My Fat Girl

My Fat Girl
Aku butuh kamu



"Fatih pov"


"kamu kemana aja selama ini huuuuuu huuuuu huuuu?" tangis aruna


kenapa sesakit ini melihatnya dalam kondisi seperti ini,,, tanpa aba aba kutarik dia dalam pelukanku tak ada perlawanan sama sekali, lantas ku elus lembut punggungnya,, tubuhnya masih saja bergetar karena tangisan


"Kenapa kau masih saja cengeng seperti dulu? bukannya kau sudah dewasa bahkan kau sudah menjadi seorang istri" gurauku padanya tapi dia malah semakin menangis


"ussttt,,, diamlah maaf kan aku,,, orang orang di luar akan mengira aku menganiayamu" gurauku lagi tapi dia malah memukuli dadaku


" iya iya maafkan aku" ku lepas pelukanku lantas ku jauhkan sedikit tubuhnya dan ku usap air mata yang sudah membasahi pipinya,,, isakannya sekarang mulai mereda,,,, kupandangi wajah yang amat kurindukan ini dia pun juga memandangku,,, tampaknya dia ingin berkata sesuatu padaku dan benar saja dia mulai membuka mulutnya


"kau jahat hikz,,,, saat aku hikz,,,,membutuhkan kamu kau malah menghilang,,hikz,,,," bicaranya masih putus putus karena terlalu lama menangis


"maafkan aku,,,," lagi lagi hanya kata kata itu yang bisa ku ucapkan


tok tok tok tok tiba tiba suara ketukan pintu mengganggu kami


"permisi dok saya mau antar makanan buat mbaknya" sapa seorang perawat


"iya sus masuk" kemudian suster itu meletakkan makanannya di nakas samping banker rawat aruna


"terima kasih sus" ucap aruna sambil tersenyum tipis meski matanya masih membengkak


"iya sama sama mbak saya permisi dulu mbak,,,,, dok,,," hanya ku jawab dengan anggukan lantas perawat itu keluar dari ruangan aruna


"yaudah kamu makan dulu aku suapin ya" kataku pada aruna


"aku mual,,," jawabnya padaku


"ini diminum syrup lambungnya dulu biar gak mual dan muntah saat makan" lalu ku tuang syrup ya di sendok dan ku arahkan pada mulut aruna lantas dia meminumnya


"dah sekarang makan dulu terus minum obat biar kamu cepet sembuh" lalu mulai ku suapi aruna namun hanya beberapa suapan ia sudah tak mau lagi


"ya udah sekarang minum obatnya dulu" ku sodorkan beberapa obat dan air putih kemudian ia meminumnya ,,,, setelah selesai kini ia berbaring lagi


"kau mau istirat lagi?" dia menganggukkan kepalanya


"hubungi keluargamu dulu nanti mereka khawatir kau tak pulang pulang" titahku padanya


"atau beri aku nomer Qiya biar aku yang menghubunginya" tapi lagi lagi air matanya meluncur lagi dengan deras,,,


"apa ada yang salah dengan kata kataku kamu kenapa?? maafkan aku jika aku salah run,,,," dia hanya menggeleng gelengkan kepalanya,, aku semakin bingung dengan sikapnya


"atau ku hubungi mamamu saja??" kemudian dia menganggukkan kepalanya


"mungkinkah dia sedang bertengkar dengan Qiya" kataku dalam hati


kemudian aku mulai mencari smarthphone aruna di dalam tas slempangnya,,, setelah menumakannya aku mulai mencari kontak mamanya setelah ketemu langsung ku tekan panggil pada layar,,,,


"Haloo run,,,," suara disebrang telpon


"*assalamualaikum tante maaf ini saya fatih"


"waalaikum salam loh kok sama kamu handphone aruna?"


"haaaa,,, dia pingsan?? dimana alamat klinik kamu tante segera kesana"


"iya tante alamatnya di jalan ******"


"ok tante segera kesana tante minta kamu jagain aruna dulu ya"


"siap tan"


"tante tutup dulu wassalamualaikum"


"waalaikumsalam*" kemudian ku fokuskan lagi pandangan pada aruna,,


"kamu istirahat aja dulu sambil nunggu mamamu nyampk aku akan tetep nungguin kamu di sini" dia mengangguk dan kemudian mulai menutup matanya


Hampir setengah jam aku menunggu mamanya aruna sambil memandangi wajah aruna yang tampak tenang dalam tidurnya beda dengan tadi saat ia terus menangis


"kreekk" tiba tiba pintu terbuka dan nampak mama aruna memasuki ruangan


"tan,,,," sapaku pada beliau


"fat,,,, gimana keadaan aruna?" sambil berjalan ke arahku


"alkhamdulillah sudah membaik kok tan" ku sodorkan tanganku kemudian kucium tangan beliau


"*kamu tu kemana aja sih fat,,, lama banget gak ke rumah tante?"


"hihihi maaf tan fatih baru enam bulan ini pulang dari kaltim,,, tante gimana kabarnya??"


"tante baik kok,,,,tante tu sampai pusing gimana cara hadapin temen kamu ini sejak Qiya gak ada jadi susah banget makannya trus kalau sudah gitu pasti deh keadaannya kayak gini ini lagi"


"maksut tante dengan Qiya gak ada*?" aku mulai bingung dengan penjelasan mama aruna, beliau langsung memandangku dengan kebingungan


"*loh kamu belum tau tentang Qiya?"


"Kenapa memangnya dengan Qiya tan fatih bener bener gak tau?"


"Qiya meninggal sejak tujuh tahun yang lalu fat"


"aapaaaaa gak mungkin tan????" aku sungguh kaget mendengar kabar ini,,,, meskipun aku sangat menginginkan aruna tapi aku juga tidak mau jika Qiya meninggal


"kenapa dia meninggal tan? aku sungguh tidak tau kabar ini,,,, pantas saja setiap aku menannyakan tentang Qiya tadi aruna selalu menangis" aku sungguh menyesal


"*tante akan menceritakannya padamu,, tapi lebih baik kita keluar,,, tante takut aruna mendengar dan jadi sedih lagi"


"baiklah tan mari ke ruanganku*"


lantas kami keluar dari ruang rawat aruna dan menuju ruanganku setelah kami sama sama duduk di sofa mama aruna mulai bercerita padaku


"saat itu adalah tanggal 7 september 2012 tante mengingatnya,,,,,,,,


to be continue


halo kakak kakak gak bosen author ngingetin yuk tinggalkan jejak dengan like dan komen di cerita ini yang sudah like komen author ucapkan terimakasih banyak🙏🙏