
"Author pov"
Sepulang dari pantai Qiya masih jengkel pada Fatih, tentu saja jengkel karena jika difikir fikir dan dihubung hubungkan, memang sudah beberapa kali terjadi kegagalan kemesraannya bersama Aruna yang di sebabkan Fatih ,,,, "jangan jangan " ,,,,, ah tapi Qiya langsung menepis fikiran buruknya,,,, dulu dia sudah menanyakannya pada Fatih dan dia menjawab tidak,,,,
waktupun berjalan cepat menit berganti menit jam berganti jam minggu dan bulan pun juga sudah berganti, mereka semua telah lulus dari SMA nusa bangsa dengan nilai nilai yang memuaskan, apalagi Fatih dia menjadi lulusan terbaik seprovinsi, lantas mereka melanjutkan kuliah di universitas luar kota yang sama, namun dengan jurusan yang berbeda, Qiya dan Aruna mengambil jurusan Bisnis,,,, alasannya jelas Qiya akan menjadi penerus kerajaan bisnis ayahnya, sedangkan Aruna hanya mengikuti pria pujaannya, oh ya,,,, hubungan mereka juga semakin dekat orang tua mereka juga sudah saling mengenal.
Sementara Fatih ia mengambil jurusan kedokteran, dan ia sebenarnya juga masih mengharap takdir akan berubah sehingga Aruna bisa ia miliki,,, tapi sepertinya mustahil mereka malah semakin dekat saja, kalau Fia dia lebih memilih melanjutkan jenjang kuliah di kota asal saja,,,,, sejak saat itu mereka juga lost contac.
Dan semester demi semester jenjang kuliah mereka lewati dengan banyak kisah, banyak gadis gadis yang mepet Fatih dan berharap menjadi pacarnya, secara dia adalah high quality jomblo, wajah tampan, badan atletis siapa yang tak mengharapkannya coba? ya terkecuali Aruna gadis pujaannya, ia tulus menganggap Fatih hanya sebagai sahabatnya, tapi Fatih tetap enggan berkomitmen dengan gadis lain, karena hatinya masih tetap saja tertulis satu nama yaitu "ARUNA" hingga di semester akhir barulah Fatih mendapat kabar yang membuatnya harus menyerah
"Fat,,,,,,,," berlari menghampiri Fatih lalu memeluk Fatih erat, Aruna tak pernah tau bahwa perlakuan Aruna yang seperti itu yang masih membuat Fatih tak ingin menyerah untuk cintanya
"Bahagia banget sih??? udah ini lepas dulu dong,,,,"
"eh iya iya ,,,, hihihihi"
"ada berita apa*??" pasang muka tak acuh
"Lihat ke aku dong,,,,," merengek manja (entah kenapa tapi kalau bersama Fatih, Aruna bisa sangat manja)
"iya iya ada apa sih nona??" lalu memfokuskan pandangan pada Aruna
Aruna malah meringis memperlihatkan deretan gigi putihnya
"*aku tinggal ni,,,,, kalau cuma senyum senyum gak jelas gitu" gertak Fatih
"Hihihihihihi*,,,," sambil mencubit kedua pipi Fatih
"ih sakit tau Run,,,,"
"aku bahagia baget Fat,Qiya lamar aku Fat,,,,,"
jleeebbbb,,,,,,,,dada Fatih terasa nyeri tiba tiba telinganya berdenging dia seperti tuli
"Fat,,,,, Fat,,,,, aaaaahhhh,,, kebiasaan deh kalau diajak ngomong gak fokus Faaaaat,,,, " sambil menggoyang goyangkan bahu Fatih yang kemudian membuat Fatih tersadar
"*Qiya NGELAMAR aku Faaatt,,, ih kamu bolot deh sebel aku tu sama kamu"
"ohh,,, ya ya se selamat ya buat kalian berdua*" menjawab debgan terbata tapi berusaha tersenyum dan menahan air mata meskipun hatinya hancur berkeping keping
"Makasih sahabatku" lagi lagi sambil memeluk Fatih
"eh iya acara lamaran resminya 3 minggu lagi setelah sidang skripsi kita selesai,,,,,, kamu harus nemenin aku ya!" kita pulang ke B***** sama sama ok,,,,, yaudah aku balik dulu Qiya udah nunggu,,, bye ,,,Fatih,,," beranjak meninggalkan Fatih sambil melambai lambaikan tangannya
Sepeninggalan Aruna,,,,,, Fatih bagaikan kehilangan separuh dirinya,,,,tatapannya kosong ia merasa dunianya sudah runtuh, ia berjalan gontai menuju kos kosannya. sesampai di kos kosannya dia jadi seperti orang gila, dia tertawa kemudian menangis begitu seterusnya hingga melewatkan makan malamnya,,,,, semalaman ia juga tak bisa tidur, setiap memejamkan mata selalu ada bayangan Aruna yang sedang bersama Qiya di pelupuk matanya, lantas ia akan menangis lagi ,,,, hampir seminggu penuh ia seperti itu, hingga kuliahnya terbengkalai padahal sepuluh hari lagi adalah sidang skripsinya,,,,, Aruna yang tak mengetahui keterpurukan Fatih sesekali mengirim chat, dan menanyakan keberadaannya, Fatih hanya menjawab dia masih sibuk menyiapkan sidang skripsinya, setelah mendapat jawaban Aruna sudah sibuk lagi dengan persiapan lamarannya,,,,, meskipun sedang berada di luar kota keluarga dirumah tetap meminta pendapat Aruna agar acaranya nanti berjalan sesuai keinginan Aruna,,,,.
"Ini rasa seperti apa,,,,,
Aku bagai ditusuk ribuan sembilu,,,,,
semakin ingin ku menggenggamnya
semakin jauh pula ia terbang
mungkinkah ini akhirnya,,,,,,,,,,
cintaku harus menyerah
meski telah ku pupuk hingga subur
nyatanya kupu kupu enggan untuk hinggap
aku sendiri yang berdiri di atas harapan kosong
Harapan yang kini menenggelamkanku di jurang luka terdalam"
Fatih
to be continue