My Fat Girl

My Fat Girl
Kisah masa lalu



"Author pov"


"Kenapa nyengar nyengir seneng habis ketemu mantan??" tegur Aruna saat melihat Fatih senyum senyum gak jelas di dalam mobil saat perjalanan pulang


"Eh kenapa??? cemburu??" goda Fatih sambil tersenyum jail


"Ih,,,,, sorry ya,,,, biasa aja tuh" jawab Aruna sewoot


"Beneran???mukanya bete gitu"


"Tau ah,,,,,," tak mau memandang Fatih dan mengalihkan pandangan keluar jendela


Fatih yang melihat reaksi Aruna hanya tersenyum, dia bahagia melihat gadis yang selama ini disukainya sedang cemburu,


"Kamu imut banget lo kalau lagi ngambek begini" goda Fatih lagi tapi yang digoda tak sedikitpun bergeming


"Jangan ngambek dong aku tu senyum senyum bukan karena seneng ketemu Fia" ada jeda sebentar


"Aku tu senyum senyum karena ingat masa lalu, sebenarnya aku sama Fia tu gak pernah jadian dulu,,,,, dia hanya membantuku"


Aruna yang mendengar penjelasan Fatih jadi merasa bingung, lantas ia menoleh dan memandang Fatih heran, sedangkan Fatih yang mengerti akan maksud tatapan Aruna langsung menjelaskan


"Iya dia hanya membantuku,,,, waktu itu dia mau pura pura jadi pacar aku, karena dia tau kalau aku suka sama kamu, jujur dulu meskipun kamu sudah jadian sama Qiya, aku masih gak rela kalau Qiya sampai sentuh sentuh kamu, apalagi kalau dia sampai,,,,,," Fatih memonyong monyongkan bibirnya


Aruna yang bingung dengan sikap Fatih menaikkan sebelah alisnya "sampai,,,,,???"


Dan Fatih yang jengkel dengan ketidak pahaman Aruna langsung berkata dengan jelas "Sampai dia cium kamu atau grayang grayangi kamu lah, aku kan tau banget gimana gaya pacaran Qiya dulu, makannya aku selalu usahain double date biar aku bisa mengawasi kalian"


Aruna terkejut sekaligus melongo dengan perkataan Fatih, lalu ia jadi ikut membayangkan masa lalu


"Pantas dulu tiap kita double date aku selalu gagal ciuman sama Qiya" kata Aruna ketika ia menyadari tentang masa lalunya


"Heheheheheheh,,,," sambil garuk garuk kepalanya yang tidak gatal


Karena asiknya membicarakan masa lalu, mereka sampai tak sadar kalau sudah berada di depan rumah aruna, Fatih segera melihat jam di pergelangan tangan kirinya, lalu ia menghembuskan nafas lega


"Aman masih pukul 20.57,,,,, ayo cepat turun! pasti om Rudi udah nungguin"


Kemudian Fatih turun, lalu membukakan pintu untuk Aruna dan mengantarkan iya masuk, tapi belum sempat mengetuk,,, pintu sudah di buka dari dalam, dan muncullah papa Aruna


"2 menit lagi gak sampai,,, om pasti akan membatalkan pertunangan kamu" ucap papa Aruna saat berhadapan dengan Fatih dan Aruna


"he he he he masih aman kan tapi om??ini om Fatih bawain martabak" tersenyum sambil menyerahkan kotak yang dibungkus kantong plastik putih


"Terima kasih,,,, sekarang kamu boleh pulang" ucap papa Aruna galak


Aruna yang mendengar itu hanya cekikikan tanpa suara di belakang papanya, sedangkan Fatih hanya bisa tersenyum kecut,,,,,,


"Iya om,,,, Fatih pamit dulu,,, Assalamualaikum"


"wa'alaikum salam"


***


Saat di perjalanan pulang dari rumah Aruna, Fatih menyetir dengan sedikit rasa capek namun hatinya juga bahagia, ia masih membayangkan ekspresi kecemburuan Aruna tadi,,,, rasanya sungguh lucu dan menggemaskan,,, Fatih jadi senyum senyum sendiri dan tidak begitu fokus menyetir mobil, dan tiba,,,,, tiba,,,,,


sreerrrttttt,,,,,,, Fatih membanting setir ke kiri, dan bruuukkk,,,,,, mobil Fatih menghantam tepian trotoar, dia melihat ada orang yang tiba tiba menyebrang jalan. Saat mobil sudah berhenti Fatih segera keluar dari mobil, karena keadaan malam ini sudah lumayan sepi ia kemudian segera melihat orang yang ia hampir tabrak, dan ternyata orang itu sempat sedikit terserempet mobilnya, sehingga membuat kaki orang tersebut terluka


"Mbak,,,, mbak terluka,,,, mari saya antarkan ke rumah sakit" ucap Fatih panik melihat orang yang ia serempet menunduk sambil mengipasi luka di kakinya dengan tangan


"Ah gak apa apa mas cuma luka sedikit,,,, maaf tadi saya buru buru pas nyebrang gak lihat mas lewat" ucap wanita tersebut sambil mendongakkan kepalanya


"Fatih,,,, " "Fia..." ucap Fatih dan Alfia bersamaan


"Ya Allah Fi ternyata kamu,,,, ayo kita ke klinik aku aja ya,,,, biar aku obatin,,, di mobil aku hanya ada obat seadanya,,,,, luka kamu lumayan lo!"


"Gak usah Fat,,,, antar aja aku pulang,,,, ! di obati di rumah aja"


"Jangan gitu dong"


"Beneran gak apa apa,,,, tolong bantu aku berdiri" pinta Alfia pada Fatih lalu Fatih membantunya berdiri dan mulai membantu Alfia berjalan


"Aw,,,, Aw,,,, Aw,,,," rintih Alfia karena merasakan sakit pada kakinya


"Tuh kan sakit,,,, ayo ke klinikku dulu,,, nanti aku bersihkan lukamu lalu kamu bisa ku beri obat anti nyeri"


Alfia hanya nyengir kesakitan sambil menganggukkan kepala menyetujui ide Fatih. Karena melihat Fia begitu kesakitan Fatih jadi tak tega,,,,,, ia kemudian berinisiatif membopong Fia ke dalam mobilnya, setelah memasukkan Fia ke mobil, Fatih segera melajukan mobilnya ke Arah kliniknya.


Sesampainya di klinik ia segera mengobati luka Fia , lalu memberinya obat Anti nyeri, setelah semua sudah selesai akhirnya Fatih mengantarkan Fia pulang ke rumahnya, sesampainya di rumah Fia menolak dibopong, ia meminta Fatih hanya memapahnya saja masuk rumah.


Sampai di dalam rumah Fatih memperhatikan kesana kemari, dia merasa rumah Fia terlalu sepi


"Fi kamu tinggal sama siapa kok kayak sepi rumahmu,,,,,??" tanya Fatih heran


"Ah iya,,,, ayah aku sudah lama meninggal, kalau ibuku ikut mbak aku yang di Ke****, jadi aku di rumah sendirian"


"Oh maaf aku turut berduka untuk ayahmu, terus bagaimana kamu besok beraktifitas?? kaki kamu kan masih sakit" tanya Fatih khawatir


"Tenang aja,,,, kalau makan kan aku bisa pesan online, baju bisa laundry" jelas Alfia santai


"Ya udah besok pagi aku bakal kesini nganterin makanan buat kamu"


Fia yang mendengar perkataan Fatih merasa tak setuju dan mulai membuka mulutnya untuk membantah, tapi sudah keburu dipotong Fatih


"Eits,,,,, gak ada bantahan ,,,, hitung hitung ini adalah tanggung jawabku karena menyerempet kamu"


Alfia berfikir sejenak ,,,,, iya merasa tak enak, tapi dia juga berfikir siapa yang akan membantunya esok, akhirnya iya hanya bisa mengangguk menyetujui ide Fatih,,,,


To be continue


Hubungan tanpa konflik itu bagaikan sayur tanpa garam,,,,, karena gak ada ujian cintanya,,,,😁😁 jadi gak tau sebesar apa cinta kita ke pasangan atau sebaliknya, Jadi lagi author mau mohon maap ya,,,, sementara Aruna sama Fatih kita uji dulu,,, next part kita Ujian😁😁 happy reading reader,,,,,,