My Fat Girl

My Fat Girl
The End



"Author Pov"


"Kau ,,,,,,,???" ucap Aira kaget "kenapa kau melepaskan aku Dim?? bukankah kau sangat setia pada papi ???" bingung Aira


"Saya tidak akan sanggup membunuh orang yang saya sayangi" ucap Dimitri yang makin membuat Aira bingung


"Maksutmu,,,,,???"


"Cepat selamatkan ayahmu Ai,,,,, tak ada waktu lagi, tuan Andi akan membunuh ayahmu"


Ucapan Dimitri seketika mengingatkan Aira pada ayahnya, Tanpa permisi Airi langsung berlari ke lantai bawah untuk menyelamatkan ayahnya.


Buuuggg,,,,,,, tepat sebelum Andi melayangkan pukulannya pada Fatih, Aira menendang Andi.


"Hei tuan pengecut lawanmu aku,,,,,," ucap Aira menantang


Andi yang telah tersungkur di tanah terkejut melihat Aira telah terlepas dari ikatannya "Bagaimana kau bisa lepas??" tanya Andi geram


"Mungkin keberuntungan"


Lantas Andi berdiri dan mulai melakukan serangan balik dengan berusaha menendang perut Aira. Tapi Aira berhasil menangkis tendangan itu, Andi melanjutkan dengan tinjuan di dada kanan Aira, meski berusaha menghindar pundak Aira masih terjangkau pukulan itu.


Melihat Aira yang sudah terbebas, orang orang Fatih juga mulai berani melawan bawahan Andi, mereka semua saling pukul untuk menyelamatkan diri.


Duel antara Andi dan Aira terus berlanjut dengan sengitnya, sementara Fatih hanya bisa melihat perjuangan anaknya tanpa bisa membantu. Keadaannya sekarangpun juga cukup menghawatirkan, tubuhnya tergeletak penuh luka di tanah, bahkan untuk bergerakpun badannya tak sanggup lagi.


Lama Aira dan Andi saling menyerang, kini keduanya juga sudah sama sama terluka, karena serangan masing masing. Sudut bibir Aira bahkan sudah perih karena beberapa kali terkena pukulan.


Andi bahkan lebih parah Aira mematahkan satu jari kelingkingnya. Kini mereka berhadapan saling pandang, waspada dengan serangan berikutnya.


Satu serangan saja bisa menumbangkan masing masing dari mereka, karena sebenarnya mereka sudah sama sama kehabisan tenaga. Aira kini mengamati celah mana yang bisa ia gunakan untuk menyerang lalu menumbangkan Andi.


Dan dengan satu gerakan "Braaakkkkk" kali ini Aira berhasil menumbangkan Andi.


Andi yang telah terkapar tak berdaya, masih mendapatkan satu hadiah pukulan oleh Aira.


"Bbuuuuuggg,,,,, ini untuk yang selama ini kau lakukan padaku" ucap Aira sambil memukul Andi .


Setelah puas melihat Andi tak berdaya, Aira langsung menghampiri ayahnya.


"Yah,,,,, ayah ,,,,,," panggil Aira ketika melihat ayahnya terpejam "Ai mohon ayah bangun"


Mendengar suara putrinya Fatih membuka matanya perlahan "Kamu selamat sayang"


Aira mengangguk dengan kucuran air mata yang tak lagi bisa ia bendung. Melihat keadaan ayahnya saat ini cukup membuat Aira ketakutan, masih hitungan hari ia berkumpul dengan ayahnya , tentu ia takut jika ayahnya akan meninggalkannya.


"Ayah harus bertahan Ai masih ingin bersama ayah, kita akan ke rumah sakit yah"


Terlalu fokus pada ayahnya membuat Aira tak waspada, dia tak tau Andi kembali bangkit dan mengeluarkan belati dari dalam kaos kakinya.


Dengan gerakan cepat Andi mengarahkan pisau ditangannya ke arah Aira, dan hal berikutnya yang terjadi adalah


"Dooooorrrr,,,,,,,," timah panas mengenai kepala Andi tepat dengan kedatangan polisi dan


"Bruuuuukkkk " Andi tersungkur di tanah dengan mata yang melotot


Semua orang melihat kearah tembakan datang,,,,,, ternyata bukan polisi yang melakukan itu melainkan Dimitri, dia menghianati bosnya demi gadis yang ia cintai.


Para polisi yang datang langsung sigap menangkap Dimitri, polisi polisi itu datang atas laporan Aruna yang sejak awal sudah khawatir dengan suami dan anaknya, dia tau bagaimana kejam dan teganya Andi.


Tak berapa lama 2 ambulan datang ke lokasi gedung tua Veteran, satu ambulan membawa Andi yang telah menjadi mayat, satu ambulan lagi membawa Fatih yang saat ini sedang sekarat.


Aira juga ikut dalam ambulan yang ditumpangi Fatih, dia terus memohon pada Fatih agar bertahan demi dia dan keluarga.


"Ai mohon ayah bertahan" ucap Aira sambil memegang tangan Fatih "Ai masih belum puas bermanjaan dengan ayah" lagi ucap Aira dengan tangisannya


Namun yang diajak bicara sama sekali tak menyahut, Fatih sudah berada dalam keadaan tak sadarkan diri, bahkan kini bernafaspun dibantu dengan ventilator.


Saat ambulan telah sampai di rumah sakit, Fatih langsung dibawa ke ruang IGD untuk segera mendapatkan tindakan. Dari pemeriksaan awal diketahui hati dan limpa Fatih mengalami memar yang cukup serius.


Terutama pada hati, hati Fatih mengalami luka robek dan pendarahan yang mengharuskan Fatih dioperasi. Hampir tiga jam para tim dokter melakukan tindakan operasi pada Fatih, namun belum juga ada tanda tanda operasi itu akan selesai.


Aruna dan Airi tampak menangis sedih dan ditenangkan oleh Alan, sedangkan Aira dia berjalan mondar mandir di depan ruang operasi, besar harapannya untuk kesembuhan ayahnya.


Setelah melewati lima jam yang melelahkan, akhirnya tim dokter selesai melakukan operasi pada Fatih, mereka keluar dengan optimisme yang tinggi.


"Dok bagaimana keadaan ayah saya" kata pertama yang diucapkan Aira saat para tim dokter keluar dari ruang operasi


Mereka semua bersuka cita dengan kabar bahagia itu.


"Ibu dan nona tenang saja, sebentar lagi pak Fatih akan kami pindahkan ke ruang perawatan, semoga kondisinya semakin membaik"


"Terima kasih dokter" ucap Aruna


Lantas mereka menunggu Fatih dipindahkan ke ruang perawatan, tak lama beberapa suster mendorong brankar Fatih menuju ruang perawatan VVIP, tentu fasilitas itu ia dapatkan karena Fatih adalah pemilik rumah sakit ini.


Malam itu semua anggota keluarga tak ada yang pulang dari rumah sakit, mereka semua setia menunggu Fatih sadar.


Fatih baru tersadar ketika hari telah berganti menjadi esok, tapi senyum bahagia tak luntur dari wajahnya, kini semua keluarganya bisa berkumpul tanpa ada gangguan lagi.


Saat kesadarannya pulih tadi yang pertama Fatih tanya adalah Andi, dia lega sekaligus prihatin mendengar Andi telah tiada. Tapi takdir memang harus begini.


"Ri,,,,,," panggil Fatih pada Airi


"Iya yah" jawab Airi lantas mendekati ayahnya


"Ayah pengen cepet lihat kamu nikah sama Sean" ucap Fatih penuh harap


"Ya kan sebulan lagi Airi nikah yah"


"Ayah pengennya lihat kamu cepet cepet Ri"


"Ayah kayak orang nyidam aja??" celetuk Aira


"Kabulin permintaan ayah ini ya" mohon Fatih


"Tapi ayah kan masih sakit yah"ucap Aruna memberi pengertian pada suaminya


"Ayah gak apa apa kok bund,,,,, Airi nikahnya di sini aja, ini kan rumah sakit kita" ucap Fatih terus memaksa


Aruna yang melihat suaminya momohon lama lama tak tega juga, akhirnya Aruna membujuk Airi dan Sean untuk segera menikah lusa. Semuanya dipermudah karena memang Airi dan Sean sudah mengurus surat suratnya jauh hari.


Akhirnya hari ini Airi dan Sean benar benar menikah di ruang perawatan Fatih, dengan disaksikan keluarga terdekat. Fatih tak melepas senyum dari bibirnya, dia bahagia akhirnya satu putrinya sudah bisa ia lepas dengan tenang.


Setelah acara selesai semua keluarga telah pulang, termasuk juga Airi dan Sean yang capek mempersiapkan pernikahan singkat ini. Kini tinggal Aira, Aruna dan Alan yang menunggui Fatih.


"Ai,,, sini deket ayah" panggil Fatih


Kemudian Aira mendekatkan diri pada Fatih dan memegang tangan ayahnya.


"Ayah senagkan kak Aira sudah menikah??"


"Iya ayah senang Ai, tapi maafkan ayah sepertinya ayah tak akan bisa menikahkan kamu seperti Airi??"


"Kenapa begitu??" Aira sudah mulai takut dengan kata kata ayah ya


"Ayah rasa Allah tak akan memberi ayah waktu sepanjang itu"


"Ayah bicara apa??" Aruna menegur lalu mendekati Fatih, Alanpun juga ikut mendekat


"Bunda sudah tau kan??? jadi bunda harus kuatkan anak anak!!"


"Yah,,,,,,,," ucap Aruna dengan tangis


"A,,,, yah su,,,. dah ba,,ha,,gi,,a bund" ucap Fatih terbata


"Tidak yah jangan bicara seperti itu Ai masih ingin manja sama ayah" rengek Aira seperti anak kecil


"Ka mu su dah besar Ai" ucap Fatih sambil tersenyum dan kemudian nafasnya tersengal


Alan sebagai anak laki laki satunya dengan tegar langsung mendekati ayahnya, dan menuntun ayahnya mengucap lafal tauhid.


"La illaha ilallah"


Selesai mengucapkan kalimat itu mata Fatih terpejam dan nafasnya telah berhenti, namun bibirnya tersenyum bahagia, Aruna dan Aira menangis sedih, sedangkan Alan berusaha tegar.


The End


Pada dasarnya semua manusia adalah calon jenazah, kita semua hanya menunggu giliran, karena waktunya sudah dicatat di lauhul mahfudz jauh sebelum kita di lahirkan.


Maafkan akhir cerita ini tidak bahagia menurut kalian, tapi ini sudah membahagiakan bagi Fatih, memiliki Aruna istri solihah yang setia dan putra putri yang solih solihan.


Terima kasih untuk semua reader yang setia membaca MFG Love you reader,,,, cium jauh dari aku😘😘