My Enemy, My Husband

My Enemy, My Husband
Gosip beredar



Beberapa hari berlalu. Kabar putusnya Arga dan Tania sudah beredar di kampus. Bahkan, ada yang sudah mengetahui kabar Arga yang sudah menikah dengan Cheryl. Hingga kabar itu semakin panas dan menjadi konsumsi publik. Tentu saja itu semua beredar karena campur tangan Tania yang berhasil mengelabui orang-orang terdekatnya.


"Eh lu denger gak? Ternyata Tania sama Arga udah putus lho," Seorang gadis memulai ghibah dengan teman-temannya.


"Hah, iya 'kah? Kenapa bisa gitu?" tanya salah satu temannya merasa tak percaya.


"Denger-denger ya, Cheryl yang menjadi penyebab mereka putus," balas gadis itu, membuat si gadis yang tertinggal berita menutup mulutnya merasa tak percaya.


"Dan lebih parahnya lagi, Arga sama Cheryl udah menikah dari sebelum putus sama Tania," celetuk salah satu gadis yang tiba-tiba saja bergabung disana. Dia adalah Dinda, teman Tania.


Semua gadis disana membelakak kaget. Memang hanya beberapa saja yang mengetahui berita pernikahan Arga dan Cheryl. Bahkan, mereka yang sudah mendengar belum mempercayainya.


"Idih, gue gak nyangka ternyata Cheryl seorang pelakor," celetuk salah satu gadis tersebut.


"Iya bener. Ternyata dibalik pertengkaran mereka selama ini hanya sebuah kedok belaka," balas teman dari gadis itu.


"Kasihan banget ya, Tania. Dia gadis baik dan dengan lapang menerima perlakuan Cheryl padanya," balas satu temannya lagi.


Dinda mengangguk, mengiyakan dengan ekspresi kasihan. Tanpa gadis-gadis itu sadari, Dinda memberikan kode sebuah kedipan mata pada wanita yang kini tengah menonton mereka dari balik tembok. Wanita itu adalah Tania, ia tersenyum evil pada temannya itu. Tidak sia-sia dramanya selama ini untuk mendapat dukungan dari sang teman.


"Sekarang lu lihat Cheryl. Gue atau lu yang akan kalah?" gumam Tania menyeringai.


"Isshh, gue jadi gedek banget sama si Cheryl. Bisa-bisanya dia kayak gitu," kesal salah satu dari mereka.


"Kenapa sama gue?" sambar Cheryl tiba-tiba membalas ucapan gadis itu.


Seketika para gadis yang tengah berghibah itu terdiam dengan saling lirik. Mereka sedikit terkejut tak menyangka Cheryl sudah berada dibelakang mereka.


Cheryl yang tengah berjalan menuju kelas bersama Reysa, dibuat tertarik untuk menyapa para fans dadakannya itu.


"Nah, ini dia si pelakor. Masih punya muka ternyata," celetuk Dinda.


"Eh, lu kalo ngomong dijaga ya! Tuh mulut minta dikuncir, ya?" bukan Cheryl, namun Reysa yang menyela tak terima.


"Kenapa? Emang bener 'kan, Cheryl yang menjadi penghancur hubungan Arga dan Tania. Dasar, gat*l! Gak tau malu!" tantang Dinda mengejek.


Sedangkan, para gadis hanya saling bisik, tak berani ikut berkomentar. Mereka lebih memilik menyimak duduk permasalahan itu.


"Eh, lu bener-bener, ya!" Reysa geram dan hendak melayangkan pukulan pada gadis itu, namum Cheryl segera mencekal tangan sahabatnya itu.


"Udah Rey, biarin aja mereka mau mengoceh apa. Toh, gak akan merubah apapun," balas Cheryl dengan santai.


"Tapi, Cher. Mulut dia tuh harus dikasih pelajaran. Dia gak tau apa yang terjadi," balas Reysa tak terima. Hal itu membuat Dinda tersenyum sinis.


"Udah, buat apa ngotorin tangan lu untuk seorang antek kayak dia. Kasihan 'kan? Apalagi dia udah dikibulin sama si drama queen yang sekarang lagi ketawa-ketiwi nguping yang lagi ghibah," sindir Cheryl. Tentu gadis itu tau Tania menjadi dalang ghibahan tersebut.


Hal itu membuat Tania membelakak dan segera sembunyi, ia pikir keberadaannya tak dilihat gadis itu. "Sialan! Awas lu Cheryl," kesalnya dan segera berlalu dari tempat itu.


Sedangkan, Dinda menganga tak percaya. Tentu ia kesal disebut antek Tania oleh gadis itu. "Apa lu bilang? Antek?" geramnya menujuk wajah gadis itu dan diangguki mantap oleh Cheryl.


"Eh denger ya, gue bukan antek siapapun! Gue hanya membela orang yang gak berdosa, kayak Tania," kesal Dinda tak terima.


Sektika Cheryl tertawa. Ia mengangguk-anggukan kepalanya. "Teman yang baik," ucapnya menepuk bahu gadis itu. Namun, Dinda segera menepis kasar tangan Cheryl dari bahunya.


Cheryl menghentikan tawa dan menatap para gadis disana. "Baiklah, kalian pengen tau 'kan kebenarannya? Oke, gue klarifikasi. Gue sama Arga udah jadi suami istri sekarang. Sah dimata hukum, ataupun dimata agama."


"Lu bener-bener keterlaluan ya. Gue gak nyangka lu orang kayak gitu," tambah gadis berikutnya yang menyayangkan sikap Cheryl. Dan dibalas riuh yang lainnya. Dan hal itu tentu membuat Dinda tersenyum menang.


Cheryl tersenyum menanggapi. "Terserah kalian mau menganggap gue apa. Suatu saat kalian akan tau alasannya. Yang jelas gue cuma nitipin jodoh gue sama Tania," jelasnya.


Cheryl mengajak Reysa untuk pergi meningglkan mereka yang kini melongo merasa tak percaya akan penjelasan gadis itu.


Gosip pun kian menyebar diseluruh penjuru kampus. Mereka benar-benar mengecap Cheryl sebagai pelakor. Namun, semua itu bukan apa-apa untuk gadis seperti Cheryl. Banyak yang menghujat ia di media sosial dan forum grup kampus.


Kabar itu akhirnya sampai dimata Arga. Ia kesal karena banyak yang memojokan sang istri. Meski hubungan mereka, masih belum layak disebut suami istri. Namun, ia memiliki tanggung jawab untuk melindunginya.


"Ck! Tuh anak gak punya mulut apa? Masa dihujat orang dia diem-diem bae?" kesal Arga melihat beberapa komentar dari warga kampus.


"Sebaiknya, gue samperin dia," ucapnya dengan perasaan khawatir. Ia pun bergegas untuk menemui gadis itu.


**


Sementara itu, Cheryl keluar dari kelas seorang diri. Ia tidak peduli dengan tatapan orang-orang terhadapnya. Hingga, baru beberapa langkah, ia harus menghentikan laju jalannya setelah dihadang segerombolan wanita. Sebuah komunitas anti pelakor, begitu mereka menamai rombongan mereka.


Cheryl menatap heran orang-orang itu, terlihat dari tautan kentara didahinya. "Ada apa?" tanyanya.


Byurrr!!!


Satu siraman air botol didapati Cheryl. Namun bukan dari anggota komunitas. Dinda tersenyum menang sudah mempermalukan Cheryl didepan orang-orang yang kini tengah menontonnya. Gadia itu hanya diam mendapat perlakuan itu.


"Kamu Cheryl?" tanya salah satu wanita dari komunitas itu. Cheryl hanya menatap satu persatu orang-orang disana.


"Kamu mendapat sanksi, denda dan juga hukuman atas perbuatan kamu yang sudah merusak hubungan orang lain," lanjutnya.


Cheryl tersenyum kecut. Adakah peraturan seperti itu? Menurutnya semua itu terlalu ke kanak-kanakan. "Jika gue gak mau?" tantangnya.


"Ck! Lu bener-bener gak punya muka ya?" kesal Dinda hendak menyerang. Namun, sang ketua komunitas mengangkat tangan untuk menghentikan gadis yang mengajukan tuntutan itu pada mereka.


"Ada apa, rame bener?" tanya Arga bermonolog sendiri. Ia celingukan melihat sekumpulan orang yang seperti tengah asyik menonton sesuatu. Hingga ia menyadari Cheryl berada disana dengan keadaan memprihatinkan.


"Astaga, Chemot!" Gegas Arga berlari menerobos kerumunan. Atensinya langsung pada Cheryl yang basah kuyup.


"Chemot, lu gak apa-apa?" tanya Arga meraup wajah Cheryl yang masih basah. Cheryl hanya menggelengkan kepala sebagai balasan.


Ia segera membuka jaket yang dikenakannya. Lalu, menyampirkan jaket itu untuk membungkus tubuh Cheryl yang basah dibagian depan.


"Apa yang kalian lakuin?" tanya Arga tegas pada wanita itu.


"Kamu gak usah ikut campur. Kami hanya melalukan tugas," balas si ketua.


"Tugas? Tugas apa, hah? Membully orang?" kesal Arga.


"Maaf! Sebaiknya kamu gak ikut campur, ini urusan sesama wanita," balas si ketua masih dengan santai.


Arga tersenyum sinis. "Lu bilang apa? Gue gak usah ikut campur?"


"Gimana gue gak ikut campur. Secara wanita yang kalian perlakukan buruk ini adalah istri gue!"


\*\*\*\*\*\*