
"Author pov"
Hari hari tak lagi berjalan normal sejak saat itu, Fatih dan Aruna sama sama memendam rasa dan merasakan sakit,,,, ya,,,,, Aruna tidak akan munafik meski baginya cinta tak harus memiliki,,,, tetap saja ia merasakan sakit saat melihat Qiya bermesraan dengan pacarnya, begitupun Fatih ia akan merasa sedih saat Aruna sedih atas tingkah Qiya itu, namun ia selalu menjadi pendengar curhatan Aruna yang baik,,,,, berulang kali ia menyarankan Aruna untuk melupakan Qiya, namun setelah berjalan lebih dari satu setengah tahunpun Aruna tetap saja begitu,,,,,sedang ia sendiri tak berani mengungkapkan perasaannya pada Aruna,,, karena takut jika setelah Aruna tau perasaanny dia akan menjauhinya,,,
Namun di sisi lain mereka tidak tahu bahwa sebenarnya,,,,, Qiya juga memiliki rasa yang sama pada Aruna, hanya saja dia gengsi untuk mengakui perasaan itu, dan malah melampiaskan rasanya dengan gonta ganti pacar, tapi kegengsiaannya seketika berubah saat ia sedang bersama kekasihnya, dan melihat Fatih lari terburu buru melewatiny, ia bahkan tak menyadari kalau tadi ada Aruna yang melihatnya berciuman dengan kekasihnya di belakang kelas,,,,, karena sangat penasaran, ia mengikuti langkah Fatih yang berlari menuju belakang gudang sekolah, dan alangkah terkejutnya saat ia melihat Aruna sedang menangis sendirian di sana, tiba tiba ada rasa nyeri di dada Qiya, ia melihat Fatih menarik Aruna ke dalam pelukannya, ada rasa tak rela saat Aruna berada dalam pelukan pria lain meskipun itu sahabatnya sendiri, Fatih terlihat menenangkan Aruna dan Qiya tak bisa mendengar pembicaraan mereka karena jarak yang jauh.
Menyadari tak lagi bisa menahan perasaannya, sepulang dari sekolah Qiya mengajak Fatih untk pulang bersama dan mampir ke rumahnya, ia ingin tahu apa yang buat Aruna menangis sedih
" Sepi banget rumah lo bro pada kemana orang orang?" tanya Fatih sambil berjalan menuju sofa ruang tengah, ia sudah terbiasa di sini karena Qiya adalah sahabat karibnya semenjak SMP
"Biasa bokap nyokap lagi jenguk kakak di Singapur" sambil duduk di samping Fatih
"Ow,,,,,,,"
"By the way lo mau minum apa?? biar mbak Asri buatin lo"
"syrup jeruk aja " sambil mulai mengangkat stick PS
"Ok,,,," kemudian Qiya segera memanggil mbak Asri
"mbaaaaakkk,,,,, buatin Fatih syrup jeruk yang dingin ya!"
"Iya den,," tak berapa lama syrup mereka datang dan Qiya memulai pembicaraannya
"Fat sorry gue tadi liat lo sama Aruna di belakang gudang sekolah,, kenapa Aruna nangis?? terlihat ekspresi penuh tanya di wajah Qiya,,, Fatih yang kaget atas pertanyaan Qiya langsung menoleh dan fokus memandang Qiya
" Gue suka sama Aruna" dada Fatih bergemuruh mendengar pengakuan Qiya. Tak bisa mengendalikan diri tanpa sadar Fatih langsung menarik kerah seragam Qiya
"APA MAKSUD LO?" teriak Fatih pada Qiya
sama sekali tak ada rasa takut dalam hati Qiya,,,,,ia mengulangi kata katanya tadi "GUE SUKA SAMA ARUNA" Qiya makin menekan kan kata katanya
" ha ha ha ha ha" tawa Fatih sinis " apa gue harus mempercayai kata kata lo? bukankah selama ini lo gonta ganti pacar?? dan bisa bisanya sekarang lo bilang kalau lo suka Aruna" sambil tersenyum mengejek dan melepaskan cengkraman tangannya
"*Kenapa lo marah lo suka juga sama Aruna??" tanya Qiya heran atas kemarahan Fatih
"bu,,,,,,bukan seperti itu, gue hanya gak mau dia terluka,,,,gue sayang dia sebagai sahabat dan tak lebih, Aruna itu cewek baik,,,,, lagi pula lo juga punya pacar" hati fatih mencicit ketika mengucapkannya
"Sebenarnya gue suka Aruna sudah lama, tapi gue terlalu pengecut untuk ngungkapin ke dia, gue terlalu takut gak bisa ngebahagiain dia, karena lo tau gimana postur tubuhnya" Fatih langsung menatap Qiya tajam
"Jangan salah paham gue gak mempermasalahkan itu,,,, gue hanya takut dia akan di bully orang orang jika kami jadian, lo tau sendiri gue banyak mantan, dan mantan mantan gue kebanyakan bodynya body goals, mereka pasti bakal ngehina Aruna, gue gak akan tega kalau lihat dia nangis"
"Kalau lo benar benar menyukainya, seharusnya lo siap ngelindungin dia dari hal semacam itu, dan ya gue gak mau lo jadiin aruna kayak mantan mantan lo yang cuma lo buat sebagai pelampiasan nafsu lo doang,, aruna itu cewek baik lagi pula inget lo masih punya pacar sekarang"
"Gue akan putusin pacar gue*" jawab Qiya enteng yang malah buat hati Fatih makin bergemuruh,,,,,,
to be continue
Author ikut sedih deh ngebayangin kalau jadi mas Fatih,,,,,gimana ya kira kira mas Fatihnya berani ngungkapin perasaannya sama Aruna atau malah merelakan aruna sama Qiya,,,,,, tunggu episode berikutnya,,,,,,,😁😁