
"Author pov'
Kebahagiaan Fatih tak lagi bisa diungkapkan dengan kata kata kala dia mengetahui Aruna mengandung 2 janin dalam perutnya. Fatih tentu sudah belajar dari kesalahan kemarin, sekarang dia lebih banyak berpuasa menahan nafsu,,,,,, walaupun kini dia harus sering kali menyalurkannya di kamar mandi,,,,,
Tapi tenang di trisemester 3 Iman sudah memperbolehkan Fatih sering berbuka puasa, karena hal itu juga bisa memperlancar proses kelahiran.
Jika di trisemester pertama Aruna selalu lemas,muntah dan tak bisa mencium bau bauan. Di trimester dua Fatih bisa bernafas lega, selain dia sudah dapat memakan segala makanan, dia juga tak lagi muntah jika mencium parfum Fatih, dengan begitu Fatih selalu bisa dekat dekat dengannya.
Memasuki akhir trisemester ke dua, ibu Fatih sudah mempersiapan acara tingkepan/ 7 bulanan untuk Aruna, ibu memilih mengadakan tingkepan di akhir bulan ke enam kehamilan Aruna.
Dikarenakan kepercayaan di daerah mereka, jika tradisi ini terlewati di masa kehamilan pertama, maka di kehamilan berikutnya harus tetap mengadakan acara tingkepan ini.
Maksutnya terlewati disini adalah ketika kita belum mengadakan tingkepan, tapi bayi keburu lahir karena kelahiran prematur. Maka di setiap kehamilan berikutnya harus selalu mengadakan tingkepan.
Pengertian tingkepan sendiri adalah tradisi selamatan bagi ibu yang kehamilannya memasuki tujuh bulan, untuk memohon kelancaran dan keselamatan pada saat proses melahirkan. Dalam acara tingkepan ini ada beberapa rangkaian ritual dan berkat yang harus disiapkan.
Berkat adalah nasi yang ditaruh dalam wadah takir yang di dalamnya sudah dilengkapi dengan berbagai lauk, berkat ini sendiri isinya berbeda sesuai dengan acara selamatannya.
Dalam acara tingkepan,,,,, berkat berisi nasi dengan lauk pelengkap seperti potongan ingkung ayam jawa, Urap, sambal goreng, serundeng, iwel iwel, dan juga kumpulan jajanan pasar yang disebut keleman.
***
Acara tingkepan yang telah dipersiapkan ibu Fatih akhirnya diadakan hari ini, acara dimulai dengan upacara sungkeman. Aruna dan Fatih duduk bersimpu di depan orang tua Fatih untuk meminta do'a dan restu agar selamat saat melahirkan.
Acara kedua adalah siraman, dalam acara ini Aruna dimandikan dengan air kembang setaman dengan mengenakan kain basahan berupa jarik dan rangkaian bunga melati yang menutupi pundaknya, tujuh orang yang terpilih mulai menyiramkan air kembang setaman ke tubuh Aruna, menggunakan gayung yang terbuat dari batok kelapa .
Setelah acara siraman usai, acara dilanjutkan dengan Fatih yang mengambil dua kelapa (cengkir) sebagai simbol cikal bakal bayi, dua cengkir tersebut sebelumnya sudah dilukis dengan gambar wayang, cengkir satu di lukis dengan gambar Dewi Kamaratih yang melambangkan bayi perempuan yang cantik jelita, sedangkan cengkir yang satunya dilukis dengan gambar Dewa kamajaya yang melambangkan bayi laki laki yang rupawan.
Kemudian Fatih meluncurkan dua buah cengkir tersebut melewati kain basahan yang dipakai Aruna, setelahnya cengkir tersebut dibelah sebagai simbol untuk membuka jalan lahir.
Acara dilanjutkan dengan prosesi pantes pantesan, yaitu Aruna diminta berganti baju sebanyak tujuh kali, baju enam yang dipakai bergantian oleh Aruna ditanggapi dengan jawaban tidak pantas oleh para undangan, barulah baju ke tujuh yang dipakai Aruna ditanggapi para undangan dengan kata pantas.
Setelah mengenakan baju yang pantas Aruna dan Fatih melewati ritual dodolan rujak dan dawet, tamu undangan yang diberikan rujak atau dawet oleh Aruna mengganti dawet tersebut dengan uang seikhlasnya, dan acara diakhiri dengan pembagian berkat.
Setelah melewati acara tersebut, barulah Aruna dan Fatih boleh mempersiapkan pernak pernik bayi mereka, mereka berdua antusias mempersiapkan segala keperluan bayi mereka.
Semua perlengkapan bayi yang Aruna pilih bernuansa pink, ya,,,,, itu semua dipilih karena saat USG kehamilannya di trisemester ke dua, Fatih dan Aruna mengetahui jenis kelamin bayi kembar mereka adalah perempuan.
Jadi lah mereka sangat antusias memilih perlengkapan dengan warna, bentuk dan ukuran yang sama. Semuanya mereka beli dalam jumlah dobel.
Tak terasa kehamilan Aruna sudah mumasuki usia 9 bulan, kini tinggal menunggu HPL saja, setiap hari Fatih selalu berusaha menjadi suami yang siaga, saat bekerja dia juga tak bisa jauh sedikitpun dari smarthphonenya, itu agar jika sewaktu waktu Aruna menghubunginya dia bisa langsung tau.
Seperti yang Fatih lakukan sekarang, karena malam ini dia bertugas sift malbam, dia merasa tak tenang dan bolak balik melihat ke layar smarthphonenya tapi tak ada tanda tanda sesikitpun dari Aruna. Namun sebenarnya saat ini Aruna mulai merasakan kontraksi kecil pada perutnya, tapi ia tak lantas menelepon Fatih karena dia masih sanggup menahannya, karena dari yang ia pelajari jika waktu melahirkan sudah dekat, intensitas kontraksi pada perutnya akan semakin sering, dan sekarang ini Aruna belum merasakan sesering itu.
Keadaan Aruna saat ini masih cukup baik, kontraksinya juga masih dirasa jauh jauh,namun semakin bertambah jam intervalnya semakin pendek, jika tadi sekitar satu jaman lebih sekarang sudah setengah jam sekali ia merasakan kontraksi, karena ini pengalaman pertamanya tentu normal jika Aruna merasa ketakutan.
Dilihatnya jam menunjukan pukul dua dini hari, semalaman dia sudah tidak bisa tidur, akhirnya saat kontraksinya menghilang Aruna mencoba untuk memanggil ibu mertuanya untuk menemaninya.
tok tok tok tok ketuk Aruna di depan kamar mertuanya sambil memanggil manggil
"Buk,,,, Pak,,,,,,"
Ketukan dan panggilannya di ulang sampai tiga kali, baru pintu itu terbuka dari dalam
"Ada apa nduk??? kamu mau melahirkan" tanya ibu mertuanya panik meski dengan muka bantal
"Kayaknya enggih buk,,, kontraksi,,,,," belum selesai Aruna bicara kontraksinya sudah datang lagi
"aww,,,,, aww,,,,,,," rintih Aruna sambil memegangi perutnya
Ibu mertuanya langsung sigap mendudukkan Aruna di kursi
"Tenang nduk,,,,, ambil nafas pelan pelan lewat hidung lepaskan lewat mulut" intruksi mertua Aruna dengan sabar "Kamu tadi sudah telepon Fatih?"
"Belum buk,,,,,"jawab Aruna saat kontraksunya sudah mulai menghilang lagi
"Biar ibu telepon dulu Fatih"
"Jangan dulu buk kontraksinya masih panjang panjang, takut mas Fatih panik,,,,, aku telepon dokter Iman aja biar dipersiapkan"
"Gak apa apa gak telpon Fatih"
"Gak apa apa buk,,, yang penting ibu temenin aku"
"Ibu pasti temenin kamu biar ibu bangunkan bapakmu dulu" lantas ibu beranjak ke kamar lagi untuk membangunkan bapak mertua Aruna
"Enggih buk,,,,,,, nanti kalau kontraksinya sudah makin sering aku telpon mas Fatih" ucap Aruna saat ibu mertuanya mulai berjalan menuju kamar
"Ya udah kalau gitu"
To be continue
Terus dukung aku ya reader like, coment dan vote, terima kasih,,,,,🙏🙏