
"Author pov"
"ini rasa seperti apa,,,,,
Aku bagai ditusuk ribuan sembilu,,,,,
semakin ingin ku menggenggamnya
semakin jauh pula ia terbang
mungkinkah ini akhirnya,,,,,,,,,,
cintaku harus menyerah
meski telah ku pupuk hingga subur
nyatanya kupu kupu enggan untuk hinggap
aku sendiri yang berdiri di atas harapan kosong
Harapan yang kini menenggelamkanku di jurang luka terdalam"
Fatih
Setelah hampir seminggu penuh meratapi kesedihannya, Fatih mulai bangkit,,,,, dia mulai berfikir bahwa dirinya tak boleh egois,,, hidupnya bukan sekedar tentang Aruna dia memiliki orang tua yang masih harus ia bahagiakan,,, maka dari itu ia harus bangkit dan coba mengikhlaskan Aruna untuk Qiya.
Setelah memantapkan hatinya ia mulai serius lagi mempersiapkan ujiannya,,, dia harus menjadi dokter yang hebat agar bisa membantu banyak orang kelak,,,, ia semakin giat belajar dan itu juga cukup membantunya untuk sedikit melupakan tentang Aruna
Sidang skripsi akhirnya datang dengan keyakinan penuh dan langkah yang mantap ia memasuki ruang penguji, detik demi detik menit demi menit dan jam demi jam telah terlewati akhirnya Fatih keluar dengan senyum puasnya, sekarang tinggal menyiapkan hati dan mentalnya untuk acara lamaran Aruna empat hari lagi,,,,,, Fatih juga sudah mengajukan izin koas di rumah sakit kota asalnya pada kampus, jadi kepulangannya kali ini sekalian membawa semua barang barang yang ada di kosnya,,, mungkin nanti ia akan kembali ke kota ini lagi hanya untuk acara wisuda dan melakukan ujian UKDI,namun sekarang UKDI sudah diganti menjadi ujian serupa yaitu ujian Exit exam, dengan ujian ini dapat memperkecil ketidakpastian nasib para dokter muda, dulu saat UKDI beberapa dokter sulit lolos seleksi, sehingga meskipun memiliki gelar dokter mereka belum bisa mendapatkan STR (surat Tanda registrasi) dan membuka prakteknya sendiri.
***
Kini di rumah Aruna semua orang sedang sibuk mempersiapkan untuk acara lamaran esok, mulai dari dekorasi yang di dominasi warna pink dan krem,,,juga terlihat banyak bunga bunga yang menghiasi ruangan, kursi kursipun sudah di tata rapi berhadapan, persiapan sudah sempurna tinggal menunggu acaranya besok.
Disisi lain sedang ada hati yang semakin gelisah menikmati waktunya yang semakin habis untuk mencintai, karena gadis pujaannya esok akan di pinang sahabat karibnya sendiri, rupanya ia harus benar benar melupakan dan mengikhlaskan Aruna,,,, dan tiba tiba lamunannya buyar karrna mendengar suara teleponnya yang berbunyi, di lihatnya nama si imut yang tak pernah dirubah dari pertama kali di simpan di sana, tanpa sadar sudut bibirnya tertarik senang
"*Halo run,,,,, kenapa calon manten malam malam malah telepon cowok lain"
"Ih kamu tu bukan cowok lain tau"
"iya iya kenapa sih??"
"awas ya besok kamu jangan telat,, ingat acarnya jam sepuluh dan jam delapan kamu harus udah ada di sini, nemenin aku biar aja kamu gak usah nemenin Qiya hihihihi"
"Iya iya bawel banget sih ni manten"
"awas lo pokoknya,,,, yaudah kamu cepet istirahat biar besok gak kesiangan"
"kamu juga cepet istirahat,,, biar besok aura kecantikannya makin keluar eh tapi jangan cantik cantik deng entar aku pengen culik kamu lagi"
"ih apaan sih,,,,yaudah aku tutup ya*" kemudian panggilan sudah dimatikan
"ok Fatih kamu harus kuat menghadapi hari esok,, ingat senyum Aruna adalah kebahagiaanmu" Fatih bermonolog dengan wajah yang sendu
to be continue
Terima kasih banyak buat yang sudah like dan coment di karyaku semoga kalian makin suka dengan kelanjutan cerita kebucinannya mas fatih,,,,,