
"Author pov"
Setelah selesai membuatkan minuman untuk semua laki laki, lantas Aruna mengantar kopi ke kamar papanya kemudian kamar Yoga, dan cangkir terakhir ke kamarnya, teh manis untuk suaminya.
"kenapa rasanya jadi malah canggung sih setelah menikah?"Aruna bermonolog lirih saat berjalan menuju kamarnya
Sesampainya di kamar ternyata Fatih sudah berpakaian rapi, dengan atasan batik dan bawahan celana kain berwarna hitam,,,,
"beuh,,,, gantengnya suamiku Masya Allah,,,,,. udah ganteng,baik, gak ngerokok, gak ngopi pula udah kayak,,,,, kayak apa ya???"Aruna sibuk bertanya pada hatinya sampai tak mendengar panggilan Fatih
"Yank,,,,,," panggil Fatih kesekian saat melihat Aruna melamun
"Eh iya iya Fat"
Mendengar Aruna memanggil namanya, Fatih langsung menatap Aruna tajam, dan Aruna yang menyadari itu langsung gelagapan
"eh emm maksutnya mas,,,,,, ini tehnya" sambil menyodorkan cangkir teh "Kamu kok udah Rapi sih mas?"
"Lah katanya tadi mau acara ngunduh mantu"
"Iya tapi inikan masih pagi,papa aja baru mandi, orang orang juga belum pada datang"
"Gak apa apa lah,,,, sekalian tadi ganti bajunya habis mandi" sambil menyeruput tehnya.
"Ya udah kalau gitu,,,, yuk sekarang sarapan dulu!"
"Yuk,,,,,"
Kemudian mereka berdua keluar dari kamar dan menuju meja makan samping dapur. Ternyata papa dan mas Yoga juga sudah berada di sana, seperti biasa mereka hanya sarapan roti dengan diolesi selai favorit masing masing.
Selesai sarapan Aruna langsung kembali ke kamar untuk berganti baju, dan memoles mukanya untuk acara ngunduh mantu, sedangkan Fatih memilih mengobrol santai bersama mertua dan kakak iparnya.
Sekitar pukul 9 para kerabat dan tetangga, yang ikut menghantarkan Aruna dan Fatih ke acara ngunduh mantu di rumah Fatih sudah berdatangan, mereka membawa sendiri hantaran hantaran yang berupa jajanan, sedangkan dari pihak Aruna sudah dipersiapkan oleh kakak ipar Aruna, mengikuti adat Jawa, dari pihak perempuan juga membawa hantaran berupa jajanan seperti jenang manten yaitu jajanan manis seperti dodol yang terbuat dari campuran tepung ketan, santan kanil, dan juga gula merah yang dimasak hingga mengental, setelah matang jenang akan dimasukan ke wadah yang bernama besek, bawahnya akan dilapisi plastik agar tidak lengket, kemudian atasnya ditaburi wijen, selain itu pihak perempuan juga membawa hantaran berupa bahan bahan pokok seperti beras, gula, minyak dan kopi.
Saat semua penghantar sudah berkumpul, pak Rudi meminta Fatih untuk memanggil Aruna, tanpa bantahan Fatih langsung berjalan menuju kamar untuk memanggil Aruna.
Sesampainya di kamar ia terpesona melihat tampilan cantik sang istri, untuk acara ngunduh mantu ini Aruna mengenakan atas brukat berwarna toska yang tampak menonjolkan lekuk tubuhnya, bawahannya adalah rok batik yang senada dengan batik yang dikenakan Fatih, untuk rambutnya,,, kini Aruna lebih suka mengenakan hijab, agar dia tidak perlu mengatur rambutnya lagi, ya meskipun menurut syariat islam muslimah berhijab tak diperkenankan memakai baju yang ketat, tapi di sini Aruna masih dalam tahap belajar untuk sedikit demi sedikit menutup auratnya.
Kembali ke Fatih yang terpesona melihat kecantikan istrinya, akhirnya dia tak tahan juga gezzzzz,,,,,,,
Tanpa bisa mengendalikan diri lagi, Fatih langsung merengkuh kepala Aruna dan mendaratkan ciuman di bibir menggemaskan Aruna, awalnya hanya ciuman ringan bahkan Aruna tak membalasnya, tapi lama kelamaan ciuman itu menjadi dalam dan penuh tuntutan, Aruna yang menyadari itu lantas berusaha mendorong Fatih, khawatir lipstiknya hilang, tapi untungnya dia memakai lipstik yang matte hari ini, eh tapinya ini gak bermaksut persiapan lo ,,,, cuma pas aja pake yang matte hihihihi.
Tanpa bisa di tahan sebuah lenguhan keluar dari bibir Aruna, sekarang dia tak lagi bisa diam, ciuman Fatih menghanyutkan Aruna hingga dia juga membalas ciuman suaminya itu, saat mereka sudah semakin terbang dan tangan Fatih mulai berbelanja kemana mana tiba tiba
cekrek
"Kalian ngapain sih lama baget?" mas Yoga tiba tiba menerobos pintu kamar Aruna yang tadi lupa dikunci Fatih.
Fatih dan Aruna yang kaget mendengar suara Yoga, seketika melepaskan tautannya dan memandang malu sang pemilik suara
"Eheeemmmm'm" Yoga terbatuk karena sudah memergoki adegan 18+ itu,
"Semua orang sudah berkumpul ayo berangkat" ucap Yoga singkat untuk mengurangi rasa canggungnya dan kemudian berlalu keluar
Sepeninggalan Yoga Aruna langsung memukuli dada suaminya kesal dengan muka memerah
"Mas,,,,,,malu maluin banget sih ihhhhhhh"
"Eh udah,,,,, udah,,,,, dong, kan udah terlanjur maaf deh lupa ngunci pintu"
Aruna memberengut dan meninggalkan Fatih untuk merapikan lipstiknya, setelah penampilannya kembali rapi, akhirnya Aruna dan Fatih keluar kamar, untuk berangkat ke acara ngunduh mantu di rumah Fatih .
Tak menghabiskan waktu setengah jam akhirnya rombongan mempelai beserta pengantar sampai di rumah Fatih, setelah semua turun dari mobil dua pemuda yang masing masing membawa kembar mayang menghampiri Aruna dan Fatih.
Kembar mayang adalah sepasang simbolik, dalam upacara perkawinan adat Jawa yang dirangkai pada gedebog ( Batang semu pisang) biasanya dari jenis pisang raja, di atas gedebok ditancapkan hiasan janur yang dianyam dengan bentuk keris, burung, payung dan belalang. Selain itu disertakan juga daun puring,beringin,kemuning dan juga bunga mayang (bunga bakal buah pinang).
Ragam anyam janur memiliki filosofi tersendiri. Bentuk keris melambangkan perlindungan dan kehati hatian dalam kehidupan, belalang memiliki pesan agar pernikahan lancar tanpa halangan, Payung berarti kedua mempelai bisa saling mengayomi dan melindungi, dan burung yang melambangkan kesetiaan dan kerukunan.
Setelah pemuda pembawa kembar mayang mendampingi sisi kanan Fatih dan sisi kiri Aruna, kemudian mereka semua berjalan menuju halaman rumah Fatih yang sudah di sulap menjadi tempat acara, dengan naungan tenda pengantin. Di sana rombongan sudah disambut oleh orang tua Fatih beserta semua kerabatnya, ritual di awali dengan sambutan orang yang di tuakan di desa, lantas kedua mempelai di beri minum air putih yang sudah di do'akan, kemudian baru diperbolehkan memasuki rumah.
Acara berlanjut dengan sambutan sambutan dari kedua belah pihak, lalu dilanjutkan dengan acara ramah tamah dan diakhiri dengan do'a.
Setelah semua penghantar pulang, akhirnya Aruna dan Fatih bisa istirahat di kamar. Manly adalah kesan pertama Aruna saat memasuki kamar Fatih, dari saat ia berteman dengan Fatih baru kali ini Aruna melihat kamar Fatih. Tembok dicat dengan warna abu tua di bagian bawah dan atas dengan abu muda, tidak banyak pajangan di kamar Fatih, hanya sebuah rak buku yang berisi buku buku tebal dan sebuah meja kursi yang ada di sudut ruangan.
"Yank,,,,, lanjutn yang tadi pagi yuk,,,,,!" ucap Fatih pada Aruna dengan nada memelas
"Iiiihhhhh,,,,, apaan sih mas?"
To be continue
Author cuma minta jangan bosen like, komen dan vote ya reader! biar banyak lagi yang baca novel ini terima kasih🙏🙏