
"Author pov"
"Berani lah" jawab Fatih mantap
"berani apa??" tiba tiba papa Aruna datang dan menyahut perkataan Fatih
"eh om,,,,,," sapa Fatih kaget sambil garuk garuk kepalanya yang tidak gatal
"kamu tu,,,, di rumah gak ada orang selain Aruna malah main ke sini,,,, bisa menimbulkan fitnah ini" tegur papa Aruna
"Maaf om Fatih cuma khawatir,,,,, terus sekalian antar makanan buat Aruna" jelas Fatih pada papa Aruna
"terus ikut makan di sini sekalian???" sindir papa Aruna langsung pada sasaran, dan yang di sindir cuma bisa cengar cengir salah tingkah
"papa jangan gitu ah,,,,, kita makannya juga di ruang tamu lagipula tuh pintu Aruna buka lebar lebar" bela Aruna
"ehemmm,,,, ya udah ya udah papa kan cuma mengingatkan kalau cewek sama cowok bukan muhrim gak boleh berdua duaan nanti yang ke 3 setan"
"kalau begitu apa om ijinin Fatih jadiin Aruna muhrim? ya biar gak ada setan diantara kami berdua" kata Fatih tiba tiba dengan berani
"eh eh apa apaan kamu,,, berani beraninya kamu,,,!" ucap papa Aruna tegas yang membuat Fatih takut tak ditolak
"udah jinakin anaknya susah sekarang bapaknya pula" batin Fatih mengaduh
"pa,,,,,," tegur Aruna
"iya,,,,, iya ,,,,,," jawab papa Aruna jengah
Dan detik berikutnya papa Aruna memandang Fatih dengan mode seriusnya
"Sejujurnya saya lebih suka Andi dari pada kamu"
"PAPA,,,,," teriak Aruna tak setuju
"Tapi saya bukan orang tua otoriter yang memaksakan anak saya untuk menyukai orang yang saya suka,,,,, kalau Aruna suka kamu dan kamu benar benar serius,,,, bawa orang tua kamu ke sini!" ucap papa Aruna serius
Seketika perasaan lega menghampiri Fatih dan Aruna
"Terima kasih om,,,, Fatih pasti segera membawa orang tua Fatih ke sini" jawab Fatih sama seriusnya.
Tapi perbincangan serius mereka terpotong oleh smartphone Aruna yang terus berbunyi sejak tadi
"Siapa yang telepon kamu?? coba angkat dulu itu!" titah papa Aruna pada Aruna
Kemudian Aruna segera mengambil smartphonenya, lantas ia melihat siapa yang terus meneleponnya sejak tadi, dan ternyata yang meneleponnya adalah Andi
"Andi??? kenapa dia terus terusan telepon aku?" gumam Aruna dalam hati, lantas ia langsung menggeser gambar hijau di layar smarthphonenya
"Halo An kenapa kamu tel,,,,??" belum selesai bicara perkataan Aruna sudah di potong oleh suara panik Andi di seberang telepon
"Run ada yang mau aku kasih tau ke kamu, tolong cepat kamu datang ke rumah pak Anwar, hubungi polisi sekalian!"
"kenapa Run??" tanya papanya khawatir
"Andi suruh Aruna ke rumah om Anwar dengan bawa polisi, suara Andi seperti orang panik pa" jelas Aruna
" mungkin ada sesuatu yang menghkhawatirkan ayo kita segera kesana! Fat kamu hubungi polisi suruh datang ke jalan ******!"
"iya om" segera Fatih menghubungi polisi, kemudian mereka bertiga berangkat ke rumah pak Anwar menggunakan mobil Fatih. sekitar 20 menit perjalanan mereka sampai di rumah pak Anwar, rumah pak Anwar terlihat sepi, berulang kali mengetuk pintu tak ada yang membuka, tapi tiba tiba terdengar suara pecahan barang dari dalam, mereka bertiga semakin khawatir karena pintu tak juga di buka. Akhirnya Fatih dan papa Aruna mencoba mendobrak pintu tersebut, empat kali percobaan baru pintu bisa terbuka, kemudian mereka segera masuk dan mencari sumber suara gaduh dari dalam, dan alangkah terkejutnya mereka, ketika melihat pak Anwar sedang menusukkan sebuah pisau ke perut Andi
"aaaaaa,,,,,,,,," teriak Aruna panik
pak Anwar yang terkejut langsung menolehkan pandangan ke arah Aruna
" Breng*** kamu Andi,,,, kau menjebakku!" teriak pak Anwar murka
"om tolong lepaskan Andi!" pinta Fatih dengan hati hati, tapi tak juga digubris pak Anwar.
Tiba tiba polisi sudah berada di belakang papa Aruna dan Fatih, para polisi tersebut sudah mengangkat senjata ke arah pak Anwar
"pak Anwar mohon serahkan diri anda tanpa perlawanan" ucap salah satu polisi
bukannya mendengarkan polisi tersebut, pak Anwar malah berlari ke Arah pintu belakang untuk melarikan diri, akhirnya terjadi aksi kejar kejaran antara mereka
"pak Anwar berhenti" teriak salah satu polisi namun pak Anwar terus saja berlari, hingga akhirnya
Dooooorrrrrrr,,,,,,,,,,,
Timah panas menembus kaki kiri pak Anwar, namun dia terus saja berlari ke arah jalan, dan kemudian
Bruuuukkkkk,,,,,,,,,,
Sebuah mobil menabrak tubuhnya hingga terpental. Melihat kejadian itu para polisi segera menghampiri tubuh pak Anwar yang penuh dengan luka, nyawanya sudah di ujung tanduk saat dia berusaha berbicara
"A,,,,, a,,,,,, " tapi perkataan pak Anwar berhenti bersamaan dengan nafasnya yang berhenti, akhirnya dia tewas dengan cara yang mengenaskan.
Sementara di dalam rumah pak Anwar, Andi sudah ambruk karena kehilangan banyak darah, lantas Fatih segera membopong Andi ke dalam mobilnya untuk segera di bawa ke rumah sakit, sementara Aruna dan papanya juga mengikuti Fatih,
Sesampainya di rumah sakit, Andi langsung mendapatkan penanganan di IGD, untung nyawanya masih bisa di selamatkan meski lukanya cukup dalam. Saat Andi sudah dipindah ke ruang perawatan , beberapa polisi datang menghampiri Fatih, Aruna dan Papanya
"selamat sore pak" sapa bripka Reyhan
"sore pak" jawab papa Aruna
" kami mau memberitahukan tentang temuan kami hari ini, setelah kami melakukan penyidikan di rumah pak Anwar, kami menemukan banyak foto nona Aruna di salah satu kamar, dan di sana kami juga menemukan baju yang tertempel noda darah, dan setelah kami periksa tenyata itu darah dari nyonya Mita kami juga menemukan pisau di samping baju itu dengan sidik jari pak Anwar, namun pak Anwar tak bisa kami selamatkan karena saat pengejaran tadi beliau tertabrak mobil"
Fatih, Aruna dan papanya terkejut tak percaya dengan laporan bripka Reyhan, mereka sama sekali tak menduga kalau pelaku pembunuhan mama Mita adalah pak Anwar farizi, ayah dari almarhum Qiya farizi tunangan Aruna, mereka tak habis fikir apa motif beliau melakukan hal ini.
to be continue
Hayo siapa kemarin yang su'udzon sama dokter Andi??? cung tangannya,,,,!!😁😁