My Fat Girl

My Fat Girl
Dua Garis



"Author pov"


Setelah semua isi perut Aruna keluar, kemudian ia dituntun Fatih ke kamar untuk istirahat, tapi belum juga berjalan Aruna sudah lemas tak berdaya.


Dengan cekatan Fatih langsung mengangkat tubuh Aruna ala bridal style, sesampainya di kamar kemudian dia membaringkan Aruna di atas ranjang, Aruna terlihat lemas dan kelelahan. Wajar saja sejak tadi perutnya menolak untuk diisi.


Fatih segera mengambil air putih yang selalu tersedia di nakas samping tempat tidur mereka, dengan hati hati Fatih mengangkat sedikit kepala Aruna lalu membantu Aruna untuk minum.


Selsai Aruna minum Fatih segera mengambil stetoskop yang berada dalam tas kerjanya. Tanpa menunggu lama Fatih langsung menempelkan stetoskopnya di dada dan perut Aruna.


"Lambungmu tidak masalah yank" jelas Fatih yang bingung pada Aruna "Biar aku cek dulu tensimu"


Lantas Fatih segera mengambil sfigmomanometernya/tensimeter dan segera memasangkannya di lengan kiri Aruna. Setelah menekan tombol otomatisnya, manset yang terpasang di lengan Aruna mulai menggembung otomatis, lalu menyusut seiring dengan angka angka yang terlihat pada layar tensimeter.


Lagi lagi Aruna mengalami hipotensi, tekanannya hanya 90/60 mmhg, pantas mukanya terlihat lemas dan pucat, lantas Fatih segera mengambil tablet penambah darah yang selalu ia stock di kotak obat, selain tablet penambah darah Fatih juga banyak menyetok obat obatan lain di rumah, berjaga jaga jika penghuni rumah ada yang sakit, atau tetangga dekat yang butuh bantuannya.


Saat mengambil tablet penambah darah, mata Fatih tiba tiba terpaku pada salah satu obat yang bertuliskan Folavit. Dan dia langsung berfikir ke arah sana.


Sedikit penjelasan lagi gengs,,,, Folavit adalah suplemen yang memiliki kandungan asam folat yang dibutuhkan ibu hamil dan menyusui yang bermanfaat memelihara sistem saraf yang sehat dan dalam pembentukan sel darah merah yang membawa oksigen ke seluruh tubuh.


Difikir fikir memang sudah sekitar 2 bulan istrinya tidak mengalami menstruasi, terbukti Fatih bisa mendaptkan jatah rutinnya seminggu tiga kali tanpa hambatan lampu merah dua bulan ini, garis bibir Fatih tiba tiba tertarik, rasanya antara bahagia dan belum begitu yakin.


Akhirnya dia menghampiri Aruna, dan memberi tablet penambah darahnya untuk Aruna minum,


"Yank kamu gak pengen buang air kecil??" tawar Fatih agar bisa mendapatkan urine Aruna untuk kemudian ia tes.


Sebenarnya tes akan lebih akurat jika dilakukan dengan urine pertama di pagi hari, karena saat pagi kadar hCG (human chorionic gonadotropin) sangat tinggi, jadi kemungkinan untuk mendapatkan hasil yang sangat akurat, tapi sekarang sudah banyak alat tes canggih yang bisa digunakan kapan saja.


Fatih belum mau memberi tahu Aruna, karena khawatir istrinya itu akan kembali kecewa kalau mendapati hasil negatif.


"Iya sih mas,,,,, tapi aku lemes banget" keluh Aruna


"Biar aku gendong"


Kemudian Fatih segera menggendong istrinya menuju kamar mandi, dan mendudukkannya di closed


"Yank urinnya ditampung ya!"


"Buat apa sih mas?" tanya Aruna curiga


"Aku mau bawa ke lab buat cek kesehatan kamu" bohong Fatih pada Aruna, sambil menyerahkan wadah urine


Karena merasa badannya lemas, Aruna sama sekali tak membantah Fatih, ia segera menuntaskan hajatnya, dan meletakkan urinnya di wadah yang sudah Fatih berikan.


"Udah mas,,, ini" sambil menyerahkan wadah urine


"Ok" kemudian Fatih kembali menggendong Aruna dan membaringkannya kembali di ranjang, lalu ia selimuti Aruna


"Sekarang kamu istirahat ya sayang!" ucap Fatih sambil mencium kening Aruna


Setelah Aruna memejamkan mata, Fatih segera kembali ke kamar mandi dan mengambil testpack yang selalu Aruna sediakan di lemari dinding di kamar mandi.


Tanpa menunggu Fatih langsung mencelupkan ujung tespack ke urine Aruna, menunggu lima belas derik Fatih kembali mengangkat testpack dan menunggu garis muncul dari permukaan testpack.


Detik pertama keluar satu garis warna merah, Fatih semakin deg degan menunggu hasil berikutnya, baru di detik ke lima muncullah warna di permukaan testpack tersebut, tapi bukan garis warna merah yang keluar melainkan warna pink


Fatih tak tau dia harus bahagia atau bagaimana, karena sampai dua garis samar itu muncul dia belum yakin, akhirnya ia memutuskan untuk membawa Aruna ke dokter obgyn nanti kalau keadaannya sudah membaik.


Sesudah melakukan tes tersebut Fatih kembali ke dapur untuk menyelesaikan acara makannya tadi, terlihat ibunya pulang dari pasar membawa belanjaan


"Loh le,,, mana istrimu? kok gak nemenin kamu makan lo?" tanya ibu heran


"Aruna sakit buk,, tadi baru muntah terus Fatih suruh istirahat"


"Ndak usah buk ,,,,, Aruna sudah tidur tadi, biarkan dia istirahat buk" tahan Fatih pada ibunya


"Ibu cuma mau lihat gak mau ganggu" tanpa mendengar Fatih ibu kus langsung menghampiri kamar Aruna dan melihat keadaan menantunya itu.


Cukup melihat menantunya kemudian ibu keluar dan menghampiri Fatih


"Kok kelihatan pucet gitu le istrimu?"


"Iya buk tensinya cuma 90/60"


"Pantes,,,,,"


"Ya sudah bu,,, Fatih sudah selesai sarapan mau istirahat dulu!"


"Ya,,,,,"


Kemudian Fatih menuju kamar, dan tidur berbaring di samping Aruna, sebelum memejamkan mata Fatih menyentuh pipi Aruna dengan senyum mengembang di bibir "Aku berharap kamu beneran hamil yank love you" Dan kata katanya diakhiri kecupan ringan di bibir Aruna.


***


Aruna mengerjap ngerjapkan matanya, badannya masih terasa lemas, tapi sudah tidak pusing dan mual seperti tadi. Suaminya masih terpejam damai di sampingnya, dengan tangan melingkar di perut Aruna.


Lantas Aruna mengubah posisinya menghadap Fatih, lalu mengusap usap rahang suaminya yang mulai di tumbuhi bulu bulu halus. Fatih yang merasakan itu langsung membuka mata dan tersenyum.


"Kamu sudah bangun,,,,, gimana badannya?" tanya Fatih dengan suara serak khas bangun tidur


"Enakan mas,,,, tapi masih lemes" jawab Aruna lemah


"Ya udah habis ini kita periksa"


"Mas kan dokter,,,,, tadi juga udah mas periksa, ngapain periksa lagi?" tanya Aruna bingung


"Biar makin yakin kamu di lab aja"


"Tadi bukannya mas udah simpan urinku? katanya buat di lab?" rupanya Aruna masih ingat meski tadi dalam keadaan lemah


"Istiriku tumben bawel banget,,,,,," goda Fatih sambil menciumi bibir Aruna "Nurut sama aku"


"Iya iya"


Kemudian mereka berdua turun dari ranjang dan bersiap siap, setelah sudah sama sama rapi mereka turun lalu berpamitan pada ibu


"Bu Fatih sama Aruna mau keluar sebentar"


"Mau kemana le? istri sakit malah diajak keluar" Komentar ibu ke Fatih lalu beralih ke Aruna "Kamu sudah enakan nduk?"


"Sampun lumayan buk,,,,, tinggal lemesnya saja" jawab Aruna


"Ya udah buk kami berangkat" pamit Fatih


"iya jangan lama lama , jagain istrimu,,,,"


"Enggih buk Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


To be continue.


Lanjut besok lagi reader,,,,,, belum mendapatkan pencerahan kata kata berikutnya😁😁 terima kasih yang setia like, komen dan vote🙏🙏