My Fat Girl

My Fat Girl
Bertemu Bunda



"Author pov"


Setelah menyelesaikan acara makannya dan kemudian menyuruh Alan keluar Laika langsung berganti baju di kamar.


Baju gamis dan kerudung bisa dengan mudah ia kenakan, tapi melihat bentuk cadar Laika bingung bagaimana menggunakannya dan apa fungsinya. Maklum masih hitung hari Laika mempelajari dan kemudian masuk Islam.


Tanpa ingin banyak berfikir lagi Laika memilih keluar dan bertanya pada Alan cara penggunaan benda itu.


"Al yang ini gimana makainya"


Alan yang merasa terpanggil langsung menoleh ke arah sumber suara, dia tak menyangka Laika yang selama ini berwajah tegas, berubah menjadi wanita yang cantik nan lembut ketika menggunakan baju gamis. Alan sampai tak berkedip melihat kecantikan Laika.


"Kak kakak cantik banget" ucap Alan sambil mengacungkan kedua jempolnya


"Kamu mah ditanya apa jawabnya apa" jawab Laika heran


"He he he habisnya kakak cantik baget lo"


"Jadi ini gimana pakainya Al??"


"Ini cara pakainya gini kak" ucap Alan sambil mempraktekkan gerakan menggunakan cadar


"Ow,,,,,, ini tu masker Al"


"Hihihihihi bukan kak itu namanya cadar, kakak akan aman jika memakai itu"


"Ok ok"


Setelah penjelasan Alan Laika langsung memakai cadarnya, dan tanpa berlama lama lagi, kemudian mereka berangkat ke tempat Alan janjian untuk bertemu dengan bunda Alan.


Mereka berdua pergi dengan mengendarai motor Alan, selama keluar Laika sedikit was was karena takut papinya akan menemukannya, lalu menyeret Laika lagi untuk menjada seorang pembunuh.


"Al kak Ai takut kalau papi kak Ai nemuin kita" ucap Laika saat motor Alan mulai berjalan


"Kak Ai tenang saja,,,, kak Ai kan sudah merubah penampilan kak Ai total, siapa yang akan mengenali kak Ai?"


"Benar juga ya" ucap Laika dalam hatinya


Namun ketenangan Laika hanya bertahan sebentar, saat di pemberhentian lampu lalu lintas Alan berhenti tepat di samping mobil yang pengemudinya adalah Dimitri. Tentu Laika sangat ketakutan jika Dimitri mengenalinya. Meski sekarang Dimitri sedang fokus melihat ke arah depan, Laika sama sekali tak berani bergerak padahal saat ini dia sudah mengenakan cadar dan helm, jadi kecil kemungkinan Dimitri bisa mengenalinya.


Kejadian menegangkan terjadi saat Laika dan Dimitri sama sama menoleh ke samping, beberapa detik Dimitri sempat memandang Laika, Laika sudah berkeringat karena mengira dia sudah ketahuan oleh Dimitri . Tapi ternyata setelah itu Dimitri kembali fokus menyetir, setelah banyak suara klakson berbunyi dari belakang pertanda lampu sudah hijau.


Entah kenapa kebiasaan pengendara di Indonesia jika lampu sudah berwarna hijau, pengendara di belakang kebanyakan akan mengklakson pengendara depan, padahal pengendara di depan juga cukup mengerti apa arti lampu hijau itu.


Laika sungguh bisa bernafas lega setelah motor Alan kembali berjalan. Tak membutuhkan waktu lama Alan dan Laika telah sampai di sebuah restoran dengan konsep bangunan di atas empang, di depan restoran tertulis kata " ROKAS" yang di bawahnya terdapat penjelasan Resto Olahan Ikan Aneka Sambal.


Membayangkan sambal sambal yang akan dihidangkan tiba tiba air liur Laika seperti menetes, padahal belum lama ia tadi makan gado gado yang dibawakan Alan.


"Kak ayo kita masuk" ajak Alan pada Laika yang sedang terbengong memandang restoran


"Yuk"


Kemudian mereka berjalan beriringan menuju salah satu tempat yang sudah dipesan Aruna. Terlihat Aruna sudah duduk menunggu disana, Laika tampak tertegun melihat sosok Arun dari kejauhan, perasaannya mendadak menjadi aneh saat melihat perempuan paruh baya yang berkerudung itu.


"Assalamualaikum bund" ucap Alan saat sudah dekat dengan Aruna


'Waalaikumsalam" jawab Aruna


Kemudian Alan mendekat dan mencium tangan bundanya, Laika pun juga mengikuti menyalami tangan Aruna dan menciumnya.


"Jadi ini temen kamu yang mau di kenalin sama bunda??" Tanya Aruna sambil menunjuk Laika.


"Iya bund" jawab Alan


Laika yang mendengar pertanyaan Aruna langsung tersenyum ke arah Aruna, ya meski Aruna tak bisa melihat senyumnya, karrna dia mengenakan cadar.


"Namanya siapa mbak??" tanya Aruna pada Laika santai


"Laika,,,,, Laika kusuma tan,,,, o ya tante bisa panggil Ai saja" jawab Laika yang malah membuat perasaan aneh di hati Aruna karena mendengar suara itu


"Ok ,,,, tante akan panggil kamu Ai, o ya kamu rumahnya dimana Ai?"


"Kak Ai ini baru pindah dari Rusia bund, dia juga baru jadi mualaf,,, masih hitungan hari" sambar Alan atas pertanyaan Aruna


"O ya ???? bunda kira muslim dari dulu,,,,, soalnya sudah pakai hijab dan cadar" ucap Aruna terkejut atas penjelasan Alan


"Sebenernya kak Ai ini belum berhijab bund, cuman kak Ai ini suka gak nyaman kalau ketemu orang banyak makannya kak Ai pake kerudung sama cadar" jawab Alan mencarikan alasan untuk Laika agar bundanya tidak curiga, sementara Laika hanya tersenyum tipis di balik cadarnya.


Tak terbayang jika bundanya tau Laika pernah menjadi seorang pembunuh, dan sekarang sedang bersembunyi dari papinya yang jahat.


"Ow begitu,,,,, gak apa apa kok Ai nanti kamu bisa kebiasaan trus nyaman kayak tante gini"


"Iya tan" jawab Laika singkat


"Kamu umur berapa sih Ai?? dari tadi Alan kok panggil kamu kak?? tante kira tadi Alan mau kenalin pacarnya lo ke tante"


"Bun,,,," ucap Alan memperingatkan


"Ha ha ha ha ha bercanda Al,,,, gitu aja ngambek"


Laika yang melihat interaksi anak dan bundanya itu benar benar merasa iri, dia jadi ingin memiliki keluarga yang normal dan hangat seperti keluarga Alan.


"Kak Ai ini beda lima tahun sama aku bund" jawab Alan tiba tiba yang membuyarkan lamunan Laika.


"Eh seumuran kakakmu dong???"


"Iya bund,,,, nanti bunda kalau lihat wajah kak Ai pasti makin terkejut hi hi hi hi" ucap Alan terbayang kagetnya bundanya ketika melihat wajah Laika mirip dengan kak Airi


"Kenapa memangnya??"


"Ada deh,,,,,"


"Hmmsss kebiasaan anak bunda ini" ucap Aruna sambil mencubit hidung Alan


"Aw aw sakit tau bund"


"Hihihihi habisnya udah besar tetep aja kelakuan kamu itu,,,, o ya kalian mau pesan apa???"


Kemudian Alan dan Laika mulai membolak balikkan buku menu ditangan mereka, setelah selesai mencatat semua pesanan mereka. Aruna memanggil pelayan resto dan menyerahkan catatannya.


"Silahkan tunggu sebentar ya bu,,,, kami akan membuatkan pesanan ibu dengan segera" ucap sopan pelayan resto kemudian pergi meninggalkan mereka


"Kak Ai buka aja cadarnya biar bundaku bisa lihat wajah kak Ai" ucap Alan pada Laika


"Al kamu tu kok gak sopan gitu sama Ai?" tegur bundanya


"He he he he he" Alan malah nyengir mendengar teguran bundanya


"Gak apa apa kok tan, aku sama Alan emang sudah biasa, orang asli sini yang pertama kali Laika kenal ya Alan ini" ucap Laika sambil bergerak melepaskan ikatan cadarnya


Aruna hanya tersenyum mendengar penuturan Laika, dia tau anak Laki lakinya ini sangat tertarik pada kegiatan kesosialan, sehingga gampang Akrab dengan banyak orang.


Namun senyum Aruna berubah menjadi ekspresi yang sulit ditebak, ketika melihat wajah Laika dengan sempurna.


To be continue


Terima kasih Author ucaokan pada reader yang selalu setia membaca MFG sampai sejauh iniπŸ™πŸ™