
"Author pov"
Semenjak pertemuannya kembali dengan fatih hidup aruna kini menjadi penuh rasa ada rasa bahagia, seru dan yang paling dominan tentunya jengkel,,,,, kenapa aruna harus jengkel???? tentu saja karena ada dua orang laki laki dewasa yang tiba tiba berubah layaknya anak kecil yang sedang berebut permen,,,, siapa lagi kalau bukan fatih dan andi,,,, setiap hari sepulang kerja mereka pasti mampir ke rumah aruna dan rumah aruna akan dijadikan medan persaingan mereka
Andi maju dengan dukungan papa aruna sedangkan fatih dengan dukungan mama,,,, owh,,,,, sungguh kadang kala aruna ingin menghilangkan saja dari kerumitan ini, sementara ini di hatinya masih saja tersimpan nama Qiya, dari awal aruna hanya menganggap andi sebagai dokter dan teman yang menyembuhkannya dari depresi, sedangkan untuk fatih tak pernah ia bayangkan bahwa dia akan lebih dari sekedar sahabat ,,,,
meskipun aruna sering kali jengkel dengan kehadiran dua laki laki itu namun karena seringnya mereka datang itu juga menjadikannya terbiasa dengan kegadiran mereka,, dan ketika hanya andi yang muncul di rumahnya entah mengapa aruna merasa merindukan kehadiran fatih,, ,,
"kamu kemana sih fat kok gak datang?" gumamnya dalam hati ketika hanya andi yang mengganggunya dari tadi
"run ,,,,,run,,,,,, run,,,,,,,," panggil andi sambil menggoncang goncangkan tubuh aruna karena pertanyaannya dan pembicaraannya dari tadi tak didengar aruna
aruna yang terkaget atas goncangan andi hanya menjawab "hhmmmm,,,,," sambil menatap andi malas
"*kamu kenapa sih gak fokus diajak ngomong?
"aku lagi capek di boleh ya aku istirahat kamu pulang aja dulu*,,," mohon aruna pada andi
andi yang melihat tatapan memohon aruna jadi tak tega,,,,, meskipun ia masih ingin berlama lama dengan aruna tapi dia akan menuruti permintaan aruna dan kemudian ia pamit pulang
sepeninggal andi aruna berulang kali melihat handphonenya,,,, ditunggu dari tadi tak ada satupun pesan chat dari fatih,,,, entah kemana fatih hari ini,,,,,, "apakah aku merindukanny? ah mana mungkin" gumamnya lagi dalam hati,,, suasana hati aruna tiba tiba memburuk dan untuk menghilangkan perasaan tidak enaknya akhirnya aruna memutuskan untuk jalan jalan di mall saja,,,,,
"Aruna pov"
ya mungkin dengan jalan jalan di mall seperti ini akan sedikit mengurangi perasaan tidak enakku ini,,,,, aku berjalan menyusuri stand acsessoris, kemudian berpindah ke stand tas tapi belum juga ada barang yang aku inginkan,,, kemudian aku ingat kalau aku membutuhkan sepatu sport karena sepatuku yang lama sudah rusak,,,, akhirnya aku berjalan menuju stand sepatu,,, memasuki toko sepatu aku disuguhkan deretan sepatu snikers di rak sebelah kanan sedang kan di sebelah kiri ada deretan sepatu kerja pria, sepatu sport yang kucari ternyata berjejer di belakang dekat dengan deretan sepatu kerja wanita dan akupun berjalan menuju deretan sepatu itu,,,, tapi di bangku depan deretan sepatu kerja wanita ada seorang wanita yang duduk dan di depannya ada seorang cowok yang jongkok memasangkan sebuah sepatu untuk wanita itu sungguh sebuah adegan romantis dan kenapa juga aku melihatnya saat aku akan melangkah ke arah deretan sepatu sport
"eh sepertinya aku tidak asing dengan cowok itu" batinku dan aku terus memandangi punggung cowok tersebut tak beberapa lama cowok itu tiba tiba menoleh ke belangkang dan mata kami saling bersitatap
Tiba tiba perasaan tidak enak yang mulai menghilang tadi muncul lagi,,,,,,
"ow jadi ini alasannya tidak datang kerumah dan tidak sempat mengirim pesan padaku?? ok fix,,,,, aku mengerti" seketika aku langsung meninggalkan toko sepatu itu dengan hati yang jengkel,,,,, aku berjalan semakin cepat saat suara di belakangku berteriak memanggil manggil namaku,,,, aku sudah tak perduli karena yang pasti aku hari ini kecewa
"what,,,, aku kecewa? kenapa aku harus kecewa bukankah itu haknya mau dekat dengan siapa saja aku hanya sahabatnya bukan kekasihnya" menyadari itu aku mulai melambatkan jalanku aku mulai berfikir ada apa denganku,,, apa aku cemburu??? belum sempat mendapat jawaban tiba tiba aku merasa tangan ku di tarik agar berhenti, kemudian aku menoleh pada pemilik tangan yang menarik tanganku
"please kamu jangan salah paham dulu run" jelasnya padaku dengan nafas ngos ngosaan
"kenapa aku harus salah paham" kilahku padanya
"ya aku tau aku memang bukan yang spesial untukmu jadi kamu tak perlu salah paham padaku" jawabnya sedih
"bu bu kan itu maksutku" jawabku tak enak
" lalu apa???"
to be continue*