
"Laika pov"
Pengintaian pertamaku tak membuahkan hasil sama sekali, itu terjadi karena pria yang ku dengar namanya Rafael itu mengira aku adalah Airi.
Lagi lagi aku dikatakan mirip Airi, dikatakan kembaranya yang sudah meninggal pula, gara gara itu aku sedikit bersitegang dengan pria itu, lama lama aku malas juga aku, harus ku tinggalkan pria menyebalkan ini.
Tapi saat aku mulai beranjak, tiba tiba namaku dipanggil, sepertinya aku tau siapa yang mumanggilku, aku segera membalikkan badan dan benar saja yang memanggilku adalah Alan.
"Kak Ai" panggilnya padaku
"Alan kamu juga di sini??" tanyaku padanya
"Iya kak ayah dan kak Airi bekerja di sini" jelasnya padaku
Pantas saja pria menyebalkan ini mengira aku Airi,pasti dikiranya tadi aku sedang berangkat kerja. Jadi penasaran semirip apa aku dengan Airi.
"Ngomong ngomong kak Ai ngapain di rumah sakit? mau jenguk orang atau berobat?"tanya Alan padaku
Tentu aku bingung mau jawab apa, agar tak menimbulkan kecurigaan akhirnya aku jawab kalau aku sedang menjenguk saudara, Alan tanya lagi apakah aku akan lama, dia mau mengenalkan aku pada bundanya. Kufikir tak ada salahnya aku mengenal bundanya, toh disini aku tak mengenal siapa siapa .
Namun saat menunggu bunda Alan handphoneku berbunyi, ku lihat ada nama papi disana, tanpa menunggu lama aku langsung menggeser tombol hijau
"Hallo pi" ucapku saat mengangkat telepon
"Ai cepat pulang,,,,, Dimitri sudah menunggumu di depan rumah sakit"
"Iya pi Ai segera keluar"
Kemudian telepon ditutup oleh papi, dan ku masukkan handphoneku ke dalam tas, lantas aku menghadap ke arah Alan dan minta maaf.
"Al kak Ai minta maaf gak bisa nunggu bundamu, papi kak Ai baru telepon,,, kak Ai diminta cepat pulang" ucapku pada Alan
"Ow iya kak gak apa apa,, mungkin lain kali saja Al kenalin kak Ai sama bunda"
Kemudian aku segera pamit dan beranjak keluar dari rumah sakit tersebut, ku lihat mobil Dimitri telah terparkir di depan, aku langsung menghampirinya dan mengetuk kaca mobil.
Tak lama Dimitri membuka pintu mobil, dan aku segera masuk, saat mobil sudah mulai berjalan aku membuka percakapan dengan Dimitri.
"Dim kenapa papi menyuruhku cepat pulang??"
"Aku tak tau Ai,,, aku hanya diutus menjemputmu"
Selalu begitu jawaban Dimitri,dia memang bawahan papi yang paling setia, tak pernah membocorkan informasi sedikitpun tentang papi padaku .
Sesampainya di rumah aku langsung memasuki ruang kerja papi.
"Pi,,,, kenapa papi menyuruh aku cepat pulang??" tanyaku pada papi setelah bertatap muka
"Ai papi hari ini akan berangkat ke Bali, ada sesuatu yang harus papi selesaikan, papi harap tugasmu di sini juga selesai saat papi kembali , papi hanya dua minggu di Bali, papi percaya padamu, jangan kecewakan papi! o ya Dimitri akan menjagamu selama papi pergi"
Dan siang itu juga papi berangkat ke Bali, sedangkan aku mulai merancang pengintaianku untuk besok, aku berencana mengintai tuan Fatih di rumahnya besok.
***
Hari ini aku sudah berada di dalam mobil yang terparkir di depan rumah tuan Fatih, aku mengawasinya dari kaca yang tertutup, nampak beberapa pembantu rumah tangga keluar masuk rumah itu, rumahnya cukup besar dengan dua lantai, dari luar didominasi warna coklat dan gold, desain klasik sangat kental pada bagian rumah itu, terlihat sangat nyaman, entah bagaimana di dalamnya.
Tak lama ada seorang ibu keluar dari rumah tersebut, sepertinya aku pernah melihatnya, tapi dimana ya?? aku berusaha mengingatnya tapi jak juga ku ingat.
Tak lama tuan Fatih juga keluar, ku perhatikan interaksinya dengan perempuan itu, mereka kelihatan mesra dan saling menyayangi, sudah bisa ku pastikan perempuan itu adalah istri tuan Fatih.
Kebersamaan suami istri itu rasanya tak pernah ku lihat dalam pernikahan mami dan papiku dulu , papiku bukan orang yang hangat seperti yang terlihat pada tuan Fatih. Anganku menerawang pada masa lalu itu, tak terasa mataku memanas, sepertinya lebih lama di sini tak baik untuk hatiku.
Aku memilih beranjak dari tempat itu dan berhenti di sebuah taman kota yang terlihat asri. Aku duduk di salah satu bangku taman itu, kini perasaan tak nyaman mendominasi hatiku, sebenarnya tak jarang aku berfikir kalau aku bukan anak papi, mengingat bagaimana sikap papi selama ini padaku. Tapi perasaan itu selalu aku tepis, aku percaya kesibukan papi lah yang membuatnya bersikap seperti itu padaku.
Aku bersedia melakukan banyak pekerjaan kotor untuk papi, karena ku harap setelah melakukan itu papi akan menjadi hangat padaku. Tapi sudah sekian tahun terlewati papi tetap saja bersikap sama padaku, apa sebenarnya salahku.Ku hembuskan nafas kasar untuk mengurangi sesak di dada, aku sebenarnya gadis yang hampir dikatakan tak pernah menangis sejak setelah dulu papi memukuliku.
Mungkin itu caraku bertahan agar tak larut dalam kesedihan. Tapi aku kini bertanya tanya apa alasan papi mengutusku menghabisi nyawa tuan Fatih, padahal jika ku perhatikan tadi tuan Fatih adalah orang yang hangat dan sangat menyayangi istrinya.
Tentang istri tuan Fatih dimana aku pernah melihatnya? aku masih yakin aku pernah melihatnya.
"Ya,,,,,. sekarang aku ingat" pekikku tanpa sadar
Kembali di hari di mana papiku memukuliku sampai parah, saat itu aku memungut map yang ada foto di dalamnya, foto perempuan itu adalah foto istri tuan Fatih, jadi foto lelaki disampingnya yang sudah dilubangi kepalanya adalah Foto tuan Fatih.
Berarti papi sudah mengenal mereka sejak lama, jadi apa masalah mereka sehingga papi ingin aku membunuhnya? Sepertinya aku harus mencari tahu dulu alasan papi ingin membunuh tuan Fatih .
Padahal selama ini aku tak pernah ingin tahu apa alasan papi menyuruhku membunuh beberapa orang. Tapi kenapa kini aku jadi ingin tahu alasannya??
Sepertinya cukup untuk hari ini aku harus mendinginkan kepalaku di rumah, aku mulai beranjak dari kursi taman, dan berjalan santai menuju mobilku. Tiba tiba di depanku ada seorang anak yang menabrak seorang perempuan seumuranku hingga terhuyung, aku membantu anak itu berdiri
"Terima kasih kakak" ucapnya padaku
"ok" aku jawab singkat
Kemudian gadis kecil itu menghampiri perempuan yang iya tabrak.
"Kakak maafkan aku,,,, aku menabrak kakak" ucap gadis kecil itu pada perempuan yang ia tabrak yang masih sibuk merapikan kertas kertasnya yang tercecer.
"Iya sayang tak masalah" ucap perempuan itu sambil mengangkat wajahnya pada gadis kecil itu.
Aku tertegun saat melihat perempuan itu, aku seperti sedang bercermin , itu adalah wajahku versi lembutnya. Perempuan itupun juga sama terkejut melihatku.
"AIRA"
To be continue
Terima kasih yang sudah setia membaca dan mendukung MFG sejauh iniππ