
"Author pov"
Setelah melihat ibu mertuanya berlalu kembali ke kamar, Aruna mulai mencari nama dokter Iman di daftar kontaknya, Aruna langsung mendial nomer itu, namun sudah tiga kali panggilan belum juga ada jawaban dari seberang telepon, namun wajar saja sekarang jam masih menunjukkan pukul dua tiga puluh dini hari, ini masih waktunya orang orang terlelap dalam istirahatnya.
Di panggilan ke lima akhirnya dokter Iman mengangkat panggilan Aruna
"Halo waalaikumsalam mbak Aruna,,,, ada apa??" jawab suara di seberang setelah Aruna mengucapkan salam
"Dok,,,,, ini saya sudah mulai merasakan kontraksi dari jam 11 an tadi"
"Oh iya mbak sekarang intervalnya masih jarang apa sudah sering?"
"Sering dok"
"berapa menit sekali mbak??"
"kayaknya 30an menit sekali dok"
"Ok sekarang mbak Aruna bisa langsung menuju rumah sakit ,,,,, saya akan telponkan bidan jaga,,,, nanti saya juga segera menyusul ke rumah sakit"
"Iya dok terima kasih"
Setelah selesai menelepon dokter Iman, Aruna segera memberitahu ibu mertuanya untuk membantu mempersiapkan barang barang yang akan dibawa.
Sementara itu Aruna sendiri berusaha menelepon Fatih berulang kali, tapi tak satupun panggilannya di jawab, Aruna berfikir mungkin Fatih sedang ada pasien.
Bapak mertua Aruna yang mengetahui Fatih tak dapat di telepon, akhirnya berinisiatif mengantar Aruna sendiri ke rumah sakit. Dan akhirnya Aruna hanya mengirim pesan kepada Fatih agar cepat menyusul ke rumah sakit jika sudah melihat pesannya.
Bapak mertua Aruna sudah memposisikan diri dibalik kemudi mobil, setelah Aruna dan istrinya masuk ke kursi belakang, beliau segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
Sedangkan Fatih masih terbuai di dunia mimpi, entah mengapa malam ini dia merasa tidurnya sangat nyaman, hingga deringan hp yang berulang ulang berbunyipun tak ia dengarkan.
Sekarang Fatih sedang bermimpi berjalan di tempat yang sangat licin dan berulang kali akan jatuh, dia sudah berulang kali mencoba berdiri tapi malah terpeleset, Fatih kaget karena itu, lantas terbangun karena merasa seperti benar benar sedang terpeleset.
Setelah benar benar terbangun Fatih mengusap mukanya sambil berulang kali mengucap istighfar, lantas ia lihat jam ditangan kirinya menunjukkan pukul 4. Kemudian dia mengecek smarthphone yang tergeletak di meja depan sofa ruangannya.
Fatih kaget saat melihat banyak panggilan masuk dari Aruna, dia sudah berfikir bahwa pasti Aruna akan melahirkan, kemudian dia buka pesan Aruna juga, setelah membaca pesan tersebut Fatih langsung bergegas menuju ke rumah sakit.
Fatih sampai di rumah sakit sekitar pukul 4 pagi, ia langsung mencari Aruna di ruang bersalin, sampai di depan ruang bersalin nafasnya terdengar ngosngosan, langsung ia hampiri bapaknya dan bertanya dimana posisi Aruna.
Bukannya langsung diberitahu, Fatih malah terlebih dulu diceramahi panjang kali lebar oleh bapaknya, setelah selesai dengan ceramahnya kemudian bapak Fatih baru memberitahu posisi Aruna. Tanpa mendengar kelanjutan ucapan bapaknya, Fatih langsung berlalu menuju ruang bersalin Aruna.
Pemandangan pertama saat Fatih memasuki ruangan adalah ringisan kesakitan Aruna, tampang keringat membasahi tubuh Aruna, dia terlihat mencengkram tangan ibu mertuanya keras keras. Fatih yang melihat pemandangan itu hatinya mencelos, disaat istrinya dari tadi merasakan kontraksi dia malah tertidur dengan nyaman, pantas kalau bapaknya tadi menceramahinya panjang lebar.
.
Fatih yang tersadar dari lamunan langsung berjalan menghampiri Aruna, ibu yang melihat kedatangan anaknya pun tak kalah sinis dengan suaminya, beliau menata Fatih dengan pandangan jengkel
"Kamu tu,,,, istri mau ngelahirin ditelpon dari tadi malah gak bisa" cerca ibu Fatih
"Iya buk ,,,,, maaf" ucap Fatih menyesal
Kemudian Fatih mengambil alih posisi ibu ya, untuk menemani Aruna
"Yank kamu pasti bisa,,,,," ucap Fatih pada Aruna sambil mengusap peluh di dahi Arun
Aruna hanya menjawab dengan anggukan
"Eeeeeemmmmmmmhhhh,,,,,,,," tiba tiba Aruna kembali meringis karena kontraksinya datang
Fatih mencoba menguatkan dengan mengusap usap punggung bawah Aruna.
Tak berapa lama seorang bidan dan perawat datang di ruangan Aruna
"Iya bu,,,,, silahkan"
Kemudian Bidan tersebut memeriksa pembukaan Aruna,
"Sudah pembukaan sembilan pak,,,, sebentar lagi bayinya akan keluar,,,,," ucap bidan pada Fatih yang berdiri di samping kepala brankar
Kemudian bidan tersebut mengelus elus lembut perut Aruna sambil berucap pelan
"Babby twins yang pintar ya,,,, cepat keluar,,, itu lihat mamanya sudah capek"
Saat Fatih masih fokus memperhatikan bidan, tiba tiba tangannya dicengkram kuat oleh Aruna
"Mas,,,,,, a,,, aku sudah gak ta,,, han ba,,,, yi,,,,, nya mau keluar" ucap Aruna terbata sambil meringis menahan sakit yang amat
Bidan yang melihat hal tersebut segera mempersiapkan posisi Aruna, dengan menekuk kaki Aruna
"Ibu Aruna kalau ibu sudah merasa bayinya menekan mau keluar ibu mengejan sekuat tenaga" Intruksi bidan tersebut
"Eeeeeehhhhhh,,,,,,," ejanan pertama Aruna belum berhasil
"Ayo bu lebih kuat lagi"
Fatih yang melihat kesakitannya Aruna semakin merasa tidak tega
"Ayo sayang,,,,, kamu pasti bisa kurang sedikit lagi" ucap Fatih menyemangati
"Eeeeeehhhhh,,,,,,," ejanan kedua juga masih belum berhasil
"Ibu Aruna bokongnya jangan diangkat biar adeknya cepat keluar" intruksi bidan lagi
Sedang Aruna yang sudah merasakan rasa yang campur aduk, tak begitu bisa mendengar perkataan bidan.keringatnya bahkan sudah semakin banyak membanjiri tubuhnya.
"Sayang kamu pasti bisa yank,,,,,, aku disini bersamamu" ucap Fatih lagi memberi semangat
"Eeeeeeehhhhhhh,,,,,,,,,"
"Oek,,,,, oek,,,,, oek,,,,,,,,"
Akhirnya bayi pertama Aruna keluar dengan selamat, dan dua menit berikutnya bayi kedua menyusul keluar
"Yank,,,,, bayi kita sudah keluar" ucap Fatih pada Aruna, dan Aruna hanya bisa tersenyum lega dengan peluh yang memenuhi tubuhnya.
Tapi bidan masih terlihat sibuk menepuk nepuk dan mengusap bayi kedua, bayi ke dua itu tak mau menangis seperti bayi pertama. Kelegaan yang tadi terlihat di wajah Aruna dan Fatih berubah menjadi wajah panik melihat hal tersebut.
Terlihat seorang perawat menelepon dokter Iman, tak lama dokter Iman masuk ke ruangan bersalin dan segera menangani bayi tersebut, berulang kali dokter menepuk nepuk bayi tersebut, bahkan bayi tersebut dibolak balik layaknya boneka agar bayi tersebut bisa menangis.
Lama dokter Iman melakukan hal tersebut, hingga wajah dokter Iman tampak pias dan pasrah, dokter Iman melihat ke arah Aruna dan Fatih dengan sorot mata perminta maafan.
Aruna yang memahami hal tersebut langsung mengangis meraung raung, sedangkan Fatih yang melihat istrinya seperti itu hanya bisa meneteskan air mata pilu. Perasaannya sungguh sangat sakit, melihat istrinya terpuruk dan kehilangan satu anaknya
"Mas gak mungkin gak mungkin,,,,aaaaaa,,,,,, sayang jangan tinggalin bunda sayang,,,,, bunda mau kamu,,,,,aaaaaa,,,,," tangis pilu Aruna
"Sabar yank,,,,,, kita harus ikhlas,,,,,,," ucap Fatih menenangkan meski dengan kucuran air mata
"Mas aku gak mau,,,,,,, "
To be continue
ππ aku iku nangiissss,,,,. please kasih votenya biar Author gak nangis kayak giniππ