My Fat Girl

My Fat Girl
Diet



"Aruna pov"


Dengan deraian air mata aku langsung menjalankan mobil menuju pulang, tapi ibu meminta berhenti di tempat yang sepi, setelah aku berhenti ibu langsung memelukku dan aku sudah tak bisa lagi menahan untuk tidak histeris , aku menangis sejadi jadinya meratapi bagaimana terhinanya aku hari ini.


"Maafin ibu nduk,,, sudah mengajak kamu hari ini" ucap ibu padaku


"Jangan hikz ngomong hikz gitu buk! ibuk gak salah" jawabku masih dengan sesenggukan sambil melerai pelukan kami


"Seharusnya ibu sudah tau kalau bakalan kayak gini jadinya, tapi ibu masih gak percaya Lastri sanggup mengucapkan itu"


"Buk ,,,,,, kalau bener Aruna ndak bisa ngasih keturunan sama mas Fatih, apa ibu bakalan nyuruh ma Fatih nikah lagi??" tanyaku penuh kesedihan


"Kamu ini ngomong apa? ada banyak cara buat dapat keturunan, kamu bisa program bayi tabung, atau kalau tidak berhasil kamu juga bisa adopsi anak, ibu gak akan keberatan"


"Terima kasih buk,,,, Runa sangat bersyukur punya ibu mertua kayak ibu" lalu aku memeluk beliau kembali


Setelah masing masing dari kami merasa tenang akhirnya kami pulang, sesampainya di rumah ibu menghampiri bapak, mereka terlihat berbincang, mungkin membicarakan acara yang kacau tadi.


Sedangkan aku segera memasuki kamar dan mulai merenung, benarkah aku harus diet? meski sulit sepertinya memang aku harus melakukannya, aku tak mau dihina di depan banyak orang seperti tadi, ditertawakan orang itu menyakitkan, apalagi jika keluargaku ikut merasakannya.


Malamnya saat mas Fatih pulang bekerja, aku langsung menyiapkan air mandinya, lantas membuatkannya teh di dapur, aku juga menyiapkan makan untuk mas Fatih, aku hanya akan menemaninya makan dan memulai dietku malam ini.


Sebenarnya sekarang aku merasa sangat lapar, dari pagi aku belum sempat makan, sekalinya mau makan pas di acara arisan tadi, itupun sudah terganggu karena ucapan bulik Lastri, tak apalah aku hanya akan memakan buah malam ini.


Tak lama setelah menyiapkan makanan, mas Fatih sudah keluar dari kamar, dan memulai untuk makan


"Yank kamu gak makan??" tanyanya padaku karena aku hanya menyiapkan satu piring


"Udah tadi mas" ku jawab mas Fatih dengan kebohongan


"Gak biasanya kamu gak nungguin mas??" tanyanya aneh


"Tadi keburu lapar mas, jadi maaf aku duluan"


"Iya gak apa apa kalau gitu, ku kira kamu mau diet" tebak mas Fatih tepat sasaran, aku hanya menjawabnya dengan senyum kecut "Ibu sama bapak kemana yank??"


"Ibu sama bapak sudah istirahat mas,,,, bapak tadi ngeluh kecapean"


"Tapi sehat kan bapak?"


"Sehat mas,,,,, cuma kecapean aja"


Mas Fatih hanya menanggapi perkataanku dengan anggukan. Kemudian dia menyelesaikan acara makannya dan aku terus menungguinya, selesai mas Fatih makan, kami langsung istirahat di kamar.


***


Hari telah berganti esok, pagi ini saat ik semua penghuni rumah sarapan, aku hanya memakan sayur dan lauk, mas Fatih yang sudah mulai curiga dengan gerak gerikku langsung saja bertanya


"Yank kamu diet??" tanyanya padaku


Sejujurnya mas Fatih itu paling tidak setuju jika aku melakukan diet, alasannya tentu karena aku memiliki riwayat penyakit lambung, tentu itu membuatnya sangat khawatir, dan diet yang ku lakukan secara ngawur, memang seringkali membuatku berakhir dengan sakit.


"Eh,,, enggak kok mas, aku lagi males aja makan nasi" jawabku bohong lagi


"Beneran??"


"Iya"


" Betul itu" bapak mertuaku ikut menimpali


"Enggih pak enggih buk"


Akhirnya mulai hari itu aku melakukan dietku dengan sembunyi sembunyi, jika mas Fatih, bapak atau ibuk bertanya aku selalu menjawab sudah makan duluan, dan untungnya mereka percaya.


Hampir selama dua minggu aku melakukan diet ini dengan aman tanpa ketahuan, Tapi belakangan ini aku sudah mulai lemas , kepalaku sedikit pusing dan mataku sering berkunang kunang, aku juga selalu mual, ini jelas indikasi asam lambungku naik lagi


Diam diam aku mulai meminum obat lambungku sambil terus menjalankan dietku, setidaknya ini persiapanku jika acara arisan keluarga pindah ke rumah ini badanku sudah terlihat sedikit menyusut.


Di hari ke dua puluh saat ku timbang berat badanku sudah turun 3 kilo, lumayan lah meski harus menyiksa diri, selama dua puluh hari ini aku hanya makan sayur buah dan telur, karbohidrat kadang aku ganti dengan kentang atau singkong.


Tapi seperti yang sudah sudah tubuhku semakin melemas, akhirnya tepat di hari ke 21 aku tumbang. Ingatan terakhirku hanya saat ibu memanggilku dan aku menghampiri beliau ke dapur dengan tertatih, karena kepalaku sudah semakin pusing dan keringat dingin keluar dari tubuhku.


Saat semakin dekat dengan ibu tiba tiba tubuhku limbung, dan bruuuuukkk,,,,,,, aku tak lagi mengingat apa yang terjadi setelah itu.


Dan kini saat aku bangun aku sudah berada di atas brankar rumah sakit


"Yank kamu sudah sadar?" kata pertama yang kudengar saat aku siuman


"Ini dimana mas??"


"Kamu aku rawat di klinik, tadi saat kamu pingsan ibu langsung telepon aku karena lama kamu gak sadar, dan aku segera pulang" mas Fatih terlihat menyedekapkan tangan di depan perutnya


"Kamu diet??' tanyanya langsung kesasaran


"Iya mas maaf,,,,,," ucapku dengan tertunduk karena merasa bersalah dan tak bisa lagi berkilah


"Kamu sayang gak sih sama aku yank?


"Kenapa masih menanyakan itu?? aku jelas sangat menyayangimu mas" jawabku masih dengan lemas


"Lantas kenapa kamu melakukan diet tanpa meberitahuku? kamu tau hari ini kamu kekurangan cairan dan asupan, lambungmu juga kembali bermasalah, apa kamu gak pernah memikirkan gimana khawatirnya aku saat kamu pingsan?"


"Maaf,,,,," aku semakin tertunduk menyadari keslahan


"Aku mencintai kamu apa adanya yank, biarpun kamu langsing ataupun gendut, please jangan lagi mendengarkan kata kata orang lain, dengar saja kata kataku!


tadi ibu sudah cerita tentang acara arisan itu, kenapa kamu gak cerita sama aku?"


Air mata yang kutahan sejak tadi akhirnya luruh juga


"Aku takut kalau kamu bener bener bakal cari istri lagi, kalau aku tetap gendut dan gak bisa kasih kamu anak"


"Yank,,,,," sentak mas Fatih lantas memelukku "pernikahan itu gak hanya tentang perkara anak, lebih dari itu apapun keadaan kamu aku tetep sayang sama kamu. Aku janji insya Allah selama aku masih bisa bernafas, hanya kamu satu satunya wanita yang akan menjadi istriku"


" Terima kasih mas" jawabku dengan tangisan


"Kamu harus janji habis ini jangan pernah diet dietan lagi! aku lebih takut kehilangan kamu daripada gak punya anak sayang"


"Iya mas,,,, aku janji"


To be continue