
"Author pov"
"Al kak Ai mau belajar tentang agamamu" ucap Laika pada Alan.
Alan yang mendengar penuturan Laika menaikkan satu alisnya "Ini bukan karena kak Ai kenal sama aku kan?? aku gak mau kak Ai mengambil keputusan karena orang lain, masuk dalam satu agama atau kepercayaan harus dari sini" Alan menunjuk ke arah dadanya
"Aku tau Al,,,, dan ini bukan semata karena kamu,,,,, meskipun sebagian juga karena kamu, tapi alasan utamanya hatiku benar benar tersentuh saat mendengarkan suara adzan tadi. Kamu tau selama ini aku tak pernah merasakan ketenangan batin seperti tadi saat aku mendengarkan suara adzan. kamu mau kan mengajari kakak tentang agamamu?"
"Alhamdulullah,,,,, dengan senang hati kak,,, aku akan membawa kakak pada orang yang tepat, orang yang pengetahuan agamanya lebih luas daripada aku kak"
Seminggu kepergian Afanas bukan hanya Laika pergunakan untuk mengintai Fatih, ia juga mempergunakan seminggu itu untuk benar benar mempelajari tentang islam.
Alan memperkenalkan Laika kepada ustadzah Aisyah, beliau adalah ustadzah muda yang luas wawasannya, cara menyampaikan kajiannya juga dengan gaya anak muda namun masih dalam batas syari'ah, hal itu tentu sangat mempermudah diterima oleh Laika.
Selama ini hati Laika yang tandus, gelisah tanpa arah dan tak ada sedikitpun ketenangan, kini setelah mempelajari tentang islam Laika merasakan ketenangan batin.
Tempo hari dia juga sempat bertanya kepada ustadzah Aisyah tentang hukum membunuh orang, tentu Laika harus menanyakan hal itu, dia sudah beberapa kali melakukan itu. Sampai sekarang dia masih ingat jelas penjelasan ustadzah Aisyah
"Baiklah mbak Laika membunuh dalam pandangan islam sangat tidak diperbolehkan seperti yang dikatakan dalam al-Qur'an (QS: Al-Maidah:32)
Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan akan dia telah membunuh manusia seluruhnya
Ayat ini adalah salah satu contoh kecaman Islam atas setiap pembunuhan yang dilakukan dengan semena- mena, kelak pelaku pembunuhan akan mendapat balasan berupa neraka jahanam, itu disebutkan dalam (QS an-Niss [4]: 93) yang artinya
Dan barang siapa membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya jahanam, dia kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya dan mengutuknya serta menyediakan azab yang besar baginya
Namun ada juga pembunuhan yang diperbolehkan dalam islam dengan beberapa syarat dan aturan, contoh pembunuhan yang diperbolehkan yaitu seperti saat membunuh dalam peperangan dan membunuh ketika menghukum pelaku kriminal, seperti layaknya polisi melakukan hukuman tembak kepada pengedar narkoba" jelas ustadzah Aisyah panjang lebar
"Berarti seorang pembunuh tidak akan pernah mendapat ampunan ustadzah??" tanya Laika dengan muka muram, karena dirinya sadar telah melakukan dosa itu berulang kali
"Kalau soal itu beberapa ulama berbeda pendapat mbak, ada ulama yang mengatakan karena membunuh adalah termasuk dosa besar, maka seorang pembunuh tidak akan mendapat ampunan. Namun ulama lain mengatakan seorang pembunuh masih bisa mendapatkan pengampunan dengan taubatan nasuha, yaitu taubat yang semurni murninya mbak,,,,, wallahu a'lam ,dan jangan tinggalkan lima amalan yang bisa menghapus dosa besar, amalan tersebut antara lain berbuat baik, melakukan salat lima waktu dengan khusyuk dan tepat waktu, dzikir, melakukan puasa dan salat taubat. Allah itu maha pengampun mbak,,,, jadi jangan khawatir"
"Terima kasih penjelasannya ustadzah"
Semenjak itu ingin rasanya Laika melakukan taubat nasuha itu, tapi dia belum memeluk agama Islam, karena untuk memutuskan hal itu masih banyak pertimbangan yang harus ia fikirkan, terutama tentang reaksi papinya jika tahu nanti. Laika masih takut membayangkan jika papinyanya memukulnya seperti dulu.
Seminggu telah berlalu kini Afanas sudah duduk santai di ruang kerjanya, menunggu laporan Laika tentang pengintaiannya pada Fatih
"tok tok tok tok" suara pintu ruang kerja Afanas
"Masuk" ucap Afanas
Kemudian Laika membuka pintu dan masuk menghadapi Afanas.
"Lumayan,,,,, bagaimana pengintaianmu Ai???"
Bahkan papinya sama sekali tak menanyakan kabarnya, yang papinya khawatirkan hanya tentang pengintiannya pada Fatih.
"Aku sudah tau beberapa kebiasaannya di luar pi" jawab Laika dengan wajah kecewanya
"Jadi kapan kamu akan mengeksekusinya Ai??" tanya Afanas lagi
Itu pertanyaan Afanas yang jelas membuat Laika bimbang, Laika sudah bertekat tak ingin lagi membunuh orang setelah mendengar penjelasan ustazdah Aisya kemarin. Tapi Laika juga tak berani membantah papinya.
"Sebelum Ai jawab boleh kah Ai tau alasan papi ingin membunuh tuan Fatih? karena setelah mengintainya beberapa hari ini Laika tau kalau tuan Fatih itu orang baik"
"Kau tak punya hak menanyakan itu pada papi, tugasmu hanya membunuh orang itu, kau tak perlu tahu alasannya" Ucap Afanas dengan nada keras sambil menggebrak meja
Laika tau papinya marah, tapi entah mengapa Laika juga semakin marah dengan apa yang papinya ucapkan, Laika yang biasanya akan ketakutan melihat papinya seperti itu, hari ini tiba tiba berani menjawab papinya.
"Pi,,,, Ai hanya ingin tahu apa alasan papi, apa itu salah? sudah berulang kali Ai menjalankan perintah papi untuk membunuh orang, tak sekalipun Ai tahu alasannya,,,. kali ini Ai ingin tahu"
Sambil mengucapkan hal itu angan Laika berkelana ke kejadian lima tahun yang lalu, itu adalah hari dimana Laika pertama kali membunuh orang, tepat setelah peluru laras panjangnya tepat mengenai sasaran, tangan Laika gemetar, kakinya lemas seperti tak bertulang, dia seperti bermimpi saat melepaskan peluru itu, bahkan beberapa hari dia tak bisa tidur dan makan karena terus mengingat kejadian itu.
Jadi tak salah jika kini dia menuntut penjelasan dari papinya atas perintah itu.
"Kau mau membantahku Ai??' tanya Afanas makin geram karena Laika mulai membantah
Bukannya merasa takut Laika malah makin berani membantah papinya.
"Ai tidak membantah papi Ai hanya bertanya Pi" jawab Laika lagi
"AI,,,,,," teriak Afanas sambil berdiri dan menggebrak meja
"Ow,,,, sekarang Ai paham pi,,, selama ini papi memang hanya menganggap Ai sebagai mesin pembunuh untuk papi, bukan sebagai anak papi" jawab Laika makin berani
Afanas yang mendengar jawaban Laika mukanya memerah, dia murka karena Laika kini berani membantahnya,hanya seminggu Laika ia tinggalkan tapi anak itu sudah banyak berubah, tanpa aba aba dia mendekati Laika dan mengangkat tangannya, lalu iya ayunkan ke arah pipi Laika. Namun dengan sigap Laika menangkis tangan tersebut, ada adu kekuatan di antara mereka, sampai Laika berhasil menepis tangan Afanas
"Aku bukan anak kecil lagi pi" ucap Laika kemudian meninggalkan ruangan dan Afanas yang makin murka mendengar ucapan Laika.
To be continue
Huft,,,,,Hari ini author nulisnya kayak kejar kejaran deh,,,,,,, maklum ini nulisnya abis nyelesain kerja lemburan dari kemari dengan mata ngantuk. Tapi jangan lupa terus like, comment dan vote jangan lupa juga pencet tombol Favorit biar dapet notif kalau Author up🙏🙏😄😄