
"Aruna pov"
"Saya terima nikahnya Aruna Zahara binti Rudi dengan,,,,,"
"Hentikan ini Andi kusuma,,,,,,," teriak seseorang yang sudah ku kenali suaranya
Lantas aku dan Andi menengok ke sumber suara, begitupun orang orang di dalam ruangan ini, tapi yang membuatku lebih kaget bukan kehadiran Fatih, melainkan beberapa pria yang berseragam polisi, mereka berdiri diantara Fatih dan sedang mengarahkan senjatanya pada kami atau pada Andi? entahlah,,,,,,,
"Bapak andi kusuma angkat tangan Anda,,,, dan serahkan diri anda tanpa perlawanan!"
Semua orang dalam ruangan terkejut tak terkecuali aku
"Ada apa ini pak?? apa salah saya?" tanya Andi bingung
"Kami membawa surat perintah penangkapan anda,,,,, anda dituduh melakukan pembunuhan, penyekapan, penganiayaan dan pengancaman"
Mendengar hal itu aku membuka mulutku lebar lebar, aku tak percaya Andi melakukan semua itu, kejutan apa lagi ini?
"Apa buktinya saya melakukan itu?"
"Nona silahkan masuk" seorang polisi memerintahkan seseorang yang berada di belakang kerumunan orang orang untuk maju kedepan
Aku semakin kaget ketika melihat seseorang itu adalah Alfia sara beserta ibu paruh baya dan seorang anak kecil.
"ha ha ha ha ha ha ha ha" aku tersentak dengan tawa pria di sampingku, dia tertawa dengan keras dan menakutkan
Belum sempat ku sadari aku sudah ditarik dalam kekuasaannya, jeritan orang di dalam acara ini mengiringi gerakannya, dengan cepat lengan kirinya membelit leherku, sedang tangan kanannyanya meletakkan benda tajam ke leherku.
"Tuan Andi lepaskan nona Aruna" kata salah satu polisi
Dan aku melihat kekhawatiran pada wajah Fatih, mas Doni, dan mas Yoga, mungkin papaku pun begitu, aku tak bisa melihatnya karena posisi papa di belakangku.
"Ha ha ha ha ha ha jika aku tak bisa memiliki Aruna, orang lain tidak akan bisa memilikinya" Kata andi mengerikan sambil makin menekankan pisau ke leherku. Sejujurnya aku sudah merasakan perih tapi semua itu tertutupi dengan rasa takutku sekarang, sepertinya Andi akan benar benar membunuhku.
Ku lihat orang orang di sekitarku juga ikut panik, dan entah sejak kapan air mataku jatuh membasahi pipiku, aku sungguh takut
"Andi lepaskan Aruna" teriak Fatih gusar
"Apa apa?? kau ingin memilikinya??hahahahaha" tanya Andi dengan nada meremehkan "Jangan harap,,,. hari ini kau akan melihatnya mati di depan matamu" ancamnya sambil menyeretku keluar dari lokasi akad nikah
Andi terus menyeretku mundur tanpa melepaskan hunusan pisaunya di leherku
"Andi lepaskan Aruna ,,,,,, om mohon" pinta papaku pada Andi, tapi Andi tak juga bergeming
Dan banyak suara lain yang terus memohon pada Andi untuk melepaskanku, aku tidak berani membuka mata dan terus saja memejam untuk mengurangi rasa takutku ini, saat orang orang masih sibuk memohon tiba tiba
"buuukkkk" cengkraman lengan Andi padaku terlepas, aku segera membuka mataku, ku lihat Andi terkapar di atas tanah, ternyata mas Yoga mengendap endap lalu memukul Andi dari belakang, dan tanpa fikir panjang aku langsung berlari menuju papaku, tapi naas kaki kiriku terjangkau tangan Andi dan seketika aku terhuyung hampir saja tejungkal.
Tapi Andi bangkit dan hendak menyerang kami kembali dengan pisau di tangannya, namun belum sampai ia dapat menjangkau kami
"Doooorrrrrrr"
Seorang polisi melumpuhkan Andi dengan satu tembakan di kaki kirinya, namu tak diduga Andi masih bisa berjalan mendekat ke arah kami, dan ia sempat menggoreskan pisau di lengan kanan Fatih, bersamaan dengan polisi yang kembali menambakkan timah panas ke kaki kanannya, dan
"bruuukkkk"
Akhiirnya dia kembali tersungkur, dan segera para polisi itu mengamankan Andi dan menyeretnya ke mobil polisi, yang diselingi dengan sumpah serapahnya pada kami, ya akhirnya kami bisa bernafas lega, namun aku menjadi panik saat melihat rembesan darah segar keluar dari balik kemeja panjang Fatih.
"Fat tangan kamu,,,,,?"
Fatih segera menoleh ke lengannya dan menenangkan aku
"Tak apa jangan khawatir ,,,,,,,,,"
Tapi aku tak mendengarnya dan segera mengambil obat di dalam rumah, setelah selesai membersihkan dan mengobati luka Fatih kini aku bisa merasa benar benar lega, dan ku dengar papa memberi pengumuman pada tamu tamu, eh apa tamu? baru ku sadari hari ini hanya ada kerabatku pada acara ini, dari pihak Andi tadi hanya ada om Prasetyo dan istri yang juga tampak terkejut melihat kejadian tadi, dan setelahnya mereka juga pergi meninggalkan tempat ini.
"Sebelumnya saya minta maaf,,,,, jika para kerabat harus menyaksikan kejadian seperti tadi, pernikahan ini akan tetap dilanjutkan dengan calon pengantin sesungguhnya setelah ba'da dhuhur, terima kasih perhatiannya"
Kata kata papa ini lagi lagi membuat aku terkejut,dan aku langsung memandang pada papaku menuntut penjelasan, mengetahi itu papa mengulas senyum dan segera menghampiriku
"Maafkan papa tak memberi tahumu, di acara tadi papa membawa penghulu palsu, beliau adalah seorang polisi yang menyamar,,,,,, semua ini kami lakukan demi menjebak Andi agar ia tidak bisa melarikan diri, acara pernikahanmu dan Fatih akan tetap berjalan sesuai jadwal"
"Maksut papa?" tanyaku bingung pada penjelasan papa
"Jadi sebenarnya Fatih sudah menemui papa jauh sebelum Foto itu sampai ke tanganmu, awalnya papa tidak percaya,,,, tapi setelah nak Fia menunjukkan bukti bukti pada papa, papa yakin dan mengikuti rencana mereka, tapi papa juga merahasiakan semua ini dari masmu Doni, jadi saat tau foto kemarin dia kalap menghajar Fatih hahahahaha" papa tertawa renyah dan mas Doni yang dibicarakan nampak menunduk malu,
"Lalu Foto itu?, bagaimana bisa di buat? tentu kamu benar benar seranjang dengan Fia" aku memukuk lengan Fatih yang terluka dengan sebal
"Aw,,,,, aw,,,,,," teriak Fatih kesakitan, dan aku baru menyadari kesalahanku
"Maaf maaf aku lupa" ucapku menyesal
"ha hahahahah hahaha" dan semua orang menertawakanku yang membuat aku menunduk malu, lalu ku dengar suara lembut itu menyapa telingaku
"Aku akan menjelaskan semua padamu Aruna, dan maafkan aku jika membuatmu cemburu, tapi percayalah saat itu Fatih juga di jebak jadi ia melakukannya tanpa sadar"
"Apa jadi dia benar benar melakukannya??"
To be continue
Yang dari kemarin curiga sama Andi,,,, kalian bener deng psikopatnya Andi๐๐