
"Fatih pov"
*Tujuh tahun kemudian*
Kota sang******** provinsi kalimantan timur kota ini cukup jauh dari bandara sepinggan Balikpapan, membutuhkan waktu tiga belas jam untuk mencapainya itupun kalau tidak ada kendala seperti perbaikan jalan atau macet karena kecelakaan, untuk mencapai kota ini kita juga harus melewati jalan perbukitan yang berkelok kelok tapi alkhamdulillahnya jalan sudah cukup mulus namun hanya sampai kota sangat** setelah melewati kota sangat** jalan sudah mulai terjal apalagi kalo semakin masuk ke lokasi yang aku tempati ini jalan berlumpur sudah mendoninasi, jika hujan datang jalan menjadi becek dan susah untuk dilewati
Sudah tujuh tahun aku di sini, sebenarnya hanya memerlukan waktu beberapa bulan untuk melakukan tugasku namun karena aku masih merasa belum bisa melupakan aruna aku memilih untuk tetap tinggal dan bekerja di sini, aku bahkan telah memutus komunikasiku dengan aruna,beberapa hari setelah sampai disini aku mengganti nomer telepon, sosial media juga tak pernah aku sentuh lagi dan nomer telepon ini hanya keluarga dekat saja yang mengetahuinya saudara jauh maupun sahabat satupun tak ada yang mengetahuinya
Awal awal aku mengganti nomer saat ibu telepon ibu selalu menceritakan tentang kabar aruna padaku,,,, beliau sangat tahu sebenarnya anaknya masih tersiksa dan merindukan aruna, namun lambat hari aku melarang ibu bercerita akan sulit bagiku untuk melupakannya bila tetap mengetahui kabarnya
Setelah beberapa tahun ini kufikir sedikit membuahkan hasil aku mulai bisa mengendalikan diri, meski jujur sebenarnya masih ada rasa itu untuk aruna wajar saja sudah sejak SMA aku menyukai dia tapi aku segera tersadar ketika mengingat dia sudah menjadi milik Qiya seutuhnya dan aku tak boleh berharap lagi
Aku mengabdikan diri di salah satu puskesmas kecil di desa ini dan letaknya cukup terpencil, di ada apotik namun hanya kecil,,,, jika mau membeli perlengkapan medis yang komplit aku harus pergi ke kota Sangat** jaraknya lumayan jauh,,, bisa ditempuh dengan waktu empat jam tapi disana sudah cukup ramai banyak apotik apotik besar ada juga mall,pasar induk,toko elektronik ,rumah sakit besar, pantai dan tentunya tempat tempat wisata lainnya, kadang sebulan dua kali aku akan ke kota ini untuk membeli perlengkapan medis sekaligus nerefreshkan pikiran
Hari ini jadwalku untuk ke kota sangat** guna membeli perlengkapan medis yang habis aku pergi kesana bersama salah seorang bidan yang bekerja bersama ku di puskesma itu, selama di kota ini aku dekat dengan dia,,, namanya santy dia orang asli dari sini,,,, hubungan kami hanya sebatas sahabat dekat tapi orang orang mengira kami menjalin hubungan tapi nyatanya aku tak pernah menyatakan cinta padanya karena teringgat pesan bapak aku tak boleh menikah dengan orang asli sini alasan bapak jika aku menikah dengan orang asli sini maka aku akan susah ketika mudik,,,, alasan yang lucu bagiku karena transportasi jaman sekarang sudah maju sementara bapak masih memusingkan hal itu, pun dengan santy orang tuanya yang asli dari suku d**** berpegang teguh pada keyakinan bahwa anaknya juga harus menikah dengan suku yang sama dengan mereka tapi orang tuanya tetap membiarkan kami berteman mereka sangat baik padaku
***
Setelah empat jam perjalanan akhirnya kami sampai di salah satu apotik langganan kami dan kami segera masuk untuk memesan perlengkapan yang kami butuhkan, setelah menyebutkan pesananan kami seorang apoteker segera mengambilkan pesanan kami tak menunggu lama apoteker itu kembali dengan membawa sebagian pesanan kami dan apoteker lain menyusul di belakangnya membawakan sebagian yang lain
"om ini maaf folavitnya tinggal sepuluh dus, tadi saya kira masih ada ternyata sudah diambil puskesmas ********* kemarin" jelas salah satu apoteker padaku (disini panggilan om sudah biasa untuk laki laki bahkan untuk orang yang belum menikah sekalipun)
"ah iya gak apa apa,,,," lantas mereka segera mengemas pesananku dan mengangkatkannya menuju mobil sementara aku masih di dalam menyelesaikan pembayaran pesanan kami, setelah selesai aku keluar dan segera masuk ke mobil bersama santy
"san makan dulu yuk" ajak ku pada santy
"ayukk aku juga sudah lapar dari tadi cuma dijadikan pengawal doang gak dikasih makan" keluhnya padaku
"hahahahahaha iya maafin ya,,,," sambil ku acak rambutnya, kemudian mulai ku jalankan mobil ke arah jembatan pinag,,,, di dekat jembatan ada rumah makan lalapan yang terkenal enak tapi belum sampai tempat mobilku sudah ngadat
"ah sial baget" pekikku sambil memukul kemudi
"*Yah mancet ini fat???"
"iya,,,,,"
"eh tapi di depan kayak ada bengkel mobil deh"
"masih lumayan lagi masak mau dorong??"
"udah kamu jalan aja panggil montirnya sekalian ajak kesini*" saran santy
"oh iya beener kamu" lantas aku turun dan berjalan ternyata tak jauh sepuluh menit berjalan aku sudah menemukan bengkel mobil yang bertuliskan auto jaya mobil, langsung saja ku cari montir disana
"iya mas bantuan apa??" tanyanya padaku
"mobil saya mogok di simpang tiga bisa mas ikut saya ke sana sekarang" jelasku padanya
"oh iya sebentar saya bawa alat" kemudian montir itu menganbil alat alatnya dan kudengar iya pamit pada rekannya untuk keluar melihat mobilku
"yuk mas bawa motor saja saya bonceng" akhirnya kami berboncengan menuju mobilku yang mogok tadi sampai disana montir itu langsung mengotak atik mobilnya dan mengetesnya ternyata kurang dari 30 menit mobil itu sudah menyala
"sudah bisa mas" tukas montir padaku
"*iya mas alkhamdulillah,,,jadi berapa mas"
" 150 mas"
"terima kasih mas*,,,," sambil ku serahkan uang 50 an tiga lembar
"sama sama" kemudian montir itu berlalu meninggalkan aku dan santy kemudian kami melanjutkan perjalanan untuk mencari makan
Sesampainya di rumah makan itu kami langsung memesan 2 porsi ikan bakar, cah kangkung beserta jeruk hangat, setelah pesanan kami datang aku dan santy langsung melahapnya hingga tandas, dan tak terasa hari sudah semakin siang aku dan santy akhirnya memutuskan untuk pulang
Tepat saat adzan magrib berkumandang kami sampai, aku segera kembali ke kosku dan segera menunaikan salat magrib selesai salat magrib aku duduk santai di teras kulihat smartphone di sampingku berbunyi ada nam bapak disana lantas aku langsung mengangkatnya
"Halo assalamualaikum le" sura di seberang
"*waalaikum salam pak, bapak gimana kabarnya?"
"alkhamdulillah bapak sehat tapi ibumu le dia sakit,,,katanya kangen banget sama kamu le,,, kamu mbo ya pulang,, sudah tujuh tahun lo le . kita cuma bisa ngobrol lewat telepon*" aku kaget mendengar penuturan bapak bahwa ibu sakit
"Enggih pak,,,, seminggu lagi akan ada dokter tambahan di sini aku akan meminta ijin untuk pulang setelah dokter itu datang" jelasku pada bapak
"*iya le di usahakan beneran lo ya,,, kasian ibumu kalau perlu kamu gak usah balik ke situ lagi"
"hhmmm enggih pak yaudah bapak istirahat saja"
"iya le wasalamualaikum"
"waalaikum salam*" kemudian kututup teleponnya
anganku mulai menerawang "haruskah aku kembali sekarang sudahkah aku bisa melupakan aruna??""
to be continue