
"Author pov"
Ekspresi bundanya yang berubah total saat melihat keseluruhan wajah Laika, membuat Alan tertawa geli, dia sudah membayangkan bundanya akan berkata
"Al kamu mau ngerjain bunda?? dengan mendandani kakak kamu kayak gini??"
Pasti setelah ini bundanya akan merajuk padanya. Tapi prediksi Alan salah besar, malah Alan yang dibuat terkejut dengan sikap bundanya.
"AIRA,,,," teriak Aruna kaget
Tanpa aba aba Aruna langsung berdiri dan menarik Laika dalam pelukannya.
"Sayang kamu selamat sayang,,,,, bunda kangen sama kamu sayang" ucap Aruna sambil berlinang air mata
Aruna terus saja mengeratkan pelukannya seakan takut kehilangan Aira lagi, Laika yang menerima perlakuan itu tentu kaget dan bingung. Tapi di sisi lain hatinya merasa sangat nyaman dalam pelukan Aruna.
Alan yang terkejut karena bundanya memanggil Laika dengan nama Aira, lantas langsung membuka suaranya.
"Bund apa maksut bunda memanggil kak Ai dengan Aira?"
"Al dimana kamu menemukan kakakmu Al??" tanya Aruna balik tanpa menjawab Alan
"Bund bukannya kak Aira sudah lama meninggal??bagaimana bunda bisa bilang kak Laika ini kak Aira??"
Laika tambah bingung mendengar pertanyaan Alan pada bundanya.
"Memang sebagian keluarga besar kita mempercayai itu Al, tapi bunda dan ayah masih yakin kalau kakakmu masih hidup, karena kami tak sekalipun menemukan jasadnya, dan kami masih berharap Andi memiliki sedikit hati hingga membiarkan kakakmu hidup"
"Bund bisa saja ini kak Airi kenapa bunda langsung bilang ini kak Aira??"
"Bunda ibunya Al ,,,,,, bunda tau mana Airi mana Aira, Aira tak memiliki tahi lalat di dagunya seperti Airi"
"Tapi tante,,,,,,, belum tentu juga aku anak tante bisa saja aku hanya mirip, di dunia ini banyak orang yang mirip bukan??" sedari tadi diam mendengarkan akhirnya Laika mengeluarkan suaranya
"Kamu tak percaya pada bunda sayang??" ucap Aruna sambil memandang lekat Laika
Laika merasakan ada ketulusan dan keterlukaan dalam mata Aruna saat memandangnya.
"Jika kamu masih tidak percaya, izinkan bunda melakukan tes DNA padamu dan ayahmu sayang"
Laika tampak berfikir dan mempertimbangkan tawaran Aruna hatinya masih bimbang tapi dia juga penasaran, tapi ini juga salah satu cara membuktikan apakah dia benar putri papinya atau bukan.
Dengan masih ragu ragu Laika menyetujui usulan Aruna.
"Baiklah Ai mau melakukan tes DNA tan" jawab Laika ragu ragu
"Terima kasih sayang,,,,," ucap Aruna bahagia sambil memeluk Laika
"Sayang kamu sekarang tinggal dimana dan sama siapa??"
"kak Ai tinggal di kos kosan sendirian bund" Alan menjawab pertanyaan Aruna pada Laika
"Benarkah sayang???" tanya Aruna pada Laika memastikan, sedangkan Laika hanya menjawab dengan anggukan.
Perbincangan mereka terhenti saat pelayan restoran mengantarkan makanan pesanan mereka. Setelah pelayan pergi Aruna mengajak Alan dan Laika untuk mulai makan.
Aruna tampak bahagia melihat Laika dan Alan makan dengan lahap, dia sudah membayangkan akan sebahagia apa suaminya , saat tau dia telah menemukan anaknya yang telah hilang.
Setelah mereka telah menghabiskan semua makanannya. Aruna mulai berbicara lagi pada Laika
"Sayang bolehkah bunda tahu bagaimana kehidupanmu sebelum ini???"
Laika tampak bingung menerima pertanyaan itu dari Aruna, dia bingung mau cerita apa dan bagaimana. Alan yang melihat kebingungan di wajah Laika langsung menjawab pertanyaan bundanya
"Bund kita akan lama di restoran ini kalau bunda menyuruh kak Ai bercerita"
"Gak salah bund,,,, tapi tempatnya yang salah, lebih baik kita pulang dulu ke rumah dan ajak kak Ai ke rumah kita"
"Ide bagus Al,,,, kamu mau kan sayang ikut ke rumah bunda??"
Sebelum menjawab pertanyaan Aruna, Laika melihat dulu ke arah Alan, setelah Alan mengangguk Laika pun menyetujui ide itu.
Sejujurnya Laika masih bingung, dia tiba tiba diakui sebagai salah satu anak kembar dari bundanya Alan yang telah lama meninggal , lantas siapa tadi yang disebut "Andi??" apa hubungan nama itu dengan semua ini. Dan bagaimana dulu keluarga Alan bisa kehilangan salah satu anak kembarnya??
Fikiran Laika terus berkecamuk saat Alan memboncengnya menuju ke kediaman Alan, dan kebingungannya tadi semakin bertambah saat Alan membelokkan motornya ke rumah seseorang yang pernah ia intai yaitu Fatih.
Setelah Alan menghentikan motornya Laika sudah tak sabar untuk bertanya.
"Al ini rumah siapa??" tanya Laika bingung, kini dia menghubungkan perintah papinya membunuh Fatih dan statusnya yang sesungguhnya, apakah semua itu berhubungan.
"Ini rumah kami kak,,, rumah bunda juga rumahku,,, jika kakak bener bener kak Aira ini juga akan menjadi rumah kakak"jawab Alan
"Al tapi apa mungkin aku ini Aira??" tanya Laika tak yakin
"Kalau kak Ai gak yakin biarkan bunda melakukan tes DNA pada kakak"
Saat Laika dan Alan masih sibuk berbicara, mobil yang ditumpangi Aruna sampai di kediamannya, Aruna segera turun dan menghampiri Laika.
"Sayang ayo kita masuk" ajak Aruna pada Laika
"Bund aku gak diajak masuk" tegur Alan pura pura merajuk
"Al sayang masak kamu cemburu sama kakak kamu sendiri?"
"Iya bund Al cuma bercanda"
Kemudian Aruna dan Alan mengajak Laika alias Aira masuk ke rumahnya, Aruna langsung menuntun Aira ke kursi samping rumah, yang biasanya ia gunakan duduk santai dengan Fatih.
Disana sudah ada Airi yang tampak melamun memandang ke arah kolam renang,
"Ehemmm kamu ngapain Ri?? lihat bunda bawa siapa ini???" ucap Aruna mengganggu lamunan Airi
Airi yang mendengar ucapan bundanya langsung menolah, dan terkejutlah Airi saat melihat siapa yang bundanya bawa.
"Kamu" ucap Airi dan Aira berbarengan
Aruna yang melihat kekompakan kedua gadis itu tersenyum bahagia.
"Bunda dimana menemukan gadis ini?? aku dan ayah sudah mencarinya berhari hari tapi tak juga menemukannya"
Aruna, Alan dan Aira seketika kaget mendengar penuturan Airi
"Jadi kamu dan ayah sudah pernah bertemu Aira??kenapa kamu gak bilang sama bunda??"
"Ayah belum sih bun,,,, aku yang sudah bertemu dia, dan aku bilang sama ayah"
"Kenapa gak bilang ke bunda??" tanya Aruna kecewa
"Bukan begitu bund,,, aku dan ayah hanya mau memastikan dulu ini beneran Aira atau bukan"
"Kalian sungguh keterlalulan,,,, Alan selama ini tau keberadaan Aira kamu dan ayah juga, hanya bunda yang tidak tahu" ucap Aruna penuh kecewa "Sekarang telepon ayahmu suruh pulang!" ucap Aruna lagi dengan tegas
Airi yang takut melihat kemarahan bundanya langsung menelepon ayahnya untuk pulang. Sekitar 15an menit setelah ditelepon Fatih pun sampai di rumahnya, setelah masuk rumah Fatih tampak terkejut melihat dua anak kembarnya berdiri berdampingan. Berulang kali dia mengucek matanya, takut takut kini matanya sudah mengalami minus, tapi berulang kali di kucek di depannya tetap ada dua anak.
"AIRA ,,,,,. "
To be continue
Ini sudah mulai part happy happy ya gezzz,,,,,, biar para reader semangat like, comment dan vote.