
"Nggak bisa! Pokoknya aku menolak keras," tolak mama Chika tak terima.
Kini dua keluarga itu sudah berkumpul diruang keluarga yang berada dirumah Cheryl. Kedua ibu itu tidak tau rencana para pria untuk membelikan rumah untuk putra putri mereka. Hingga, wanita cantik itu shok saat tau sang putri akan jauh darinya.
"Ma, ini demi kebaikan Chimut dan Arga. Mereka 'kan butuh privasi, untuk membangun rumah tangga mereka sendiri," jelas papa Deril dengan lembut.
"Mama tau Pa, tapi 'kan apa gak sebaiknya nanti setelah mereka tinggal bersama kita beberapa bulan gitu. Chimut masih belum bisa apa-apa, dia masih butuh ajaran kita," sela mama Chika.
"Iya, benar kata Chika. Sebaiknya biarkan mereka tinggal dulu sama kita. Setidaknya disini sebulan, bersama kita sebulan. Gimana?" usul mama Jingga. Tentu wanita itu masih ingin memastikan mereka bisa membina rumah tangga mereka sebelum keduanya benar-benar mandiri.
"Ma! Kita pergi bukan ke luar kota apalagi keluar negri. Cuma selangkah doang," kesal Arga. Hal yang harus ia syukuri berubah menjadi hal yang begitu menyebalkan.
Rencana ia untuk pindah rumah, disetujui begitu saja oleh sang papa. Namun, siapa sangka, rumah yang disediakan pria paruh baya itu justru berada tepat disebrang rumah yang mereka tempati sekarang. Jika seperti itu, haruskah ia senang? Tetap saja ia masih tidak bisa bebas untuk bergerak.
Tau apa yang ada diotak Arga, Cheryl terkekeh melihat wajah frustasi pria itu. Ia yang awal tidak terima, mendadak menyetujui jika mereka pindah hanya kedepan. Apalagi hal itu akan mempermudah rencana yang ia buat dengan Key sebelumnya.
"Pokoknya, mereka akan pindah besok pagi. Kalian gak usah lebay, kangen ya tinggal samperin," final papa Shaka.
Kedua pria paruh baya itu tersenyum menang. Tentu, mereka tau jika Arga belum memutuskan hubungannya dengan Tania. Hal itu meyakinkan mereka, jika sebenarnya hubungan pasangan suami istri itu belum baik sepenuhnya. Akan mengkhawatirkan, jika mereka jauh dari pantauan para orang tua.
"Udah, setidaknya itu lebih baik," bisik Cheryl cekikikan. Arga mendengus kesal, ia hanya bisa pasrah akan aturan orang tua mereka.
Kedua wanita yang tidak mengerti rencana suami mereka hanya mampu menghembuskan napas pasrah. Benar juga apa yang dikatakan papa Shaka. Akhirnya mereka pun menyutujui itu.
**
"Apa harus ya, pindahin barang-barang juga?" tanya Cheryl mengemas isi lemari kedalam koper.
"Namanya juga pindah, ya dibawalah!" Terdengar suara Arga masih kesal. Cheryl menghentikan aktfitasnya, lalu menoleh ke arah pria itu.
"Bukannya lu yang minta pindah? Kenapa lu yang ngambek?" ledek Cheryl disertai kekehan.
Arga yang tengah terbaring diatas kasur, bangkit dari posisinya. "Ck! Emang lu gak mau kita hidup bebas?" tanya Arga masih dengan nada kesal.
Cheryl tertawa. "Itu kita pindah berarti bebas, Mamat."
"Tapi 'kan tetap aja, kita belum bebas. Tiap hari mereka pasti akan memantau kita," balas Arga.
"Bebas seperti apa sih yang lu mau?" tanya Cheryl menatap pria itu serius. "Bebas agar lu bisa berhubungan sama Tania, hem?"
Arga terdiam dengan mata yang ikut menatap gadis itu. Bukan itu sebenarnya yang ia pikirkan. Bahkan, ia sudah berencana akan mengakhiri hubungan dengan kekasihnya itu. Namun ada hal lain dibalik kata 'bebas' yang ia katakan pada gadis itu. Ia sudah cukup tersiksa jika harus setiap malam tidur bersama Cheryl. Beberapa malam saja sudah membuat naluri kelelakiannya bangkit tiba-tiba. Dan setiap malam, oh entah apa ia akan sanggup akan hal itu? Tentu meski berbeda rumah, mereka tetap akan sekamar karena pantauan orang tua mereka.
Cheryl menghembuskan napas pelan. Ia lupa akan hal itu. Seharusnya ia tidak berharap untuk mereka bisa memulai. Arga hanya suami diatas kertas, dengan hati milik wanita lain.
'Ini hanya sandiwara, dan selamanya akan seperti itu. Jika pun gue melakukan apa yang disarankan Key, itu gak akan mempengaruhi atau pun menggoyahkan Arga. Tapi, gue akan mencoba semampu gue buat nyadarin lu, Ga!' batin Cheryl bertekad.
Arga tak menjawab dan berlengggang keluar dari kamar. Cheryl memperhatikan kepergian pria itu, memastikan jika pria itu tidak akan kembali lagi.
"Haissshh," ia mendesah kecil kala mengingat kembali rencanya dengan Key.
Di rooftp waktu itu ....
"Caranya?" tanya Cheryl bingung.
"Pertama, kita buat Arga tergoda sama lu," bisik Key.
"Hah?" Tentu saja Cheryl tak mengerti apa maksudnya.
"Ck! Maksudnya, lu harus buat Arga bertekuk lutut sama lu," jelas Key.
"Ya kali gue bisa, tau sendiri dia bucin banget sama si Tania, rapia itu," kesal Cheryl. Rencana Key sangatlah tak masuk akal menurutnya.
Key mengacak pucuk kepala gadis itu, hingga sang gadis mendengus kesal. "Lu emang lemot ya!" ledeknya. "Maksud gue, gak perlu dapetin hatinya, lu cukup dapatin tubuhnya," lanjut Key terdengar sarkas.
Hal tersebut tentu saja membuat Cheryl membelakakkan mata. Tangan gadis itu sudah melayang pada kepala Key. "Gila! Gak ada, gue gak mau. Nyerahin diri sama musuh gue sendiri. Gila aja," tolak Cheryl mentah-mentah.
Key terkekeh. Dari sekian banyak wanita, Cheryl termasuk gadis yang berbeda dari para wanita yang mengelilingi dirinya. Wanita seperti itulah type ideal yang diinginkannya. Namun sayang, gadis itu harus berakhir dipelukan sepupunya.
"Lu tenang aja, ini tuh cuma akting," lanjut Key menenangkan.
"Akting pala lu peyang. Yang ada gue tewas ditangan Arga. Lagian mana ada kucing yang nolak dikasih makan ikan? Ngaco lu," cerocos Cheryl tak terima.
"Cheryl, Cheryl. Lu sendiri 'kan yang bilang. Arga sangat bucin sama Tania? Lalu, apa yang lu khawatirin? Jika emang dia sangat bucin sama kekasihnya itu, gak mungkinlah dia tergoda begitu aja sama lu dan mau nyentuh lu," jelas Key, hingga Cheryl terdiam mencerna ucapan pria itu.
"Nih ya, gue kasih tau. Cowok bucin itu, pantang buat tergoda wanita lain. Lu lihat aja uncle Sha. Sekretarisnya sangat cantik dan juga sexy. Tapi, itu gak ngaruh apapun. Sebab apa? Uncle sangat bucin sama onty Jin. Dia akan menggunakan hati dari pada nafsunya."
"Jadi, lu gak perlu khawatir! Terus buat perhatian-perhatian kecil. Tunjukin seolah-olah lu menerima pernikahan ini. Buat dia sedikit demi sedikit berpaling dari Tania."
"Menurut gue cara ini lebih efektif. Setidaknya, Arga juga gak akan terlalu sakit hati pas tau kenyataan mengenai wanita itu," jelas Key panjang kali lebar.
Cheryl terdiam sejenak. Benar juga apa yang dikatakan Key padanya. Cheryl yang kembali lemot dengan penjelasan panjang Key, tidak memikirkan akan konsekuensinya. Yang ia pikirkan hanya Arga perlahan dapat melupakan Tania.
Tanpa ia tau, Key sengaja memberikan rencana itu untuk memberi konsekuensi keuntungan buat pasangan itu sendiri. Ibarat kata, sekali mendayung dua pulau terlampaui. Selain memisahkan Arga dengan Tania, ia juga bisa menyatukan sejoli itu. Lebih tepatnya, ia dapat memupuk cinta antara kedua manusia dengan gengsi tinggi itu.
"Oke deh, gue akan melakukan itu," final Cheryl. Key tersenyum mengangguk. Tentu ia senang, jika rencananya itu berhasil.
Berulang kali, Cheryl menarik dan menghembuskan napasnya. Setelah mengingat pembicaraannya dengan Key.
"Oke. Apapun hasilnya, gue akan coba!"
\*\*\*\*\*\*
Untung aja ya, Cheryl lemot🙈 Yuk gaiss ramaikan lagi, tunggu up selanjutnyaa yaa😘😘 ini enaknya mak othor update malam sekalian 2/3 bab. Atau satu2 siang, sore, malam? Komen yaa gaisss!!!