My Fat Girl

My Fat Girl
Penculikan



"Author pov"


Dengan cepat Aira memacu mobilnya ke restoran yang bundanya katakan tadi, meski tak tau dimana tepatnya. saat ini Aira hanya mengandalkan google map untuk menemukan restoran itu.


Hampir dua puluh menitan Aira baru bisa sampai di restoran tersebut, di lihatnya restoran dua lantai yang jauh dari pemukiman warga itu, sepertinya memang private resto tapi pengunjungnya lumayan ada, setidaknya kemungkinan menyakiti ayahnya secara langsung kecil.


Mata Aira juga mengamati sekililing restoran ini, takut ada penembak yang ditempatkan Andi di luar, namun sejauh dia mengamati hasilnya nihil, tak ada tanda tanda mencurigakan diluar.


Kini yang Aira takutkan hanya satu, Andi memasukkan racun di makanan ayahnya, dengan tergesa Aira membuka pintu mobilnya dan segera berlari masuk ke restoran.


Bahkan berulang kali smarthphone Aira berbunyi, terlihat id bundanya terus memanggil, tapi sedikitpun Aira tak menghiraukan karena kekhawatirnya pada ayahnya.


Sesampainya dalam restoran Aira langsung menghampiri meja kasir, dan menanyakan meja atas nama Fatih


"Permisi mbak bisa saya tahu meja atas nama bapak Fatih,,, beliau ada meeting bersama client Rusia??" tanya Aira pada penjaga kasir


"Ah iya mbak sebentar saya cek" pelayan tersebut terlihat mengecek di dalam monitornya " Maaf mbak di sini yang meeting ada tapi atas nama bapak Dimitri di lantai kua bukan bapak Fatih" jelas penjaga kasir pada Aira


"Iya itu mbak,,, di ruangan mana??"


"Sebentar saya panggilkan pelayan lain biar mbak diantar ke ruangan itu"


Tak lama pelayan lain datang dan segera mengantar Aira ke ruangan yang disebut. Rupanya di lantai atas tempatnya berbentuk room room, yang memang bisa digunakan meeting dengan tenang tanpa gangguan.


Pelayan yang diikuti Aira akhirnya berhenti di salah satu room yang pintunya tertutup


"Mbak ini roomnya bapak Dimitri, silahkan masuk,,,, maaf saya tinggal" ucap pelayan itu sopan


Saat pelayan itu pergi Aira menempelkan telinganya di daun pintu, berharap mendengar percakapan dari dalam, namun tak ada suara sama sekali. Angan Aira semakin berfikir kemana mana karena hal itu, dan tanpa berfikir lagi akhirnya Aira membuka pintu tersebut.


Tiba tiba ada yang mendorongnya dari belakang , dan langsung menyekap mulutnya dengan kain yang memiliki bau menyengat. Mata Aira sudah menggelap dan tak mengingat apa apa sejak saat itu.


Mata Aira terasa sangat sulit untuk dibuka, kepalanya juga terasa pusing, tapi pelan pelan akhirnya Aira bisa membukanya. Tapi alangkah kagetnya dia saat menyadari dia terduduk di kursi dengan tangan dan kaki yang terikat dalam sebuah ruangan.


"Ah,,,,, lepas lepas" ucap Aira sambil mencoba melepaskan ikatan pada tangannya meski itu mustahil.


Tiba tiba muncullah sosok Andi bersama Dimitri dari balik pintu ruangan tersebut.


"Apa kabar sayangku?? kau tak merindukan papi??" sapa Andi mengejek


"Dasar pria beren**** kau apakan aku??? dimana ayahku??" teriak Aira memaki Andi


"Kau sungguh tak sopan bicara pada papimu Ai, kau tak takut lagi aku pukul??'


"Cuih,,,,,," jawab Aira dengan meludah "Kau masih menyebut dirimu sebagai papi setelah semua yang kau lakukan??kau gila tuan Andi??" tanya Aira sarkas


"Ha ha ha ha ha ha ha" tawa menggelegar Andi


"Kau sudah mendengar dongeng dari ayahmu???"tanya Andi pada Aira dengan senyum jahatnya


Dan Aira sama sekali tak menanggapi kata kata Andi, yang justru mematik amarah Andi.


"Kau bisu???" ucap Andi sambil mencengkram rahang Aira


Tapi lagi lagi Aira tak bergeming sedikitpun, dia terlalu malas dan benci melihat wajah Andi, apalagi untuk menanggapinya. Emosi Andi semakin memuncak karena hal itu dan


Plaaaakkk,,,,, akhirnya satu tamparan mendarat di pipi mulus Aira, sudut bibirnya terasa Asin karena darah sudah mengalir di sana.


Dimitri yang melihat itu rasanya ingin membawa kabur Aira dari sana, tapi untuk saat ini dia masih tidak berdaya menghadapi bosnya.


Aira mendongak mendengar hal itu, sedangkan Andi segera mengambil smarthphone yang dipegang Dimitri, kemudian memfoto Aira dan mengirimnya pada Fatih.


Tak berapa lama smarthphone Andi berbunyi, dia tertawa puas melihat hal itu, kemudian Andi mengangkat teleponnya dengan menloadspekernya


"Siapa kau??? kau apakan anakku??" terdengar suara geram diujung telepon


Aira yang mendengar itu semakin ingin melepaskan diri dengan menggoyang goyangkan tangannya


"Ha ha ha ha ha ha kau tak mengingatku rival lama??" ucap Andi dan suara di seberang tak terdengar hingga beberapa lama


"Kau pria beren**** lepaskan anakku"


"Kau menyalahkan aku atas kebodohanmu sendiri??"


Flashback on


Setelah keberangkatan Fatih tadi pagi, di jalan tiba tiba Dimitri menelepon Fatih, dia bilang pada Fatih bahwa dengan terpaksa meeting hari ini harus dibatalkan, karena keluarga dari Dimitri ada yang meninggal.


Fatih mengerti akan hal itu, dan memilih untuk kembali pulang ke rumah, tapi di jalan ban mobilnya malah kempes dan terpaksa harus diganti dulu.


Saat Fatih dan sopirnya masih mengganti ban mobilnya, Andi menelepon Aira dan mengancamnya, sehingga Aira khawatir dan tanpa fikir panjang langsung berangkat mencari ayahnya ke restoran yang disebut bundanya.


Sesampainya di rumah Fatih langsung disambut kepanikan Aruna,


"Kenapa bund??" tanya Fatih heran


"Yah,,,,, Aira tadi keluar rumah dengan panik dia mencari ayah ke restoran tempat ayah meeting,,, saat bunda tanya Aira gak jawab, bunda khawatir yah,,, "


"Bunda cepat telepon Aira bilang ayah sudah di rumah"


Aruna mengangguk mendengar perintah Fatih dan segera menelepon Aira, namun berulang kali Aruna menelepon tak juga diangkat oleh Aira.


Sementara saat posisi Aira sudah di depan restoran, Dimitri dan bawahannya sudah mengintai Aira dari dalam restoran, restoran tersebut telah mereka sewa dengan diisi orang orang mereka, mereka bilang pada pemilik resto bahwa mereka sedang mengadakan shooting sebuah film.


Sesampainya Aira di depan pintu ruangan lantai dua,para bawahan Dimitri sudah bersiap dalam posisinya. Tepat saat Aira membuka pintu, bawahan Dimitri langsung mendorong Aira ke dalam, dan Dimitri langsung menyambut Aira dengan kain yang sudah dibubuhi dengan cairan bius.


Saat Aira sudah tak sadarkan diri Dimitri membawa Aira ke tempat sekarang Aira disekap.


Flashback off


"Apa mau???" tanya Fatih to the point


"Serahkan nyawamu untuk menggantikan putrimu"


"Tidaaaakkk,,,,, " teriak Aira " Yah jangan dengarkan pria bren**** ini aku baik baik saja yah"


"Diaaammm,,,,,, plaaakkkk" Aira mendapatkan tamparan keduanya


"Hentikan jangan sakiti anakku!! aku akan serahkan nyawaku padamu"


"Ok good aku akan mengabarimu lagi apa yang harus kau lakukan selanjutnya"


"Jangan yah jangan" teriak Aira sambil menangis pilu


To be continue


Tolong ,,,,,tolong ,,,,,,, tolong Aira bantu votenya ya😁😁