
"Author pov"
Sejak insiden ambruknya Aruna karena diet, sekarang Fatih selalu cerewet pada Aruna, dia rajin mengingatkan istrinya tidak telat makan dan menjaga kesehatan.
Kejadian kemarin cukup membuat Fatih takut, sebenarnya sudah berulang kali Aruna mencoba untuk diet dan berakhir dengan sakit, tapi baru kemarin sampai mengharuskannya dirawat. Wajah Aruna kemarin tampak pucat, tensinya menurun, lambungnya juga kambuh, keadaan itu cukup untuk membuat Aruna dirawat beberapa hari.
Jadi jangan salahkan Fatih kalau kini jadi makin protective, dia tidak akan percaya jika Aruna sudah makan kalau tak melihatnya sendiri, Fatih tak mau lagi kecolongan seperti kemarin. Sepulangnya Aruna dari dirawat Fatih tlaten menunggui dan menyuapi Aruna makan supaya keadaannya cepat kembali pulih.
"Mas aku sudah kenyang" keluh Aruna karena terus disuapi Fatih
"Kurang sedikit yank,,,,, dua sendok lagi" bujuk Fatih
Setelah terus dibujuk,,,, akhirnya Aruna melahap sendok terakhirnya
"Mas kalau begini terus aku akan terus menggendut"
"Gak apa apa aku tetap sayang"
"Tapi akan banyak orang terus mengolok aku, kamu gak malu?" ucap Aruna frustasi.
Rupanya perkataan orang yang dianggap orang yang mengatakan adalah suatu hal biasa, benar benar mempengaruhi psikologi seseorang, padahal hanya sebatas kata
"Ig gendutan ya?"
"Makin subur aja"
"Lama gak ketemu makin gendutan lo"
Itu semua adalah kata sederhana bagi yang mengucapkan, tapi cukup membekas bagi Aruna atau banyak orang diluar sana. Kata itu bisa membuat rasa percaya diri seseorang hilang, dan membuat orang yang diolok akan merasa dirinya tak berharga, mereka juga jadi tak mencintai dirinya.
Ayo mulai menjaga ucapan kita dengan mengganti kata kata itu dengan
"Apa kabar?"
"Makin cantik ya"
"Seneng deh ketemu lagi"
Kalau tak bisa membantu setidaknya jangan membuat luka, membahagiakan orang dengan kata kata kecil kita juga merupakan pahala.
"Yank,,,,,, denger,,,,,,," ucap Fati sambil meletakkan kedua tangan di bahu Aruna "aku gak pernah malu punya kamu, dan aku harap kamu bisa belajar mencintai diri sendiri, gak usah denger kata orang ,beberapa dari mereka itu seneng ngelihat kita susah, dan susah ngelihat kita seneng, jadi kalau kamu makin terpuruk dengan kata kata mereka, mereka tentu akan makin senang" kemudian Fatih mengakhiri kata katanya dengan kecupan di kening
"Mas bantu aku ya! meskipun kelihatannya mudah, tapi sulit untuk tidak mendengarkan orang orang, aku pengen belajar mencintai diri aku sendiri"
"Itu keputusan bagus" ucap Fatih sambil meletakkan tangan kanannya di pipi Aruna "Kamu harus sadar sayang kamu itu cantik, gendut gak masalah yang terpenting kita berusaha untuk hidup sehat, jangan menjadikan diet sebagai keharusan untuk menyiksa diri, dengan kamu makan teratur dan seimbang, dengan sendirinya tubuh akan proporsional dan jangan lupa olah raga"
"Iya mas"
Dan semenjak itu Aruna mulai belajar mencintai dirinya, dia makan teratur dan seimbang, tidak lupa dia juga selalu menyempatkan diri untuk berolah raga, kini targetnya bukan menurutkan berat badan, tapi dia ingin sehat. Jadi meskipun penurunan berat badannya tidak signifikan dia tak lagi bersedih, dan dia juga berusah tak memasukkan hati kata kata yang negative baginya
Seperti yang sudah diduga sejak awal, acara arisan keluarga yang diadakan di rumah mertuanya, juga kembali menjadi ajang tempat bullyan. Tapi kini ia benar benar siap, kata kata yang terlontar dari budhe,bulik, serta sepupu dan keponakan tak lagi membuatnya sedih, ya meskipun masih ada sedikit rasa itu, tapi sudah jauh berbeda jika dibandingkan sebulan yang lalu.
Kini setidaknya seminggu tiga kali Aruna menyempatkan diri olah raga lari, pun seperti pagi ini, sebenarnya tadi dia sudah ragu untuk berangkat, karena sejak pagi badannya sudah terasa tidak enak, ia merasa lemas dan sedikit mual. Sepertinya lambungnya mulai bermasalah lagi.
Dirasa badannya sudah baikan, Aruna segera pulang ke rumah, ia takut jika kembali pusing di jalan. Sesampainya dirumah ia beristirahat sebentar kemudian mandi, saat keluar dari kamar mandi ia melihat Fatih pulang dari sift malamnya, sedang duduk di ranjang sambil melepas sepatu kerjanya
"Mas,,,,, sudah dari tadi nyampainya?" berjalan ke arah Fatih lalu mencium tangan Fatih
"Barusan kok"
"Mau aku siapin air hangat ?"
"Gak usah,,,, ini gerah banget, kamu siapin makan aja habis ini kita sarapan" titah Fatih
"Iya mas"
Setelah selesai berganti baju Aruna segera ke dapur untuk menyiapkan sarapan untuk suaminya, kalau mertuanya sudah sarapan dari tadi.
Saat Fatih sudah duduk di kursi ruang makan, Aruna segera menghidangkan makanan ke piring Fatih dan piringnya, Fatih lebih dulu memulai makan, saat Aruna akan memulai makan tiba tiba perutnya kembali tidak nyaman, dia berfikir kali ini sepertinya lambungnya benar benar bermasalah sudah sejak tadi dia terus merasa tidak nyaman.
Meskipun sekarang perasaan mual sangat ia rasakan, tapi perutnya harus tetap terisi, agar dia tidak semakin sakit, dia tak mau Fatih kembali khawatir. Saat setelah sendokan pertama masuk ke mulutnya, Aruna langsung meletakkannya kembali, tanpa aba aba iya langsung berlari sambil menutup mulutnya dengan tangan dan
"uweeekk,,,,,, uweeekkkk,,," akhirnya rasa tak nyamannya dari pagi di tumpahkan di wastafel
Fatih yang mendengar itu langsung khawatir dan menghampiri Aruna
"Yank kamu kenapa? gak diet lagi kan?" tanya Fatih sambil terus memijit tengkuk Aruna sedangkan Aruna terus ber uweeek ria
Selesai menuntaskan muntahnya, Aruna digiring untuk duduk dan Fatih segera meminumkan teh panas yang sudah dibuatkan Aruna untuknya tadi.
"Gimana sekarang rasanya?" tanya Fatih khawatir karena melihat wajah pucat Aruna
"Sudah enakan mas,,,,, dari pagi perutku udah gak enak rasanya, kayaknya kambuh lagi deh lambungku" jawab Aruna lemas
"Harus tetap diisi yank perutnya"
"Ambilin roti aja mas,,,,, kayaknya aku gak ingin makan nasi"
"Ok ok" lantas Fatih mengambil dua lembar roti tawar dan kembali menanyakan selai keinginan Aruna "Kamu mau pake selai apa yank?"
"Selai kacang aja mas"
Lalu Fatih segera mengoleskan selai kacang pada roti tadi, dan menyerahkannya pada Aruna, selagi Aruna makan Fatih membuatkan Aruna susu coklat hangat.
Saat Aruna sudah selesai makan Fatih segera menyodorkan susu coklat buatannya, tak butuh waktu lama Aruna segera menandaskan susu itu hingga tak bersisa. Tapi belum juga lima menit Aruna kembali berlari ke wasafel dan
"Uweeek,,,,, uweeeek,,,,, uweeeekk,,,,," semua yang dimakan dan diminum kembali keluar.
Setelah semua isi perut Aruna keluar, kemudian ia dituntun Fatih ke kamar untuk istirahat, tapi belum juga berjalan Aruna sudah lemas tak berdaya.
To be continue
Reader yang baik hati dan tidak sombong, jangan bosen like, komen dan vote ya terima kasih🙏🙏