
"Author pov"
Setelah puas menghabiskan waktu berdua di puncak bukit pertapan akhirnya mereka berdua pulang dengan hati yang sama sama bahagia ya meskipun tak tau kenapa suasana di mobil sekarang jadi canggung untuk aruna,,,, padahal sudah berulang kali berdua satu mobil dengan Fatih tapi sepertinya baru kali ini dia merasakan secanggung ini,,,,,,
Fatih yang merasakan keanehan pada aruna mulai bingung dengan apa yang terjadi,, bahkan pipi wanita yang dicintainya sejak SMA itu terlihat merah
"Run kamu sakit kah??" tanya Fatih khawatir
"hmmm,,,,, a,,,, aku,,,,,, aku gak apa apa kok" jawab Aruna gelagapan
"muka kamu merah banget lo kamu demam kah??" Fatih yang terlihat khawatir langsung meminggirkan mobilnya lalu berhenti,,, dan tanpa aba aba dia langsung menempelkan punggung tangannya ke dahi Aruna
"normal,,,,," kata fatih setelah merasakan suhu tubuh aruna
Dan aruna yang mendapatkan perlakuan spontan itu matanya membulat ia merasakan debaran jantungnya makin cepat dan mungkin sekarang mukanya juga makin merah merona karena jaraknya dengan Fatih sangat dekat sampai dia bisa merasakan hangat hembusan nafas Fatih,,,, bau parfum yang sudah dominan dengan campuran bau keringatpun malah tak Aruna pedulikan
sedangkan Fatih setelah selesai mengecek suhu tubuh aruna dengan punggung tangannya kemudian menurunkan pandangan ke mata aruna saat ingin mulai bicara lagi dia malah terpaku pada mata aruna yang membulat dan seketika deberan cepat juga merajai jantungnya,,, posisinyaa dengan Aruna tanpa ia sadari sekarang sangat dekat,,,, otaknya yang tiba tiba menumpul kini malah memperhatikan bibir aruna yang merah menggoda itu dan entah mengapa dia tak lagi bisa mengendalikan tubuhnya yang makin mendekat ke Aruna
Aruna yang juga terpaku atas perlakuan Fatihpun hanya diam mematung layaknya jasad tak bernyawa sedetik kemudian
cup,,,,,,
benda kenyal itu mendarat sempurna di bibir Aruna,,,,, tak berapa lama Fatih langsung tersadar dengan apa yang iya lakukan,, segera ia tarik tubuhnya dari dekat aruna dan dengan menyesal dia langsung mengucapkan kat maaf
"Run maaf kan aku,,,, aku khilaf" kata Fatih dengan panik
dan yang dimintai maaf hanya terdiam karena belum sadar dari rasa panas yang ia rasakan beberapa saat tadi, sedangkan Fatih makin panik karena tak mendapatkan jawaban atas permintaan maafnya segera menggoyang goyangkan pundak aruna sambil menghiba maaf karena jujur saja ia takut kalau aruna marah karena perlakuannya barusan, tapi memang dia tak sopan
"*Run please maafin aku,,,, aku khilaf Run"
"he*,,,," aruna yang mulai tersadar karena goyangan fatih pada pundaknya jadi salah tingkah sendiri
"ayo kita jalan Fat" jawab aruna tanpa meghiraukan permintaan maaf Fatih,,, jujur saat ini ia sangat malu dan tidak ingin membahas kejadian barusan,,,,
"kamu tak bisa memaafkan aku Run??? tanya Fatih panik
Aruna ingin berhenti membahasnya tapi Fatih masih bersikukuh
"aku memaafkanmu tapi please jangan bahas ini dulu" kata Aruna cepat lalu memalingkan pandangan keluar kaca
"baiklah,,,," Dengan rasa bersalah Fatih kembali menjalankan mobilnya dan sesekali memandang ke arah Aruna namun aruna tetap lebih memilih memalingkan pandangannya ke luar kaca dia merasa malu dan aneh kenapa dia bisa diam saja saat fatih menciumnya, tapi juga ada rasa bahagia disudut hatinya
dua puluh menit perjalanan di lewati dengan kebungkaman mereka berdua, sejujurnya Fatih ingin Mengajak aruna makan dulu tapi dia sungkan karena melihat aruna yang dari tadi tak mau melihat ke arahnya
Sampai di depan rumah Aruna sebelum merkaa turun,,,lagi lagi fatih mencoba meminta maaf lagi
"Run please lihat aku kalau kamu gak marah,,,," mohon Fatih tapi Aruna belum juga bergeming
" aku gak bisa kamu marahi kayak gini,,, aku sanggup menerima apapun bahkan saat kamu perempuan yang aku cintai sejak SMA bertunangan dengan sahabat baikku,,,,,, aku ikhlas tapi aku gak sanggup kalau kamu marah sama aku" tanpa sadar Fatih mengungkap perasaannya dari dulu
mendengar perkataan Fatih aruna kaget dan langsung berbalik pada Fatih
"apa maksudmu Fat?" tanya aruna memastikan yang baru ia dengar
"iya maafkan aku Run,,,, aku suka kamu semenjak awal aku membantu kamu dari bullyan temen temen di kelas kita saat SMA"
Aruna yang mendengar penuturan Fatih menganga tak percaya,,,,, apalagi saat melihat mata bening cowok di depannya mulai berkaca kaca,,,,,
"Run aku gak bisa menahan perasaanku lagi lebih lama dari ini,,,,, aku suka sama kamu Run,, sejak dulu, sekarang dan insya Allah seterusnya aku akan tetap suka kamu"
Aruna seperti bermimpi mendengar sahabat baiknya dari dulu mengungkap perasaan padanya ,,,,, bahkan sahhabatnya itu sudah menyukainya dari SMA dia jadi membayangkan bagaimana sakitnya perasaan Fatih selama ini karena menahan perasan padanya
"please,,,, jangan tolak aku,,," mohon Fatih pada Aruna dan Aruna masih terdiam belum menjawab
" Mungkinkah ini saatnya aku move on dari kamu Qiya,,,,, aku sangat mencintaimu dan tak kan mungkin melupakanmu,,,, tapi jujur belakangan ini aku menemukan kenyamananku lagi dan aku juga bisa tersenyum bahagia semenjak bertemu dengan Fatih lagi, apakah kamu tak akan marah jika aku menerima Fatih??" batin Aruna dalam hati,,,,, kemudian dia mengambil nafas dalam dan menghembuskannya
"baiklah mari kita coba" jawabnya pada Fatih sambil tersenyum tipis
"terima kasih terima kasih terima kasih" ucap Fatih girang sambil menciumi tangan aruna dan tak terasa ia meneteskan air mata
"udah ah,,,ayo keluar entar mama nungguin aku" ajak Aruna juga sambil meneteskan air mata haru melihat kebahagiaan Fatih
"kamu jangan nangis dong,,,,, ayo kita turun sekarang" ucap fatih sambil menyapu air mata aruna lalu keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk aruna
saat aruna akan keluar handphone Fatih berbunyi, dan Aruna neminta Fatih mengangkatnya kemudian Fatih mengangkatnya
"iya halo"
*_*
"harus sekarang"
*_*
"ok aku segera kesana" kemudian menutup sambungan teleponnya
"kenapa??" tanya Aruna
"ada pasien yang harus aku tangani"
"Ya udah kamu langsung ke sana aja" sambil keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu rumahnya
"tapi tante gimana??? aku kan belum balikin kamu"
"nanti aku bilang ke mama kalau kamu ada tugas darurat"
"*ya udah kalau gitu aku pergi sekarang ya"
"ok hati hati ya"
"ok*"
sebelum meninggalkan Aruna tiba tiba dia memberi ciuman di kening lalu mengelus pipi Aruna yang sontak membuat pipi Aruna memerah
"aku pergi dulu kamu baik baik ya" kemudian beranjak meninggalkan rumah Aruna sambil melambaikan tangan yang juga di balas aruna
Tanpa mereka sadari ada seorang yang memperhatikan mereka dari dalam rumah Aruna
"Kau hanya milik ku Aruna tak kan ku biarkan seorangpun memilikimu kecuali aku" tersenyum sinis
to be continue
Hayooo lo siapa ya yang memperhatikan mereka??? 😄😄Insya Allah disambung lagi hari minggu ya soalnya besok kerjaan author di dunia nyata harus melembur🙏🙏 jadi up nya libur dulu dong,,,,,