My Fat Girl

My Fat Girl
Oh No Flek



"Fatih pov"


Panik tentu saja ku rasakan, ini adalah penantian kami selama 2 tahun berumah tangga, dan pagi ini kami harus dihadapkan dengan pendarahan.


Tanpa berfikir panjang aku langsung bangkit dari ranjang, kemudian memakai bajuku yang tercecer akibat aktivitas semalam. Segera ku cari nama Iman di smarthphoneku, tak menunggu lama langsung ku dial nomor itu setelah menemukannya.


"Halo Assalamualaikum,,,,," ucapku ketika panggilan di angkat


"Waalaikumsalam" jawab suara di sebrang telpon "Ada apa bro? pagi pagi gini udah tlpon"


"Bro tolongin gue,,,,, istri gue bro dia ngeluarin darah" ucapku panik


"Wait,,,,, wait,,,,,, tenang gak usah panik,,, ceritain kronologinya" ucap dokter Iman menenangkan


"Bangun tidur tiba tiba dia ngeluarin darah"


"Coba lo cek darahnya merah segar atau coklat" titah Iman padaku


Segera aku cek darah yang keluar dari bagian bawah Aruna, ku teliti dan terlihat memang warnanya agak kecoklatan


"Agak kecoklatan man" ucapku pada Iman setelah mengeceknya


"Ok,,,, sekarang tanyain istri lo,,, sekarang dia ngerasa pusing, nyeri perut atau punggung bawah gak?? titah Iman lagi padaku


"Biar gue load,,, biar lo langsung denger jawaban istri gue" ucapku pa Iman


"Iya ok"


"Yank gimana sekarang kamu ngerasa pusing, lemes , atau perut sama punggung bawah kamu ngerasa nyeri gak?" tanyaku pada Aruna


"Enggak kok mas, aku gak ngerasain apa apa" jawab Aruna


"Lo denger kan Man?" tanyaku pada Iman yang mendengarkan di balik telepon


"ok berarti bukan tanda tanda keguguran atau kehamilan ektopik, gak usah panik entar jam 9 bawa aja ke tempat praktek gue!" penjelasan Iman yang membuatku lega


"Ok Man terima kasih buat bantuan paginya"


"ok"


"Wasalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Lalu kututup telepon dan segera ku hampiri Aruna


"Yank kamu tenang ya, Insya Allah gak apa apa kamu bersih bersih ke kamar mandi gih, entar jam setengah delapan kita berangkat ke tempat praktek Iman"


"Iya mas,,,,,"


Kemudian Aruna membersihkan diri di kamar mandi, setelah ia selesai aku pun ganti membersihkan diriku, aku harus bersuci dulu sebelum menunaikan kewajibanku.


Selesai menunaikan kewajibanku, aku menengadahkan tangan dengan khusyuk, aku benar benar memohon pada yang Maha segalanya untuk melindungi janin di perut istriku, aku juga memohon ampun atas segala dosa dosa yang selama ini aku perbuat, tak terasa air mataku mengaliri pipi.


Sebagai laki laki bukannya aku melankolis, tapi aku benar benar takut jika harus kehilangan calon anak yang sudah kami tunggu selama dua tahun ini, aku tak bisa membayangkan akan seperti apa perasaan Aruna jika itu benar benar terjadi.


Selesai salat aku segera menelepon Nia, aku minta dia untuk menggantikan jam praktekku pagi ini, karena aku harus mengantar Aruna ke tempat Iman.


"Bu maaf Aruna gak bisa bantuin ibu masak, biasa dia lemes lagi,,, nanti aku juga mau ajak dia cek up dulu" ucapku pada ibu yang sedang berkutat di dapur


"Iya le ndak apa apa,,, ini ibu sudah hampir selesai masaknya, kamu sarapan dulu sama bapak biar ibu yang anterin makan buat Aruna"


Setelahnya ibu segera menyiapkan makanku dengan bapak, kemudian beliau mengambilkan makan untuk Aruna, sedangkan aku mulai menyantap sarapan dengan bapak.


Jam sudah menunjukkan pukul 08.30, aku segera mengajak Aruna untuk berangkat ke tempat Iman. Di perjalanan nampak jelas kekhawatiran di wajahnya, aku hanya bisa memberikan kata kata penenang agar dia tak terlalu takut.


Sesampainya di sana aku dan Aruna langsung memasuki ruangan Iman, karena Ini masih pagi pasien lainnya belum ada, jadi kami segera di tangani oleh Iman.


Pertama seorang perawat segera memeriksa tensi Aruna, Setelahnya Aruna segera dibimbing untuk berbaring di ruang USG, ku lihat suster itu memasangkan selimut dan mulai membuka baju Aruna untuk mengolesi perutnya dengan gel pelumas.


Setelah gel pelumas selesai di oleskan ke Aruna, Iman masuk dan mulai menggerakkan ujung transduser ke perut Aruna.


"Aman kok Fat,,, kayaknya cuman inveksi serviks biasa, ini kamu pasti mainnya gak pelan pelan"


Deg,,,,


"Benar semalam aku melakukan rutinitas itu" batinku dalam hati


Dengan hati hati aku mulai bertanya pada Iman


"Apa aktivitas itu berpengaruh Man??"


"Tentu berpengaruh Fat,,,, di kehamilan yang masih muda sebaiknya intensitasnya dikurangi, dan gunakan juga gaya gaya yang aman, seperti menghindari posisi yang bisa menekan perut ibu"


Mendengar penjelasan Iman aku jadi merasa bersalah, ini pasti gara gara aku semalam. Ku lihat Aruna menunduk dengan muka memerah, ah aku lupa pasti dia malu aku menanyakan hal sensitif mengenai ranjang ke Iman di depannya, karena terlalu takut tadi aku sampai tak memikirkan perasaan Aruna.


Iman yang paham dengan suasana canggung tersebut segera memecah dengan ucapannya


"Eeeheeemmmm tak usah khawatir kandungan mbak Aruna baik baik saja, akan saya beri vitamin lagi dan obat penguat"


"Iya dok terima kasih" ucap Aruna pada Iman


"Eh tapi tunggu tunggu,,, " ucap Iman sambil kembali menggerakkan transdusernya "Sepertinya kalian akan memiliki dua bayi"


"Sungguh,,,,,??" tanyaku berbarengan dengan Aruna


Kami sungguh terkejut dengan berita ini, bukannya kami tidak suka tapi kami terlalu bahagia mengetahuinya.


"Mas kita akan punya anak kembar,,,," ucap Aruna antusias dengan mata berkaca kaca


"Iya yank,,,,,kita dapat anak kembar" jawabku sama antusiasnya


Kemudian ku peluk dan cium puncak kepalanya dengan haru, dan seperti kemarin Iman selalu mengganggu kami dengan dehemannya.


"Lanjut di rumah aja bro, tapi inget jangan kayak kemarin lagi,,,, nanti kamu ganggu aku pagi pagi lagi kayak hari ini"


Ah sial sindiran Iman buat Arunaku makin malu,,,,,,,


To be continue


Maaf hari ini nulisnya cuma dikit, lagi repot Authornya,,,, tetep dukung Author ya dengan like, coment dan vote