
"Aruna Pov"
Sebangunnya aku dari istirahat tiba tiba mas Fatih mengajak aku untuk periksa, sama seperti kalian aku juga merasa Aneh, dia adalah dokter dan sudah pasti bisa memeriksa, kenapa aku harus periksa ke dokter lain.
Alasannya agar aku di lab, dan itu malah sukses membuat aku semakin takut, mungkinkah aku menderita penyakit yang mematikan.Tapi ku lihat ekspresi mas Fatih malah bahagia, apa dia senang aku sakit???
Monologku tiba tiba buyar ketika mas Fatih menggenggam tanganku memberitahu kalau kami telah sampai di rumah sakit. Setelah mas Fatih turun kemudian dia membuka pintu untukku.
Saat aku sudah turun, dia menggandeng tanganku melewati lorong rumah sakit. Mas Fatih membimbingku menuju satu ruangan, aku bingung saat membaca tulisan yang tergantung di depan pintu tersebut, kenapa dia membawaku ke dokter obgyn??
"Permisi sus tadi saya sudah buat janji dengan dokter Iman" ucap mas Fatih pada suster yang berjaga di depan ruangan
"Oh iya pak dengan bapak siapa?"
"Saya Fatih"
Terlihat suster itu melihat data di monitor yang berada di depannya
"Oh iya dengan dokter Fatih al azzam?"
"Iya sus"
"Maaf dengan ibu siapa?" tanya suster itu padaku
"Aruna zahara" jawabku dan terlihat suster itu mengetikkan namaku pada komputernya.
"Silahkan menunggu sebentar dok bu,,, masih ada satu pasien di dalam"
"Iya terima kasih sus" Lalu mas Fatih mengajakku duduk di kursi tunggu
"Mas ngapain kita ke dokter obgyn? mas mau ngajak aku program?"
"Udah kamu tenang aja" Jawab mas Fatih sambil tersenyum padaku
Aku hanya cemberut mendengar jawabannya, bagaimana bisa ia merencanakan program hamil tanpa bicara dulu padaku, lama lama mataku memanas aku jadi ingin menangis, sepertinya pendapatku sudah tak penting lagi bagi mas Fatih.
"Kenapa sih aku jadi baperan gini? kayaknya aku mau dapet tamu bulananku, sepertinya ini sudah waktunya" monologku dalam hati
Tanpa terasa cairan bening keluar dari sudut mataku, aku memalingkan wajah agar mas Fatih tak melihatnya. Tak begitu lama menunggu suster tadi sudah memanggil kami.
"Dokter Fatih dan ibu silahkan masuk" ucap suster itu pada kami"
Lantas mas Fatih menggandeng tanganku memasuki ruangan dokter obgyn tersebut, sesampainya di ruangan, kami langsung disambut dengan sapaan dokter tersebut.
"Selamat siang dokter Fatih" sapa ramah dokter tersebut
Tapi bukannya menjawab, suamiku malah meninju ringan pundak dokter tersebut sambil tertawa, dan bukannya marah dokter sebut malah membalasnya dengan tawaan juga,
"Apa kabar lo bro?" ucap mas Fatih sambil bersalaman ala laki laki dengan dokter tersebut
"Seperti yang lo lihat ,,, gue baik baik saja dokter Fatih" jawab dokter tersebut sambik tersenyum,kemudian mengulurkan tangannya padaku "Perkenalkan nyonya saya Iman, saya rekan koas suami anda" ucap dokter tersebut padaku
"Aruna" jawabku singkat sambil tersenyum juga
"Jadi apa yang bisa saya bantu??" tanya dokter Iman pada kami
"Tadi pagi gue udah periksa dia, gue mau pastiin aja apakah ini benar" Ucap mas Fatih sambil menyerahkan benda yang dibungkus plastik hitam.
Ku lihat dokter Iman membuka bungkus tersebut dan mengeluarkan isinya. Dan aku cukup terkejut saat isinya dikeluarkan,
"Testpack,,,,???" batinku dalam hati
"Silahkan berbaring di ranjang nyonya Aruna" lamunanku tersadar saat dokter Iman memintaku berbaring di ranjang.
"Permisi ya bu" ucap perawat itu sopan
"Iya sus"
"Anak pertama ya bu?" tanya perawat tersebut sambil mengoleskan gel di perutku, sementara aku bingung harus menjawab apa, karena aku tak tau apakah aku hamil.
Setelah selesai mengoleskan gel perawat tersebut memangil dokter Iman, kemudian dokter Iman masuk diikuti mas Fatih, yang kemudian berdiri di sampingku. Di depan kami terdapat layar LCD besar, kemudian dokter Iman mulai mengarahkan Transduser ke perutku, alat itu di gerak gerakkan dan terlihat satu titik hitam di layar LCD yang kami lihat, kemudian dokter Iman mulai menjelaskan pada kami.
"Emm,,,,, saya panggil mbak Aruna aja ya biar enak" ucap dokter Iman sambil melirik mas Fatih meminta persetujuan
"Iya bro jangan formal formal lah sama kita" jawab mas Fatih santai
"Ok,,,, kalian bisa lihat titik hitam ini" tunjuk dokter iman dengan menggerak gerakkan cursor "Ini adalah kantong kehamilan mbak Aruna yang sudah terlihat, selamat ya,,,, dari yang terlihat mbak Aruna sudah mengandung 9 minggu, HPL nya sekitar bulan Juni ya mbak,,,, ini keadaan janinnya juga sehat, semua normal.
Seketika haru menyelimutiku kala mendengar penjelasan dokter Iman "Aku seperti tak percaya aku benar benar hamil,,,,, terima kasih Allah,,,, Engkau telah mengabulkan do'a do'a kami selama ini" batinku dalam hati
Ku lihat mas Fatih juga sama Arunya dengan aku, tiba tiba ia memelukku erat dan mengucapkan terima kasih padaku
"Terima kasih,,, terima kasih sayang" ucapnya sambil mengecupi puncak kepalaku
"eheeeemmmmm" deheman dokter Iman
Kami berdua salah tingkah saat sadar bukan hanya kami yang berada di ruangan ini,
"Silahkan lanjutkan dirumah saja dokter Fatih" sindir dokter Iman
Kami berdua hanya bisa nyengir kuda mendengar sindiran itu.
"O ya mbak Aruna mengalami mual atau tidak setiap pagi?"
"Iya dok beberapa hari ini memang saya merasa mual, kemarin saya sempat mengira lambung saya kambuh"
Dokter Iman terlihat tersenyum mendengar jawabanku.
"Itu normal mbak,,, di trisemester pertama kebanyakan ibu hamil mengalami itu setiap pagi, akan saya tuliskan resep untuk mengurangi rasa mualnya"
Dokter Iman kembali ke mejanya dan mulai menulis resep, kami pun juga ikut beranjak kemudian duduk di kursi depan meja dokter Iman.
"Ini resepnya,,,,, untuk Vitamin dan penambah darahnya harap dikonsumsi rutin, tensi anda rendah, kalau untuk obat mualnya bisa dikonsumsi saat rasa mual datang saja" ucap dokter Iman sambil menyerahkan resep pada kami.
" Terima kasih bro,,, kita pamit dulu" ucap mas Fatih sambil berdiri dan menyalami dokter Iman
"No problem,,,,, kayak sama siapa aja sih lo"
Kemudian akupun ikut menyalami dokter Iman.
"Dok terima kasih untuk bantuannya"
"Sama sama mbak,,,, jaga kesehatan dan istirahat yang cukup, trisemester pertama adalah masa rawan untuk ibu hamil"
"Iya dok,,,, sekali lagi saya ucapkan terima kasih"
Dokter Iman hanya menjawab dengan anggukan, kemudian kami pun beranjak meninggalkan ruangan itu.
Sepanjang jalan pulang aku terus mengucapkan rasa syukur, karena Allah memberi anugerahnya pada kami di waktu yang tepat.
To be continue
Maaf ya reader ceritanya masih flat flat aja,,,,, nanti akan tegang lagi pada waktunya,,,, ๐๐terus kasih dukungan ke aku dengan like,komen dan vote ya,,,, dan terima kasih yang sudah setia membaca MFG ketcup jauh dari aku๐๐