
"Aruna pov"
Duniaku benar benar runtuh dimulai ketika aku menerima kiriman paket itu, rasanya baru kemarin Fatih mengungkapkan cintanya pada, baru kemarin juga kami menjalani hari hari romantis yang membahagiakan, dan baru kemarin juga aku melihat antusiasnya akan persiapan pernikahan kami.
Dimatanya aku benar benar melihat cinta dan ketulusan, tapi kenapa kenyataannya seperti ini? aku masih sangat mencintainya tapi aku juga kecewa, dia masih selalu menghubungiku untuk meminta maaf, tapi tak sekalipun chatnya aku balas.
Papaku membuat keputusan besar setelah mengetahui foto foto Fatih kemarin, ia meminta Andi menggantikan Fatih untuk menikahiku, aku jelas tak setuju tapi aku juga tak bisa menolaknya, karena aku tak hanya membawa kehormatanku tapi juga kehormatan keluarga, dulu aku sudah sempat gagal menikah setelah bertunangan, meskipun kegagalan itu karena sang kuasa telah memanggil kembali calonku, tapi kalau harus mempermalukan papaku lagi aku tak akan bisa.
Jika berfikir pendek aku ingin sekali mengakhiri hidupku, tapi aku pasti membuat papaku semakin malu jika aku benar benar melakukan hal itu. Hari pernikahanku sudah dekat, rumahku sudah semakin ramai dengan sanak saudara yang berkumpul untuk mempersiapkannya, mereka semua bersuka cita tak tahu jika calon suamiku tak sama dengan orang yang melamarku, para kerabatku tahunya aku tetap akan menikah dengan Fatih, sebenarnya itu juga harapanku karena diwaktu yang sesingkat ini jelas aku tak akan bisa melupakannya.
"Run,,,,, ayo keluar,,,, pak ustadz sudah datang,,,, acaranya mau dimulai" suara budeku mengintruksi dari luar kamarku
"Enggih bude" jawabku singkat sambil mengenakam kerudungku, aku juga sudah memoles muka dengan make up simple agar aku tak terlihat pucat, sudah sejak kejadian foto kemarin aku tak bisa tidur nyenyak
Setelah selesai merapikan diri aku keluar kamar, hari ini di rumahku diadakan pengajian untuk mendo'akan kelancaran acara pernikahanku besok, papaku mengundang tetangga sekitar dan anak anak yatim untuk menghadiri pengajian ini, pengajian berjalan khidmat dan penuh haru biru saat aku meminta restu kepada papaku, mungkin rasanya akan membahagiakan jika tak ada semua masalah ini dan aku tetap menikah dengan Fatih, tapi takdir Allah begini adanya dan aku harus ikhlas menerimanya.
Setelah pengajian selesai acara dilanjutkan dengan ritual siraman, aku berganti baju dengan kemben yang diluarnya dipakaiakan roncenan kuncup bunga melati sama seperti bando di rambutku, setelah aku menempati posisiku barulah acara dimulai, papa kembali meneteskan air matanya seperti saat aku mintai restu di pengajian tadi, akupun sama terharunya dengan papa saat beliau pertama kali menyiramkan air kembang setaman pada kepalaku,
Malamnya berganti dengan acara midodareni, prosesi dimualai dari acara jonggolan (nyantari) yaitu pengantin pria menampakkan diri di rumah pengantin perempuan dengan membawa seserahan, dalam acara ini banyak kerabatku yang kaget karena pengantin pria yang datang bukan pria yang datang saat acara lamaran ku kemarin, mereka mulai kasak kusuk di belakang ku, dan aku jelas jelas mendengarnya.
prosesi midodareni dilanjutkan dengan acara tantingan yaitu pengantin pria menunjukkan kemantapan diri untuk berumah tangga kepada calon mertua, dalanjutkan lagi dengan acara catur wedha yaitu wejangan yang disampaikan bapak mempelai wanita untuk mempelai pria, dan diakhiri dengan wilujengan majemukan yaitu penyerahan angsul angsul berupa makanan dan kancing gelung(pakaian) kepada calon mempelai pria dari pihak mempelai wanita.
Akhirnya waktu yang tak ku nanti ini tiba, setelah Andi memposisikan diri di kursi pengantin pria, aku dituntun kakak iparku untuk duduk di samping Andi, setelah aku sudah dalam posisi duduk dan Andi juga siap mengucapkan ijab qobul. kakak iparku memakain kerudung diatas kepalaku dan Andi, setelahnya pak penghulu memulai acara dengan menanyakan kemantapan Andi
"Nak Andi kusuma sudah siapkah anda mengucapkan ijab qobul?" tanya penghulu pada Andi
"Insya Allah siap" jawab Andi pendek
Kemudian pak penghulu beralih bertanya kepada papaku
"Maaf pak mau dinikahkan sendiri atau diwakilkan kepada saya?"
"Saya akan menikahkan anak saya sendiri"
Setelah pak penghulu mendapatkan jawaban dari papaku, acara di mualai dengan khotbah nikah, dan setelah semua dilewati barulah acara inti dimulai, papaku mulai mengulurkan tangan pada Andi dan mengucapkan ijab
"Wahai Andi sanjaya,,,,, aku nikahkan engkau dengan putri saya, Aruna zahara binti Rudi dengan mas kawin emas seberat 20 gram dan seperangkat alat sholat di bayar tunai''
"Saya terima nikahnya Aruna Zaha binti Rudi dengan,,,,,"
To be continue