
"Laika pov"
Aku tertegun saat melihat perempuan itu, aku seperti sedang bercermin , itu adalah wajahku versi lembutnya. Perempuan itupun juga sama terkejut melihatku.
"AIRA" pekiknya ke arah ku
Aku menoleh ke kanan dan ke kiri mencari tahu mungkin ia meneriaki orang di sampingku, tapi nihil tak ada siapapun di samping kiri maupun kananku.
tapi pandangan perempuan itu tetap ke arah ku, lantas aku mengarahkan telunjuk kanan ke arahku juga yang berarti "maksudnya aku???" dan dia mengangguk.
"Maaf nona saya Laika bukan Aira??" jawabku padanya yang kemudian membuatnya terlihat bersedih.
Kemudian perempuan itu berdiri dan menghampiriku.
"Ra,,,, kamu lihat wajah kita sama,,, kita itu kembar" ucap perempuan itu lagi padaku
"Bukannya memang banyak di dunia ini orang yang hampir sama, dan mereka tidak kembar bahkan tak memiliki hubungan darah sama sekali" jelasku padanya
"Tapi aku yakin kamu Aira kembaranku,,,,,, setidaknya hatiku berkata begitu"
"Omong kosong,,,, aku memiliki orang tua dan aku anak tunggal,,,, maaf nona permisi jangan mengganggu saya" ucapku lagi kemudian berlalu meninggalkannya .
Ternyata ia terus mengikutiku sambil terus meneriakkan nama Aira, aku segera masuk ke mobil dan memacu kendaraanku meninggalkan taman tersebut.
Entah apa yang perempuan itu fikirkan, bagaimana bisa dia menganggapku kembarannya, sungguh menggelikan,,,,,,,
Rasanya hari ini energiku terkuras habis menghadapi hal hal yang tidak terduga, saat dipemberhentian lampu merah aku melihat jam di tangan kiriku, rupanya sudah jam 11.45 sudah waktunya mengisi perut.
Saat lampu berubah hijau aku segera menginjak gas, sambil memperhatikan tempat makan terdekat di sekitar jalan, ku lihat ada kafe yang terlihat nyaman, ku hentikan mobilku disana.
Setelah mobilku telah terparkir rapi aku memasuki kafe tersebut, tanpa disangka lagi lagi aku bertemu Alan, dia sedang duduk membelakangiku di meja paling sudut, akhirnya ku putuskan untuk menghampirinya.
"Al" sambil ku tepuk bahunya dari belakang
Dia terlihat kaget dan langsung menoleh ke arahku,,,, senyumnya terbit saat melihatku.
"Kak Ai"
Aku hanya menganggukan kepala lantas duduk di depannya, setelah duduk aku segera memanggil pelayan untuk memesan makanan.
"Kak Ai dari mana??" tanyanya padaku setelah aku selesai mencatat pesanan dan menyerahkannya pada pelayan.
"Ada urusan sebentar di sekitar sini" jawabku pada Alan yang hanya ditanggapi dengan kata oh,,,,,
Tak berapa lama pesananku sudah datang, kemudian kami menikmati makanan kami masing masing.
Suasana di kafe ini sangat nyaman,,,,,baru kusadari kalau semua pelayan perempuan di sini memakai baju panjang dan penutup kepala
"Apa mereka tidak merasa panas??" batinku bertanya
Musik yang diputar di kafe ini juga terdengar sangat nyaman di telinga, namun tiba tiba musiknya dihentikan begitu saja, ku fikir mungkin alat pemutarnya rusak. Tapi tidak,,,,,, sekarang malah terdengar alunan nyanyian lain tanpa musik, suaranya penyanyinya terdengar merdu, seketika aku menghentikan acara makanku untuk mendengarkannya, ternyata Alanpun juga melakukannya.
Namun setiap penyanyi itu selesai menyanyikan lagu yang tak ku mengerti artinya, Alan menjawab nyanyian itu dengan kata yang juga tak ku mengerti artinya, ku lirik hampir semua pengunjung juga melakukan hal yang sama.
Aku jadi berfikir apakah mereka penganut aliran sekte tertentu??? aku tak perduli,,,, yang aku tahu suara alunan nyanyian itu sangat indah, meski tak tahu artinya tapi lirik itu menyentuh hatiku, tanpa terasa mataku memanas, dan tanpa tahu malu air mataku menetes.
Sungguh memalukan aku tipe orang yang sangat jarang menangis, dan kini aku menangis hanya karena sebuah alunan lagu, menggelikan memang,,,,,, Tak berapa lama lagu itu berhenti, aku sedikit kecewa kenapa harus secepat ini lagunya habis.
Kulihat Alan tampak menengadahkan tangannya seperti mengucapkan sesuatu, lantas ia memandangku
"Kak,,,,,, Alan salat sebentar ya" ucapnya padaku
Alan lumayan cukup lama di dalam, lama lama aku penasaran juga, lantas aku beranjak menuju ruangan itu dan mengintipnya dari luar, ku lihat disana banyak orang berbaris dan melakukan gerakan gerakan. Aku tau mereka sedang beribadah aku pernah melihat tayangan tv yang menayangkan ibadah ini.
Puas mengetahui apa yang Alan lakukan di ruangan tersebut, aku kembali ke tempat dudukku dan melanjutkan makan. Tak lama Alan sudah kembali dan melanjutkan makannya,
"Maaf ya kak,,,, Alan lama"
"Gak apa apa kok Al, eh Al ngomong ngomong sebelum kamu masuk ke ruang musholla itu,,,,," ucapku sambil menunjuk ke arah musholla,
"Iya kak kenapa? jawab Alan dengan manggut manggut
"Itu tadi lagu tadi apa judulnya??"
"Laguuu???" Alan terlihat bingung sambil menggaruk garuk kepalanya yang sepertinya tidak gatal
"Iya yang setiap ada jeda trus kamu ngomong sesuatu" kataku lagi ,,,, aku juga bingung mau menjelaskan bagaimana
"Ya Allah kak itu bukan lagu"
"Hah,,,,, lalu apa dong???" tanyaku bingung,,,, padahal tadi aku mendengar bagaimana merdunya lantunan syairnya.
"Itu namanya adzan kak bukan lagu"
"Adzan???" tanyaku bingung,,,,, aku butuh penjelasan dari Alan
"Iya adzan atau panggilan salat,,,," jawab Alan diselingi jeda "ngomong ngomong kepercayaan kakak apa??"
"Heheheheh aku seorang atheis" jawabku kik kuk pada Alan
Tapi Alan tidak sedikitpun menghakimiku, dia malah terlihat tersenyum dan memakluminya.
"Kau tak menghakimiku?" tanyaku padanya
"Aku gak berhak untuk itu kak,,,,, kepercayaan adalah urusan pribadi seseorang, jadi sepenuhnya keputusan ada di tangan kakak, tapi kalau boleh tau kenapa kakak memilih menjadi seorang atheis??"
"Ah itu??? papiku juga seorang Atheis dan dari kecil aku hanya tumbuh dilingkungan seperti itu, aku tak pernah bergaul dengan orang luar, jadi sama sekali aku tak mengerti tentang apa itu tuhan atau agama"
Lagi lagi Alan hanya menanggapi dengan senyuman, selama hidupku rasanya baru kali ini aku bisa berbicara nyaman dengan orang lain, beberapa kali bertemu dengan Alan aku bisa menilai kalau dia anak baik. Orang tuanya mendidik dengan baik, andai saja papiku seperti orang tua Alan.
"Al kenapa orang harus memiliki agama??" tanyaku penasaran
"Alan akan jawab menurut pandangan pribadi Alan kak, jadi jika kakak tanya orang lain lagi mukin pandangan mereka akan beda dengan pandanganku" jawab Alan sambil tersenyum
"Ok tak masalah"
"Dasar semua agama adalah percaya adanya Tuhan kak, mengapa kita harus percaya adanya tuhan??" Alan bertanya dan aku hanya menggeleng tidak tau jawabannya
"Karen semua yang ada di dunia tak mungkin ada tanpa ada yang menciptakan yaitu Tuhan, dan kembali lagi setiap agama mengajarkan kita mempercayai adanya Tuhan, dan di semua agama apapun memiliki aturan standar moral dalam berinteraksi atau memperlakukan mahkhluk lain entah itu manusia, hewan maupun alam. Kita membutuhkan pedoman itu untuk pegangan hidup kak, dan percaya pada Tuhan juga bisa membuat hati kita tentram, misalnya jika kita ada masalah hati kita akan tentram jika mengadu pada Tuhan"
"Dan menurutmu agamamu paling baik sehingga kamu memilihnya?"
"Bagi Alan semua agama itu baik dan mengajarkan kebaikan, kepercayaan itu datangnya dari sini" jawab Alan sambil menunjuk dadanya "Dan Alan percaya dengan agama Alan ini, bukan berarti Alan menganggap agama lain tidak baik"
To be continue
Semua agama itu mengajarkan kebaikan yang kadang jelek adalah masing masing pribadinya, jadi jangan menjelekkan agama lain.
Quote Author