My Fat Girl

My Fat Girl
Rival



"Author pov"


Kini fatih bingung antara sedih atau bahagia atas kepergian Qiya,,,, sedih karena dia harus tau apa yang dilalui aruna sepeninggal Qiya, bahagia karena kini dia memiliki kesempatan untuk mendapatkan aruna, tapi yang pasti dia akan menggunakan dengan baik kesempatan ini


"cinta yang kusimpan kufikir akan karam di telan sang waktu


Namun bolehkah kini aku berharap lagi??


karena nyatanya sang waktu kini berpihak padaku


lihatlah akan ku mekarkan lagi bunga yang layu"


fatih*


Tak ingin menyia nyiakan waktu fatih gerak cepat, ya,,,, semenjak aruna dirawat fatih mulai gencar mendekati aruna,,,kini mereka berdua sudah kembali dekat layaknya dulu,,, katakanlah fatih picik karena mengambil kesempatan atas kepergian Qiya tapi biarlah yang sudah pergi bisa pergi dengan tenang dan yang masih hidup bisa melanjutkan hidupnya


Setelah di rawat selama dua hari kini keadaan aruna semakin membaik,,, rencananya besok pagi aruna sudah diperbolehkan pulang,,,,Fatih selalu menyempatkan diri mengunjungi ruangan aruna saat tugasnya sedang longgar,,, malam ini setelah selesai jam praktiknya dia juga kembali mengunjungi ruang aruna


"malam tan malam run" sapa fatih setelah memasuki ruangan aruna


"malam nak fatih" jawab mama aruna sedang aruna hanya menjawab dengan senyuman


"gimana run udah enakan kan??" tanya fatih sambil bersiri di sisi ranjang aruna


"*alkhamdulillah sudah enakan udah gak mual lagi, pusingnya juga udah berkurang"


"ok,,,, kalau udah gak ada keluhan besok udah boleh pulang kamu*" sambil mengelus puncak rambut aruna


"asik udah boleh pulang,,," seru aruna dengan senyuman


"*tapi ingat jangan stress makan harus teratur,istirahat yang cukup ok!"


"tu dengerin nak fatih kamu run,,, kalau di bilangin mama makannya jangan telat telat selalu mama gak didenger*" gerutu mama aruna


"siap bos" jawab aruna sambil menempelkan tangan kanannya di pelipis


"ok tan hati hati ya*"


saat mama aruna mulai beranjak dari ruang aruna,,,, fatih duduk di kursi yang tadi di tempati oleh mama aruna, fatih dan aruna kemudian mulai berbincang bincang santai sambil menceritakan masa lalu mereka, fatih senang melihat aruna yang tersenyum bahagia rasanya ingin slalu membuat aruna tersenyum seperti itu,,,,,,


perbincangan mereka terhenti ketika mendengar pintu yang tiba tiba terbuka,,,, difikir fatih itu mama aruna,,, namun saat fatih dan aruna menoleh kearah pintu ternyata papa aruna yang datang dan,,,, ada sesosok pria yang mengikuti di belakang papa aruna


"nak fat bener bener klinik kamu ternyata" sapa papa aruna


"iya om" fatih beranjak dari duduknya lantas mencium tangan papa aruna dan kemudian mereka berpelukan ala laki laki


"*waktu kemari mama aruna cerita om kalau aruna di rawat di klinik kamu om kaget,,, kamu kemana aja lama gak kelihatan om kira kamu sudah pindah ke kota lain"


"hehehehehe maaf om fatih memang baru pulang dari kaltim enam bulan yang lalu,, awalnya di sana cuma karena tugas kampus tapi karena krasan jadi keterusan,,, di sana masih agak susah sinyal jadi deh gak bisa kabar kabar ke aruna"


"ow gitu,,, gak apa apa lah sambil cari pengalaman kamu,,, gimana udah punya anak berapa kamu?"


"ah om tanyanya bisa aja,,,,, pacar juga belom om apalagi anak hehehehehehehe"


"kok sama kayak aruna aja di suruh nikah ada aja alesannya*" sambil melirik ke arah aruna dan kemudian mereka tertawa bersama


"papa apaan sih" sahut aruna datar


"ya bener kan kamu di deketin nak andi alesan mulu,,, eh jadi kelupaan papa tadi ngajak nak andi, kenalin nak fatih ini andi" menghadap ke arah andi


kemudian andi mendekatkan diri ke fatih lalu menyodorkan tangan untuk bersalaman dan di sambut oleh fatih,,, namun tatapan mata mereka tak seirama dengan sambutan tangan,,,,, ada kilatan permusuhan yang nampak jelas di sana seperti ada tulisan "ok kita rival"


sampai mereka tak sadar telah lama saling menggenggam tangan dengan keras


"eheeeemmmmm" tangan mereka langsung saling lepas mendengar kode dari papa aruna


to be continue