
Kini sepasang pengantin itu sudah berada didalam mobil menuju sebuah hotel dipinggir pantai. Jika saja mereka pengantin normal seperti pada umumnya, sudah dipastikan kedunya akan begitu bahagia mendapat hadiah bulan madu dari keluarga mereka.
Namun, pada kenyataannya? Readers semua sudah menebak bagaimana keadaan sepasang pengantin itu sekarang. Ya, mereka tengah bergulat dengan pikiran masing-masing, hingga membuat keadaan dalam mobil begitu senyap. Memang terasa aneh dan berasa kurang jika tidak ada suara berisik dari mereka berdua saat bersama.
"Gimana ya, Tania sekarang? Apa dia marah?" tanya Arga dalam hati. "Nggak, dia gak akan marah, pasti dia sangat khawatir." lanjutnya.
"Napa nasib gue jadi gini ya? Kenapa gue harus nikah sama orang yang sangat ngeselin?" Sama seperti Arga, Cheryl pun tengah berperang dengan hati dan pikirannya.
"Gimana nasib gue selanjutnya? Apalagi ..." Cheryl menatap Arga yang tengah menatap jendela. "Hatinya bukan untukku," lirihnya masih dalam hati.
Entah kenapa ada rasa yang menyentil, kala mengingat pria yang kini menjadi suaminya memiliki seorang kekasih. Apa dia mengharap pernikahan itu?
"Ahh! Nggak, nggak. Kenapa gue malah mikirin itu. Bukan urusan gue 'kan dia mau pacaran sama siapa? Lagi pula, pernikahan ini gak ada artinya. Ini hanya kepura-puraan dan gue harus bikin kesepakatan sama dia," cerocosnya dalam hati. Segera Cheryl menepis pikiran itu dan kembali berpikir logis.
"Ehemm!!!"
Suara deheman Chery sukses membuat Arga menoleh dengan tautan sebelah alis seolah bertanya, apa?
"Gimana kesepakatan kita?" tanya Cheryl. Kembali pada obrolan mereka yang sempat tertunda.
Arga menghembuskan napas pelan. "Mau lu gimana?" tanyanya.
Belum sempat Cheryl menjawab, mobil yang mereka tumpangi sudah sampai didepan hotel. "Sudah sampai, Tuan, Nona." ucap sang supir.
"Ntar gue tulis," final Cheryl yang terlebih dahulu keluar dari mobil.
Arga terdiam sejenak mengingat kembali pesan dari sang papa mertua padanya, sebelum mereka berengkat.
"Papa titip putri Papa satu-satunya. Jaga dia, bimbing dia! Jika dia salah, jangan sungkan untuk menegurnya. Mulai sekarang, Papa serahkan tanggung jawab Papa pada kamu, suami Cheryl."
Sungguh, kalimat papa Deril membuat Arga merasa mendapat tugas yang tidak dianggap main-main. Apa ini yang dinamakan tanggung jawab seorang suami? Pikirnya.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan jendela mobil membuat Arga tersadar. Ia segera bangkit dan keluar dari dalam kijang besi tersebut.
"Lama amat sih, ngapain?" kesal Cheryl karena sudah menunggu lama. Padahal ingin sekali ia segera istirahat karena waktu yang semakin sore.
"Ck! Kepo," balas Arga dan berlalu mendahului, menyeret kopernya sendiri.
"Eh! Ini koper gue gimana?" pekik Cheryl.
"Seret sendiri!" balas Arga sekenananya.
"Ck!" Mendapat respon seperti itu, membuat Cheryl semakin kesal. Ia mendumel tak jelas, namun kakinya tetap berjalan mengekori langkah sauminya seraya menyeret kopernnya sendiri.
"Selamat sore Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya salah satu wanita dimeja resepsionis.
"Kamar atas nama Bapak Arshaka Ravindra Pratama," balas Arga.
"Baik, tunggu sebentar!" titahnya.
Kedunya menunggu, selagi pegawai itu mencari. Hingga tak berselang lama, wanita itu memberikan kunci berupa card pada Arga.
"Kamar 42A presidential suite." ucap wanita tersebut.
Arga meraih benda itu dan hendak pergi, namun suara Cheryl menghentikan langkahnya. "Maaf, Mbak! Apa ada kamar kosong? Single room?" tanyanya.
Seketika Arga menoleh kembali. Untuk apa? pikirnya Ia lupa jika kamar yang dipesan sang papa pastilah kamar pasangan yang harus mereka tinggali bersama.
"Maaf, Nona. Tidak ada. Semua kamar disini sudah dipesan sebelumnya," balas wanita itu dengan ramah.
"Oh! Iya, maksih Mbak," balas Cheryl dengan wajah murung. Tentu ia tau itu adalah hotel berbintang. Salah satu hotel mewah yang tak sembarangan bisa pesan kamar disana. Harus pesan terlebih dahulu untuk mendapat kamar disana.
"Kenapa?" tanya Arga yang mengerti akan kerisauan gadis itu. "Gue tau lu gak mau sekamar sama gue. Tapi, kita gak ada pilihan lain," jelasnya.
Cheryl berjalan terlebih dahulu tanpa menjawab. Arga memutar bola mata malas. Andai saja tidak ada tanggung jawab yang harus ia tepati, ingin sekali ia pergi meninggalakn gadis itu sendiri disana. Namun, ia cukup sadar diri untuk tidak melakukan itu. Selain karena tanggung jawab, ada rasa khawatir karena ini tempat yang baru pertama mereka singgahi.
Pintu kamar terbuka lebar, menampakan ruangan luas dengan interior mewah dan suasana yang sangat romantis.
Deg!
Sepasang pengantin itu terpaku melihat isi didalam sana. Langit yang mulai gelap membuat ruangan itu ikut gelap dan hanya diterangi lampu temaram dan lilin yang berjejer diatas lantai membentuk hati dan lemari disamping juga berjajar benda merah berapi itu. Bagai red carpet, ribuan kelopak mawar menjadi jalan mereka untuk masuk. Kasur king size berbalut kain putih dengan taburan kelopak mawar pun ikut membuat suasana begitu meriniding untuk kedua manusia itu.
"I-ini?" tanya Cheryl terbata. Wajahnya memucat melihat pemandangan yang sukses membuat jantungnya berdegup tak beraturan. "Ki-kita tidur disini?" tanyanya lagi.
"Mereka bener-bener?" kesal Arga dengan wajah memerah. "Huhh!!!" hembusan napas kasar yang tampak frustasi terdengar dari pria tampan itu.
Arga baru menyadari ternyata kedua orang tua mereka benar-benar sudah merencanakan semuanya jauh-jauh hari. Bahkan, semua terjadi begitu sempurna. Andai saja ini pernikahan yang ia inginkan, tentu ia akan sangat berterima kasih pada mereka. Namun, huhh ... Sudahlah tidak perlu dijelaskan semua orang sudah tau.
Dengan langkah gontai, Arga memasuki kamar tersebut. Namun, baru beberapa langkah ia tidak mendengar suara kaki yang mengikutinya. Seketika ia pun kembali menoleh.
"Lu ngapain masih disitu? Buruan masuk!" ajak Arga menyadarkan Cheryl dari lamunannya.
"Ck! Gak mau. Disini horor," Celetuk gadis itu menolak.
"Aisshh, lu pikir rumah hantu horor? Jangan banyak drama, buruan masuk!" ajaknya lagi mulai kesal.
"Gak mau. Ntar lu apa-apin gue lagi," celetuk Cheryl.
Tentu saja hal itu membuat Arga semakin kesal. Ia kembali menghampiri gadis itu dan menyentil jidatnya. Hingga gadis itu meringis kesakitan.
"Ishh, lu apa-apaan sih main sentil-sentil aja?" omel Cheryl mengusap jidatnya setelah melayangkan pukulan dilengan Arga.
"Sengaja supaya otak lu gak lemot!" balas Arga dengan sengit. Cheryl mencebikan bibir dengan wajah masam.
"Buruan masuk! Atau mau tidur diluar?" tawar Arga. Cheryl terdiam bingung, antara harus masum atau tidak.
"Ya udah sana, lu tidur diluar aja. Biar digondol om-om sekalian," celetuk Arga.
"Isshh, ngeselin lu!" kesal Cheryl menghentakkan kakinya, lalu segera berlenggang terlebih dahulu. Tentu saja ia tidak mau jika harus diluar. Apalagi mungkin akan sangat bahaya untuk gadis sepertinya.
Arga hanya menggelengkan kepala seraya menutup pintu dan hendak menyalakan saklar lampu. Namun, benda itu tak kunjung ketemu. Ia baru mengingat ini kamar spesial, pasti ada remot untuk menghidupkan lampu disana. Ia pun berlalu mendekati ranjang, biar nanti mencarinya.
Brukk!!!
"Ahh, nyamannya," Cheryl merebahkan diri dengan telentang, merasakan empuk dan wanginya aroma tempat tidur.
"Bangun! Jangan tidur dulu," titah Arga menarik tangannya.
"Isshh apaan sih? Gue mau tidur ngantuk," protes Cheryl yang sudah merasa nyaman.
"Kita singkirin ini dulu," ucap Arga menujuk kelopak bunga dan lilin-lilin itu dengan dagunya.
"Lu aja lah. Gue ngantuk," balas Cheryl yang justru memejamkan mata.
"Kagak bisa. Lu harus bantu! Kalo nggak, lu gak boleh tidur disini," peringatnya. Kemudian menarik tangan sang gadis untuk bangkit, namun tak juga dihiraukan.
"Buruan!" ajaknya lagi.
"Gak mau," tolak Cheryl lagi mempertahankan kenyamanannya.
"Bangun gak?" ancam Arga.
"Nggak," tolak Cheryl kekeh.
Arga yang kesal menarik tangan Cheryl untuk bangun, hingga gadis itu tersentak dan bangkit. Namun, karena tidak seimbang Arga justru terjerambab dan menindih tubuh Cheryl hingga mereka terjatuh bersama.
Deg!
******
Jangan lupa jejaknyaa yaa gaisss😘😘