My Fat Girl

My Fat Girl
Momongan



"Aruna pov"


Jika orang bilang,,,,,, akhirnya aku menikah dengan Fatih,tapi bagiku ini bukan sebuah akhir, menikah adalah awal dari kehidupan dua orang berbeda gender, sifat, dan pemikiran.


Nyatanya meskipun sudah 14 tahun aku mengenal Fatih, ada saja hal atau sifat yang belum aku ketahui dari dia. Seperti fakta bahwa ia sangat mencintaiku sejak 14 tahun yang lalu, atau dia yang ternyata mempunyai sifat yang begitu manja dan sekarang dia juga sangat tidak suka jika aku keluar tanpa mengenakan hijab, ya aku memang wanita bersuami jadi aku harus menurut pada suamiku.


Tapi jangan salah aku suka, dan semua ini tetap membuat aku sangat bahagia, sehingga mempengaruhi berat badanku juga, rasanya pengen tepok jidat,,,,,,,, jika saat kehilangan Qiya aku ikut kehilangan banyak berat badanku, kini saat menikah dengan mas Fatih berat badanku naik pesat, sepuluh kilo dalam lima bulan. Dan jika beberapa orang mengatakan gendut adalah barometer kebahagiaan, ya itu memang berlaku padaku, aku sangat bahagia dan juga gendut.


Keadaan ini sedikit banyak juga menggangguku, selain terganggu dalam bergerak, aku juga takut suamiku akan tergoda pelakor yang aduhai di luar sana, tapi kembali lagi mas Fatih selalu meyakinkanku, dia mencintaiku apa adanya bagaimanapun keadaanku. Ini tidak hanya dikatakan olehnya tapi benar benar aku rasakan.


Tapi sebenarnya ini yang paling aku takutkan, kenaikan berat badanku juga berpengaruh pada sulitnya aku mendapatkan momongan.


Aku dan mas Fatih sebenarnya sudah mengecek kondisi masing masing ke dokter, dan dokter bilang kami sama sama subur, hanya saja kembali ke urusan berat badan, dokter miminta aku sedikit menurunkannya. Sejujurnya aku sudah sangat berusaha, tapi menurunkan berat badan tak semudah membalik telapak tangan, bagiku itu adalah hal yang sulit, dan lagi menurutku memang Sang pemberi belum mau memberi titipan monongan padaku, aku hanya harus sedikit lebih bersabar.


Karena sebenarnya kami berdua belum terlalu khawatir juga dengan ini, mengingat pernikahan kami yang masih hitungan bulan, begitupun dengan mertuaku mereka juga masih terlihat santai dan tidak menuntutku.


Tapi lain lagi dari pihak luar, seperti bude, bulik, tetangga atau teman, mereka semua tak ada bosan bertanya tentang momongan pada kami, terkadang aku juga merasa risih. Kenapa mereka tak melihat pernikahan lain yang umurnya sudah banyak tapi belum dikarunia momongan.


Tapi memiliki momongan bukan hanya sekedar saat kita siap atau ingin. Momongan adalah pemberian Tuhan yang tidak bisa diminta paksa atau ditolak, Tuhan pasti sudah mengatur kapan waktu yang tepat untuk memberi.


Jadi tolong bagi siapapun yang senang sekali bertanya


"Sudah hamil?"


"Kenapa belum juga hamil?"


"Gak bisa buat anak ya?"


"Mandul mungkin"


Please hargai orang lain,,,,,! kalian mungkin tak sadar dengan bertanya seperti itu, sudah sangat menyakiti hati kami.


***


Hari berganti hari pertanyaan pertanyaan tentang momongan tak pernah hilang, ya karena memang aku juga belum hamil sampai saat pernikahanku di tahun ke dua ini. Aku kerap mengeluh dan menangis pada mas Fatih seperti malam ini


"Udah dong yank,,,,, kamu kan udah sering dengar budhe bilang gitu, gak usah dimasukin hati" kata mas Fatih menenangkanku


"Hikz aku tau mas,,,, tapi sulit untuk pura pura gak dengar apa yang budhe bilang" jawabku sambil terisak


Lantas mas Fatih ikut naik ke ranjang dan memelukku


"Kamu tau kan aku cinta sama kamu apa adanya? ibu sama bapak juga gak mempermasalahkan ini kan?"


"hikz hikz aku tau mas tapi aku ngerasa jadi wanita yang gak berguna,,,,,, bagaimana kalau aku gak bisa hamil?" aku makin menangis takut yang ku khawatirkan itu benar benar terjadi


"Hust,,,,,, jangan ngomong gitu" ucap mas Fatih sambil meletakkan telunjuknya dibibirku "setiap perkataan orang muslim adalah do'a yank, jadi ucapkan yang baik baik saja!"


Perkataan mas Fatih hanya ku jawab dengan anggukan sambil ku peluk erat tubuhnya.


"Untuk,,,?"


"Untuk cintamu yang begitu besar padaku, dan aku minta tetaplah bersamaku sampai akhir hayat nanti ! entah kita bisa memiliki momongan atau tidak"


Ku lihat mas Fatih tersenyum,,,,, kemudian dia mencium hangat keningku


"Kamu ingat?? dulu aku sanggup menunggumu selama 14 tahun, jadi sekarang atau nanti insya Allah aku akan selalu bersamamu, jika Allah tak memberi kita momongan dari rahimmu sendiri , kita bisa mengadopsi anak"


Aku mengangguk dan makin mengeratkan pelukanku, aku sangat bersyukur memiliki mas Fatih dalam hidupku.


***


Lantunan adzan subuh membangunkanku dari tidur, ku raba tempat di sisiku telah kosong, ku dengar gemercik air dari kamar mandi, ternyata mas Fatih sudah bangun, lantas aku ikut bangun dan menunggunya keluar, tak berapa lama dia keluar


"Ayo yank cepet wudhu kita jamaah subuh"


"Iya mas" lantas aku beranjak dan berjalan menuju kamar mandi dan langsung mengambil wudhu.


Kembali dari kamar mandi langsung ku kenakan mukena, dan kami memulai salat subuh kami. Setelah salam terakhir ku cium tangan mas Fatih dan dia balas mencium keningku, kebiasaan kami setiap pagi jika mas Fatih sedang tidak kerja sift malam.


Setelah selesai salat subuh aku segera menuju dapur, dan melakukan rutinitasku setiap pagi bersama mertua, kami selalu memasak bersama, ibu adalah sosok mertua yang sangat mengayomi dan sama sekali tidak otoriter. Aku bersyukur bisa memiliki ibu mertua seperti beliau, karena kasih sayangnya juga menyamai kasih sayang almarhum mama.


"Nduk,,,,,, besok ada arisan keluarga lagi, kamu bisa ikut??? tanya ibu padaku


Sejujurnya aku amat tidak suka acara arisan itu, karena arisan keluarga artinya perkumpulan keluarga dan jelas disana akan ada pertanyaan pertanyaan tentang momongan lagi, tapi aku juga tidak enak dengan ibu jika aku tidak ikut.


"Enggih buk Aruna bisa ikut"


"Kalau kamu ndak nyaman, ndak ikut juga ndak apa apa kok nduk" Seperti mengetahui kekhawatiranku ibu langsung memberi pilihan padaku


"Ndak apa apa kok buk Aruna sudah terbiasa dengan itu"


"Kamu yang sabar ya nduk ibu tau cepat atau lambat Allah pasti menitipkan momongan dalam rumah tanggamu" ucap ibu menenangkanku


Aku langsung mendekat ke arah beliau dan memeluk beliau


"Terima kasih buk, ibuk memang mertua terbaik, Runa yakin besok akan kuat kalau ibu bersama Runa"


Ibu balas memelukku dan menepuk nepuk pundakku.


"Ini kenapa ada acara peluk pelukan di dapur?"


Tiba tiba suara mas Fatih mengagetkan aku dan ibu, dan kami hanya menjawabnya dengan tawa.


To be continue


Selamat menghadapi mak mak rempong Aruna,,,,,, Haduh kebayangkan mulut emak emak kalau lagi nyinyir, pasti deh pada punya pengalaman dinyinyirin, salam hangat dari Author, selamat membaca reader jangan lupa like, komen dan vote terima kasih🙏🙏