain di rumah sakit?? berobat atau jenguk orang??"


Laika yang gelagapan dengan pertanyaan Alan langsung menjawabnya asal


"Jenguk saudara Al" jawab Laika sekenanya tidak mungkin dia menjawab sedang mengintai orang


"Keburu buru gak??? kalau enggak Alan mau kenalin kak Ai sama bunda, bunda pasti kaget banget liat muka kak Ai yang mirip sama kak Airi"


"Boleh,,,,," jawab Laika singkat


Akhirnya Alan mengajak Laika duduk di kursi panjang pinggir lorong rumah sakit, sedangkan Rafael memilih meninggalkan mereka berdua karena pekerjaannya.


Disisi lain Aruna mulai berjalan ke arah lorong tempat Alan dan Laika berada, dari kejauhan dia bisa melihat Alan sedang duduk dengan seorang gadis, namun wajahnya tak begitu terlihat, Aruna jadi penasaran siapa yang duduk bersama Rafael, gadis itu terlihat mengangkat telepon, saat Aruna semakin mendekat terlihat gadis itu bangkit dan meninggalkan Alan.


To be continue


vote, like , komen ya gezzz