My Fat Girl

My Fat Girl
Arisan Keluarga



"Aruna pov"


Sebenarnya dari semalam aku sudah mempersiapkan mental untuk menghadiri Arisan keluarga hari ini, bahkan mas Fatih sempat melarangku untuk pergi, jika aku tak merasa yakin, dia tau apa yang akan terjadi di sana.


Tapi jika aku tak pergi, aku tak akan tega membiarkan ibu mertuaku menghadapi sindiran sindiran mereka sendirian, sudah terbayang seperti apa mulut nyinyir mereka semua.


Hari ini aku memutuskan membawa mobil sendiri, jaga jaga kalau aku dan ibu ingin cepat pergi dari acara ini. Dan kami tak perlu menunggu mas Fatih untuk menjemput.


Ku ambil nafas berulang kali lalu ku hembuskan perlahan, kini kami sudah berada di depan rumah bulik Narsih adik ipar dari ibu mertuaku. Di sana sudah terlihat penuh dengan orang orang yang disebut keluarga, tapi entah kemana arti keluarga itu ketika mereka sibuk menyinyiri satu sama lain.


Genggaman tangan ibu menguatkan kembali keberanianku, yang sempat menciut melihat team penyinyir, yang sudah berada di depan mata. Kubuka seatbeltku lantas aku turun dan membuka pintu untuk ibu,


"Monggo buk" (ayo buk) kataku pada ibu


Lantas ibu menggandeng tanganku dan kami berdua mulai berjalan masuk ke rumah bulik Narsih


"Assalamualaikum" ucapku kompak bersama ibu


"waalaikumsalam,,,,,, eh mbak Kus sama Aruna masuk masuk,,,,," sang pemilik rumah mempersilahkan kami masuk


"Loh mana Fatih kus? kok dia gak mampir??" tanya Bude susi kakak kandung ibu


"Hari ini Aruna yang bawa mobil mbak jadi Fatih gak ngantar" jawab ibu mertuaku singkat


"Ow,,,,, pantas,,,,, mbak kira tadi Fatih gak mau masuk, karena malu sama kita kita"


"Malu kenapa mbak??" tanya ibu mertuaku bingung


"Ya malu kalau sampai sekarang istrinya belum bisa kasih momongan, lawong Fika yang baru menikah tiga bulan saja sekarang sudah hamil"


Akhirnya drama yang aku takutkan sudah dimulai, aku memejamkan mata sesaat lalu memberikan senyum termanisku.


"Kenapa Fatih mesti malu mbak? momongankan pemberian Tuhan, ndak bisa diminta paksa atau ditolak jadi mereka berdua hanya perlu ikhlas dan sabar menunggu giliran" jawab ibu mertuaku pada bude sus


"Eh kok malah ngomongin ini,,,,, ayo mbak kus sama Aruna duduk dulu" potong bulik Narsih agar omongan tak semakin melebar


Lantas aku dan ibu segera duduk di lantai yang telah dialasi karpet karpet tebal,belum juga aku dan ibu duduk jenak, bude sus sudah kembali membuka mulutnya


"Kus,,,, mumpung Fatih masih muda, mbok usahanya itu lo,,,, yang sungguh sungguh, nanti kalau keburu tua jadi males mau punya anak"


"Mereka sudah usaha kok mbak, sudah periksa juga, kata dokter mereka berdua subur, cuma belum dikasih saja sama yang di atas"


Aku hanya bisa tersenyum kecut mendengar ibu berdebat dengan bude karena aku.


"Makannya Run kamu itu jangan gendut gendut kayak gitu, jadi susahkan hamilnya, seharusnya kalian sudah hampir punya dua anak, tapi ini satu saja belum" Ganti Bulek Lastri yang ikut ambil bagian menyinyir


Ibu kembali menggenggam tanganku memberi kekuatan, lalu ku tatap ibu dan ku berikan senyuman yang mengisyaratkan "it's ok bu gak masih Aruna masih kuat"


"Mbak kenapa Inara gak diajak hari ini" bulik Narsih menanyakan kakak iparku


"Ow dia sama Syaif sedang menghadiri pernikahan teman syaif di luar kota"


"Makannya gak ikut" jawab bulik Narsih paham


Setelah semua berkumpul, kemudian acara Arisan dimulai, para anggota heboh saat salah satu dari keluarga mulai mengocok gulungan nama nama kami semua.


Saat satu gulungan jatuh, bulik Narsih segera membuka gulungan itu dan membacanya


"KUSNITA,,,,,, mbak kus sampean yang dapet Arisannya" teriak bulik Narsih heboh


"Alkhamdulillah,,,,," ucap ibu mertuaku tak begitu antusias


Aku jelas tau kenapa beliau begitu, mendapat arisan berarti harus menjadi tuan rumah di kocokan Arisan bulan depan, sebenarnya tak masalah menjadi tuan rumah, yang jadi masalah hanya nyinyiran nyinyiran yang akan kembali kami dapatkan.


Lantas ibu menerima uang hasil arisannya dan mulai menghitungnya, sebenarnya jumlah uang arisannya tak begitu banyak hanya tujuh juta. Namum dengan arisan ini para keluarga bisa saling silaturrahmi, walaupun kenyataannya mereka hanya senang saling menyinyiri keluarga lain.


Setelah ibu menyelesaikan hitungannya, acara dilanjutkan dengan acara makan makan, banyak menu yang dihidangkan bulik Narsih mulai dari soto, lontong sayur, ayam kecap, oseng kulit melinjo, oseng bunga pepaya,ikan bakar dan juga sup ayam.


Tapi yang paling menarik perhatianku adalah, teri goreng yang dicampur dengan sambal terasi tomat, kalau dimakan dengan nasi hangat dan oseng bunga pepaya pasti sangat enak, rasanya air liurku sudah mau keluar. Lantas aku mengambilnya dengan nasi satu setengah Centong (sendok nasi).


Kemudian aku duduk si samping ibu yang sudah mulai memakan lontong sayurnya, satu suapan masuk ke mulutku, sungguh rasanya sesuai bayanganku tadi, sangat enak,,,,,,,,, saat aku mengangkat sendok disuapan keduaku suara keras bulik Lastri menginstruksiku, dan membuat semua orang memandang ke arah kami


"Ya Allah Run,,,,,, makannya kamu ini susah hamilnya,,, makananmu saja kayak orang kesurupan gini, diet dong Run!"


Semua orang di ruangan itu menertawakanku, tentu kecuali mertuaku dan bulik Narsih, aku menunduk malu karena hal itu, apa aku begitu pantas untuk dipermalukan seperti ini? rasanya bullyan di sekolahan dulu tak ada apa apanya, tanpa terasa cairan bening jatuh menetes, aku sudah tak berani lagi menegakkan kepalaku.


"Las,,,,, kamu jangan keterlaluan begini ya sama mantuku, makanan segitu kamu bilang kayak orang kalap lihat itu Fika atau Nuri makanannya lebih banyak dari Aruna" kudengar suara ibu mulai emosi


"Loh mbak siapa yang keterlaluan? aku cuma mengingatkan, Fika makannya banyak karena sedang hamil sedangkan Nuri kan sedang menyusui wajar lah mbak kalau makannya banyak, sedangkan mantumu ini makan banyak buat nambah lemak saja, aku saranin ya mbak,,,,, cepet nikahin Fatih lagi sama perempuan yang gak mandul mumpung dia masih muda"


Praaaaaaank,,,,,,, suara bantingan piring bersamaan dengan angkatan kepalaku, aku tak percaya bulik Lastri bisa mengucapkan itu padaku, kini pipiku sudah basah dengan air mata, tapi bukan aku yang membanting piring melainkan ibu mertuaku


"CUKUP YA LAS,,,,, kamu ini sudah sangat keterlaluan" aku melihat kemurkaan di wajah ibu lantas beliau menggandeng tanganku dan l touoyrqmembawa aku pergi dari sana


Aku dan ibu sudah tidak perduli jika kami merusak acara Arisan ini, yang kami mau adalah kami pergi dari sini. Dengan deraian air mata aku langsung menjalankan mobil menuju pulang, tapi ibu meminta berhenti di tempat yang sepi, setelah aku berhenti ibu langsung memelukku dan aku sudah tak bisa lagi menahan untuk tidak histeris, aku menangis sejadi jadinya meratapi bagaimana terhinanya aku hari ini.


To be continue


😭😭 Author ikut sedih,,,,,,, merasakan Aruna yang dihina hina sama emak emak tukang nyinyir. Biar Author gak nangis please kasih aku like ,komen dan votenya ya reader,,,, terima kasih🙏🙏 happy reading.