
Cheryl mondar mandir seperti setrikaan. Ucapan dan tindakan Arga pagi ini membuat ia kebingungan. Berulang kali ia mengembang kempiskan pipi untuk menetralkan panas yang menjalari dirinya.
"Ya ampun, sebenarnya apa yang terjadi sama tuh anak? Apa mungkin otaknya geser setelah nyebur kemarin? Atau dia emang ..." tanyamya bermonolog sendiri.
"Ck! Ah, gak mungkin. Dia gak mungkin mulai berpaling dari wanita itu. Buktinya, sekarang dia masih nemuin dia," lanjutnya berspekulasi sendiri.
"Tapi ...." Cheryl menjatuhkan diri keatas sofa dengan bayangan kembali pada kejadian pagi tadi. First kissnya berhasil di ambil pria itu.
Ciuman lembut itu masih terasa hingga sekarang. Ia meraba bibir sendiri dengan senyum dan rona merah diwajahnya. "Ahh!!!" Gadis itu menutup wajah dengan salah tingkah. Bolehkah ia baper dengan perlakuan Arga?
**
Sementara itu, Arga menemui Tania di Kafe biasa mereka nongkrong. Ternyata, wanita itu sudah menunggu disana. Senyum mengembang dilayangkan wanita itu untuk menyambut kedatangan sang kekasih.
"Hai, Sayang!" sapanya berdiri menyambut untuk mendapat pelukan.
"Hai!" balas Arga sedikit kaku. Pria itu langsung duduk tanpa memeluk kekasihnya itu seperti biasa.
Tania sedikit menyurutkan senyum dan pasrah duduk kembali dikursinya. Ternyata ia baru menyadari, banyak perubahan dari Arga sekarang. Mungkinkah itu masih berkaitan dengan kejadian waktu itu?
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Arga, setelah beberapa waktu mereka diam dengan pikiran masing-masing.
Tania tersenyum sinis, bahkan meminta bertemu pun harus ada alasannya. "Sebenarnya, apa yang kamu sembunyikan dariku?" tanyanya.
"Kenapa, kamu tanya begitu?" tanya Arga sedikit ragu.
"Akhir-akhir ini, aku merasa kamu aneh. Aku merasa kamu lain. Apa ada gadis lain dihati kamu?"
Deg!
Arga terdiam, ia menunduk bingung harus menjawab apa. Bingung harus menjelaskan darimana? Sentuhan tangan Tania pada tangannya membuat ia mendongak.
"Jujur sama aku, apa kamu ada hubungan dengan Cheryl?"
Deg!
Lagi-lagi jantung Arga semakin berdegup kencang. Antara siap dan belum siap memberi pengakuan pada kekasihnya itu. Mendengar isak tangis dari Tania, membuat Arga merasa bersalah atas wanita itu.
"Maafin aku!" ucap Arga mengusap tangan sang wanita.
"Jadi, bener?" tanya Tania dengan air mata yang sudah meleleh dipipinya. "Yang kemarin aku dengar itu, beneran suara Cheryl? Benar kalian? Kalian ...." Tangis Tania semakin kencang.
Arga bingung apa maksud kekasihnya itu. Ia mencoba menenangkan gadis itu dengan menghapus jejak kebasahan dipipinya. "Aku mohon maafkan aku, aku gak maksud-"
"Kamu selingkuh dibelakang aku, kamu tidur bersama dia. Kamu jahat Arga! Kamu jahat ...." bentaknya diringi tangis kian kencang.
Sontak saja Arga shok. Bukan itu yang sebenarnya terjadi. Ia berpindah untuk menenangkan wanita itu. Mencoba mendekapnya dengan memberikan ketenangan. Meski sedikit berontak, namun tak ayal Tania diam menerima dekapan Arga.
"Maafin aku, Tan. Ini bukan seperti yang kamu pikirkan. Aku sama dia-"
"Dia ada dikamarmu dipagi hari. Bahkan berani mengangkat teleponmu," sela Tania. Arga membelakak kaget. Kapan?
"Kamu jahat, Ga! Kamu jahat! Apa kurangnya aku? Kenapa kamu tega sama aku? Hubungan suci yang selama ini kita jaga, kamu rusak begitu mudahnya," Tania terus memberontak memukul dada Arga dengan tangis penuh emosi.
Rasa bersalah semakin menyeruak dihatinya. "Maafin aku, Tan. Maafin aku," sesal Arga mengeratkan dekapannya.
"Kenapa kamu tega, kenapa kamu selingkuh?" lirih Tania.
"Aku gak selingkuh," balas Arga. Seketika Tania melepaskan dekapan Arga dengan kasar.
"Lalu, apa?" teriaknya penuh emosi.
Arga menghembuskan napas panjang sebelum mengakuinya. "Aku dan Cheryl sudah menikah!" pasrahnya.
Tania shok bukan main. Menikah? Apa-apaan ini? Pikirnya.
Plaaakkk!!!
Satu tamparan keras dilayangkan Tania pada Arga. Kesal yang membuncak tak dapat ia tahan. Sudah cukup ia bersikap manis selama ini. Namun, tetap saja semua berkahir sia-sia.
Arga menerima semua perlakuan wanita itu. Ia tidak menampik jika dirinya memanglah salah. Ia hanya memejamkan mata seraya memegang pipinya terasa kebas.
"Kamu benar-benar brengs*k!" umpat Tania.
"Maafin aku, aku tau aku salah. Sudah menyembunyikan semua ini dari kamu. Tapi, percayalah aku gak bermaksud menyakiti perasaan kamu. Kami dijodohkan dan gak bisa untuk menolak permintaan orang tua kami. Kamu harus percaya, aku hanya mencintai kamu," jelas Arga.
"Kamu tau? Ini juga berat bagiku. Tapi, aku pun tidak bisa berbuat apa-apa. Kamu boleh membenciku, tapi kumohon maafkan aku. Dan aku berharap kamu bisa bahagia dan menemukan orang yang tepat untuk menjadi pendamping hidupmu," lanjut Arga menggenggam kedua tangan wanita itu.
"Apa kamu bilang? Bahagia? Pendamping hidup?" tanya Tania seraya berdiri menepis kasar tangan Arga. Kini wanita itu sudah tidak bisa lagi menahan diri.
"Kamu denger baik-baik, aku gak terima diperlakukan seperti ini. Pokoknya, aku minta kamu nikahin aku juga!" tegasnya.
Arga membelakak kaget. Tentu itu tidak mungkin terjadi. Ia ikut berdiri merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan wanita itu. "Itu gak mungkin, Tan."
"Kenapa? Kenapa gak mungkin?" tanya Tania. "Bukannya kita saling mencintai? Lalu, apa salahnya jika kamu juga menikahiku?"
Arga memijit pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut. "Tan-"
"Aku gak mau tau, nikahin aku? Atau kamu akan melihat aku mengakhiri hidupku?" ancam Tania.
"Tania!" bentak Arga yang tak mengira gadis itu bisa begitu mudah mengucap hal itu.
"Aku gak main-main Arga. Aku menunggu keputusanmu!" Wanita itu meraih tas dan berlenggang begitu saja meninggalkan Arga. Bahkan, panggilan pria itu tidak didengar olehnya.
"Tan, Tania!!!"
"Arrgghhh!!!" erang Arga menjambak rambutnya frustasi. Bahkan ia melupakan atensi orang-orang yang melihat pertengkaran mereka.
Braakkkk!!!
Tania membanting pintu mobil begitu keras. Amarahnya begitu membuncak mendengar kenyataan itu. Jika saja Arga hanya selingkuh, mungkin ia bisa memaafkan. Namun, sebuah pernikahan yang menjadi permasalahan. Ia sadar betul, jika ia akan kehilangan Arga selamanya. Otomatis, ia juga akan kehilangan atm terbesarnya.
"Aarrggghh sialan!!!" umpatnya memukul stir mobil.
"Nggak! Gue gak bisa kehilangan Arga. Dia tambang emas yang gak bisa gue lepasin begitu aja,"
"Manusia-manusia tua itu, awas aja gue balas kalian semua!" teriaknya kesal.
"Cheryl?" Wanita itu tersenyum licik. "Lihat aja, lu gak akan pernah bisa menguasai Arga. Akan gue pastiin lu bakal nyesel seumur hidup, karena sudah berurusan sama gue!"
"Bagiamanapun caranya, gue gak akan pernah lepasin Arga!" lanjutnya menyeringai. Lalu, ia segera menyalakan mesin dan berlalu dari parkiran dengan kecepatan tinggi.
**
"Chemot!!!"
"Lu udah pulang?" tanya Cheryl yang masih fokus pada layar telvisi dihadapannya.
Arga menghampiri gadis itu di sofa panjang. Cheryl tak menyadari raut wajah Arga yang berantakan. Ia hanya sibuk dengan snack ditangannya dan film yang tengah ia tonton.
"Sejak kapan lu berani buka-buka hape gue?" tanya Arga dengan nada dingin.
Seketika Cheryl menoleh kearah Arga yang tengah menatapnya tajam. "Lu kenapa?" tanyanya heran.
"Jawab gue, kapan lu angkat panggilan dari Tania?" tanya Arga dengan nada yang sama, mencekal tangan gadis itu seraya membungkukkan tubuhnya.
"Gue ...." jawab Cheryl ragu melihat tatapan menyeramkan pria itu.
"Jawab gue!" bentak Arga menyelak ucapn Cheryl.
Tentu saja hal itu membuat Cheryl terperanjat. Ia tak terima dibentak seperti itu. Hal itu sama saja Arga mengibarkan bendera perang padanya. Cheryl menghempaskan tangan Arga dengan kasar. Tatapannya ikut menghunus tajam pada pria itu.
"Kenapa? Gak boleh?" tantang Cheryl disertai senyum sinis. "Bukannya itu sudah tertera disurat perjanjian kita, poin satu gue berhak ikut campur sama urusan lu,"
"Dan lagi bukankah kita suami istri, apa itu salah?" tanya Cheryl semakin menantang.
Arga tertawa sinis. "Oh, suami istri ya? Oke, sekarang kita buktiin kalo kita ini suami istri."
Cheryl menaikan alisnya tak mengerti, belum sempat ia berkomentar. Tiba-tiba saja Arga mendorong tubuh Cheryl hingga terjengkang diatas sofa tersebut.
"L-lu mau ngapain?" tanya Cheryl shok, ketika Arga tiba-tiba saja mengukung dirinya, seraya membuka kancing kemeja yang dikenakan pria itu. Cheryl semakin membelakak, saat Arga begitu dekat dengan jarak yang kian terkikis.
"Membuktikan, kalo gue juga punya hak buat nyentuh lu!"
\*\*\*\*\*\*
Ayo jejaknyaa gaisss😘😘