
"Author pov"
Setelah mobil Fatih menghilang dari pandangannya kemudian Aruna bergegas memasuki rumah,,,,,
ceklek,,,,, Aruna membuka pintu utama rumahnya
"*Assalamualaikum mah Aruna pulang,,,,,,"
" kok sepi banget mama kemana sih*?ini bau apa sih??" Aruna mencium bau aneh di rumahnya, kemudian ia mulai mencari mamanya di kamar tapi beliau tidak ada, ruang keluarga juga nihil.
"ah mungkin mama sedang di dapur , ma,,,,, mama,,,,, mama lagi ngapain sih?" Sambil berjalan menuju dapur
"Aaaaaaaaaaa,,,,,,,,, mama,,,,,,," teriaknya histeris lalu berlari menuju mamanya yang sudah tergeletak bersimbah darah di lantai dapur
"mama,,,, mama,,,, hikz,,,, mama kenapa??? mama,,,,,," Aruna semakin menangis menjerit melihat kondisi mengenaskan mamanya, di dalam kebingungan dan kepanikannya tiba tiba jari tangan mamanya bergerak. Menyadari itu ia langsung mengambil smarthphone dalam tas slempangnya, lalu ia segera mendial nomor Fatih sambil terus menangis dan memanggil manggil nama mamanya
"mama ,,,,, hikz Aruna pasti selamatin mama, mama harus bertahan,,,,,"
Dalam sambungan ke tiga baru Fatih mengangkat teleponnya
"Halo Run,,,, aku masih,,,,,," belum sempat menyelesaikan perkatannya sudah di potong Aruna
"huuuuuu,,,,,, Fat tolong aku Fat cepet kamu ke sini Fat,,," suara Aruna panik
"kamu kenapa?? Kenapa kamu nangis?" tanya Fatih panik
"mama fat mama,,,,, huuuuuu,,,,,, mama penuh darah ada banyak tusukan di tubuhnya tolong aku Fat,,,,, huuuuu"
mendengar perkataan Aruna Fatih langsung memutar balik mobilnya, lantas ia segera menelepon ambulance kliniknya untuk segera menuju rumah Aruna. Selang lima menit Fatih sudah sampai rumah Aruna lagi ia segera masuk dan mencari dimana Aruna dan mamanya
"Run ,,,,, Run,,,, kamu di mana" teriak Fatih mencari Aruna
"aku di dapur Fat cepat kamu kesini huuuuuu,,,," teriak aruna sambil menangis, lantas Fatih segera berlari menuju dapur
"huuuuu Fat lihat mama Fat kenapa mama begini Fat??" adu Aruna ketika Fatih mendekat
tanpa banya bicara Fatih segera memeriksa denyut nadi mama Aruna, denyut nadinya masih dapat dirasakan, kemudian dia segera melakukan pertolongan pertama untuk menghentikan pendarahan mama Aruna setidaknya untuk sementara. Tak berapa lama mobil ambulan datang, para petugas memasuki rumah Aruna dan segera memindahkan mama Aruna ke tandu, kemudian Aruna ikut masuk ke ambulance untuk menemani mamanya, sebelum Fatih ikut masuk ke ambulance ia berpesan ke tetangga untuk menitipkan rumah Aruna, para tetangga sudah si depan rumah Aruna, mereka heboh saat melihat ada ambulance datang ke rumah Aruna.
Saat sudah memasuki ambulan Fatih langsung menyuruh sopir ambulan untuk menuju ke rumah sakit umum, karena klinik yang ia mikiki peralatannya belum cukup lengkap untuk menangani pasien dengan luka tusukan cukup banyak layaknya mama Aruna,sambil menenangkan Aruna Fatih segera menelepon polisi untuk melaporkan kejadian tadi.
lima belas menit ambulan yang membawa mereka sampai di rumah sakit, setelh menurunkan mama Aruna kemudian perawat segera membawanya masuk ke ruang IGD, Aruna menunggu di luar dengar tangis yang tak pernah surut, Fatih mencoba menenangkannya meski itu mustahil, tak berapa lama papa dan kakak kakak Aruna sampai di rumah sakit, mereka semua terlihat sama paniknya dengan Aruna.
"apa yang terjadi sama mama kamu Run,,,,? papa tadi di kabari sama bude Yanti(tetangga sebelah rumah)" tanya papa Aruna
"huuuuuu,,, Aruna gak tau pa,,,, saat Aruna pulang Aruna cari cari mama, taunya mama udah kayak gitu di dapur huuuuuuu,,,,,"
***
Sudah lebih dari satu jam mama Aruna mendapatkan perawatan medis di ruang IGD, namun dokter juga belum nampak akan keluar dari ruangan itu. Tiba tiba terlihat Andi datang menghampiri Aruna dan keluarganya, tapi Andi datang bersama papa dari almarhum Qiya
"Om bagaimana keadaan tante Mita?? maaf tadi Andi sedang sesi terapi dengan om Anwar farizi dari pukul 12 dan tidak tau sama sekali dengan kejadian ini, setelah selesai sesi terapi baru saya lihat berita di tv ada berita tentang tante, dan saat saya mau kesini ternyata pak Anwar kenal dengan keluarga om jadi beliau sekalian ikut" jelas Andi pada papa Aruna
"*iya tidak apa apa nak andi"
"pak Rudi saya ikut prihatin atas apa yang menimpa nyonya Mita" ucap papa Qiya sambil menepuk pundak papa Aruna prihatin
"terima kasih pak Anwar sudah menyempatkan diri untuk kesini"
Tiba tiba pembicaraan mereka terpotong dengan kedatangan tiga orang polisi
"Selamat siang pak,,,, saya Bripka Reyhan benar dengan bapak Rudi sanjaya" sapa salah satu polisi
"*iya betul saya sendiri"
"Baik pak setelah melakukan penyidikan awal di TKP kami menemukan bahwa kejadian ini murni percobaan pembunuhan terhadap istri bapak,,, dari penyidikan kami perkiraan pembunuhan terjadi sekitar pukul 12.05 dan putri bapak menemukan bu Mita sekitar pukul 12.10, pembunuhannya sangat rapi dan terencana, sementara ini kami belum menemukan bukti yang mengarah kepada siapa pelaku pembunuhan, jadi kami akan melakukan penyidikan lebih mendalam lagi, bisa kah pak Rudi dan anak perempuan bapak mengikuti kami sebentar untuk memberikan keterangn??"
"iya pak bisa,,,,, kami akan mengikuti bapak,,, ayo Run,,,,,," ajak pak Rudi pada Aruna
Tapi belum sempat Pak Rudi dan Aruna mengikuti polisi tersebut,,, dokter keluar dari ruang IGD, lantas papa Aruna langsung menghampiri dokter tersebut
"Dok,, bagaimana istri saya.?" tanya papa Aruna khawatir
"*maaf pak,,,,,, kami sudah berusaha,,,, tapi ibu Mita terlalu banyak mengeluarkan darah jadi kami tidak bisa menyelamatkan beliau,,,,, maafkan kami semoga keluargaa diberi keikhlasan"
"tidaaaakkkkkk,,,,,, mama,,,,,," teriak Aruna makin histeris dan kemudian tak sadarkan diri,,,,,,
to be continue
selamat membaca reader jangan lupa like komennya,,,,, votenya juga boleh,,,,,,, 😁😁