
"Aruna pov"
Aku amat bersyukur Tuhan mempertemukan aku dengan teman sebaik Fatih,dia tak pernah mempermasalahkan postur tubuhku, hanya aku saja yang malah tidak menghargai dia, aku mengajukan syarat pertemanan kami harus di rahasiakan, aku tau aku sangat egois padanya,,,,, tapi bagaimana aku memang terlalu pengecut, jika di dalam kelas kami seperti tidak saling kenal namun beda ketika kami di belakang gudang sekolah atau saat kami di luar sekolahan seperti saat ini, Kami tengah sibuk memilih milih buku referensi untuk mengerjakan tugas sekolah saat tiba tiba ada suara yang mengagetkan kami,,,, lalu aku menoleh ke sumber suara itu, seketika aq gugup mengetahui siapa yang berdiri dihadapan kami sekarang,,,,,, dia lah Qiya cowok yang amat aku sukai dan entah kenapa aku benci dengan diriku sekarang karena saking gugupnya aku memanggil dia "eh ma,,,,,, mas Qiya" aku malu sekali dia terkejut lalu tertawa mendengar ku memanggilnya seperti itu, ,ku tundukan kepala dan sesekali melihat tawanya yg menggelegar oh,,,,, sungguh aku tak mau berpaling dari nya selain wajahnya yang memukau, ternyata ia juga pribadi yang baik seperti halnya Fatih, Qiya juga menerima aku tanpa melihat fisikku, oh senangnya masih dikelilingi orang orang baik.
Setelah tawa Qiya reda kami bersama sama memilih buku, setelah selesai kemudian kami nongkrong di kafe tempat Fatih menungguku tadi, selain pribadi yang baik ternyata Qiya juga teman ngobrol yang asik,,,, kami berdua ngobrol banyak tentang masa SMP nya dengan Fatih, sampai aku melupakan kalau ada Fatih juga bersama kami tadi,,,, "maafkan aku fatih jarang ada kesempatan aku bisa ngobrol sedekat ini dengan Qiya" batinku dalam hati, hingga dering telepon Qiya mengganggu obrolan kami, ia lantas mengangkat telepon menjauhi aku dan Fatih, saat ia kembali ia berpamitan untuk meninggalkan kami duluan, tentu aku sedikit kecewa tapi apa hakku menahannya, rasanya aku masih belum puas menghabiskan waktu dengannya, tapi perlakuan dia berikutnya,,,,,, membuat hatiku melayang ke langit ke tujuh, dan mungkin sekarang pipiku sudah semerah tomat,,,,, dia Qiya cowok yang aku sukai mencium tanganku, sepertinya tanganku tak akan ku cuci selama seminggu,,,,hihihihi ,kini setelah ia berlalupun aku masih merasakan hangat bibirnya yang menempel di tanganku, bahkan sekarang aku masih tersenyum senyum sendiri mengingatnya sampai Fatih menyadarkan aku
"Kamu suka Qiya?"
"Apa begitu terlihat??" jawabku atas pertanyaan Fatih, sepertinya wajahku tak lagi bisa menyembunyikan perasaanku, tapi ku lihat wajah Fatih berubah saat mendengarkan jawabanku "apa aku salah??kenapa kau seperti tak suka?"
"Ti,,,,tidak bukan itu maksutku, kau tahu meskipun aku sahabat Qiya aku tau dia sering gonta ganti pacar, aku takut kalau kau akan kecewa"
"ah,,,, tenanglah,,,, sepertinya tak mungkin juga Qiya suka padaku, seperti halnya dia suka pada lawan jenis, kau kan tau sepeti apa badanku ini aku cukup tau diri" aku jadi sedih saat mengingat aku memiliki tubuh besar ini, tentu Qiya akan malu jika bersamaku
"KAU BICARA APA?" tiba tiba Fatih membentak ku
"Kau cantik jangan berbicara seperti itu lagi" aku tersenyum kecut mendengar perkataan Fatih, aku tau dia hanya menghiburku
"Sudahlah jangan bicarakan itu lagi,,,,ini sudah sore aku pulang duluan ya" setelahnya aku beranjak pergi meninggalkan Fatih sambil memikirkan perasaanku, biarlah aku tetap menyimpan perasaanku pada Qiya, walaupun mungkin perasaanku tak akan pernah terbalas, tapi setidaknya aku sudah cukup bahagia atas perlakuan dia pada ku hari ini.
Karena bagiku cinta tak harus memiliki
Melihat senyummu saja telah mengobati dahaga cintaku
Qiya,,,, namamu akan selalu ada di hatiku
Meski ragamu mungkin tak akan pernah bisa ku gapai
Aku akan selalu menjadi matahari di pagimu dan menjadi bulan di malam malammu,,,,,,
*Aruna zahara*
to be continue
Sementara di sisi lain ada yang menangis dan menyesal mengetahui perasaan Aruna,,,,,, ma mas Fatih patah hatinya,,,,,,,,gezzz