My Enemy, My Husband

My Enemy, My Husband
Tentang perasaan



Gemericik hujan terdengar bergumuruh. Malam kian mencengkam dengan alunan hujan yang kian deras. Cheryl belum juga bisa menutup matanya. Padahal, tidak ada niat untuk gadis itu memadamkan lampu. Ia menaikan selimut sebatas leher, hingga hanya menyisakan kepala saja. Namun, hal itu masih saja membuat ia ketakutan.


"Lu takut?" celetuk Arga bertanya.


Cheryl menoleh, ia pikir Arga sudah terlelap disampingnya. Kini sejol itu sudah tidak mempermasalahkan lagi untuk tidur diatas ranjang yang sama. Justru akan membahayakan jika mereka harus berpisah ranjang ketika kedua orang tua mereka tiba-tiba datang.


"Lu belum tidur?" bukan menjawab Cheryl justru bertanya balik memperhatikan Arga yang terpejam.


"Gimana gue mau tidur? Lu dari tadi gak diem," sindir Arga masih dengan mata terpejam dan kedua lengan yang dilipat dibawah kepala.


"Ck!" Cherl hanya berdecak menanggapi. Jika saja tidak hujan deras, mungkin saja dirinya sudah mengarungi dermaga mimpi.


Arga tersenyum, lalu ia membukakan matanya seraya menoleh. Telihat gadis itu tengah cemberut dengan mata menatap langit-langit kamar. "Kalo lu takut, lu boleh peluk gue," tawarnya.


Cheryl menoleh, melihat Arga yang tersenyum seperti meledeknya, tentu membuat ia kian kesal. "Isshh ogah!" tolaknya.


Arga terkekeh. "Yakin? Mumpung gue lagi baik nih," tawarnya lagi.


"Gak usah! Gue-"


Gluduk! Jederrr!!!


"Aaaa!!" pelik Cheryl shok. Gadis itu reflek memeluk tubuh Arga, menyembunyikan wajah didada bidang pria itu.


Arga terpaku sejenak, kemudian pria itu tertawa melihat tingkah sang gadis. "Katanya, ogah?" godanya.


"Isshh, gue 'kan takut petir," gerutu gadis itu kesal.


"Oh ya? Bilang aja pengen peluk," goda Arga lagi semakin gencar.


Seketika Cheryl melepas pelukannya dengan perasaan dongkol. "Pede banget sih lu! Siapa juga yang pengen peluk lu, hisssh!" kesal gadis itu mengarahkan lagi tubuhnya untuk telentang seraya melipat tangannya didada.


Arga tergelak karena berhasil menggoda gadisnya itu. Tentu hal itu membuat Cheryl semakin kesal. "Diem! Gak ada yang lucu tau gak?"


Gludukk!! Jederr!!


Lagi-lagi suara gemuruh dan petir membuat Cheryl memekik ketakutan hingga kembali memeluk tubuh Arga. Sebisa mungkin Arga melipat bibir menahan tawanya agar tidak pecah.


"Jangan lepasin, gue takut," lirih Cheryl. Arga yang sempat ingin kembali menggoda gadis itu lagi, mengurungkan niatnya.


Perlahan pria itu membalas mendekap tubuh yang gemetar itu. Megusap kepala gadis itu, menyalurkan rasa aman padanya.


"Gue gak akan lepasin lu, tenanglah!"


Nyaman itulah yang dirasa Cheryl sekarang. Hingga lambat laun, ia pun mulai tenang. Ia tidak peduli, jika Arga akan kembali menggoda atau pun meledeknya. Yang jelas ia sudah merasa nyaman dalam dekapan pria itu.


Lama keduanya berpelukan, namun belum juga bisa memejamkan mata. Arga mulai gelisah saat merasakan jari kaki Cheryl bergeliyara mengenai bulu-bulu kakinya menyebabkan hawa tubuh Arga tiba-tiba menanas.


"Kaki lu ..." Arga mengantung ucapannya bingung cara menjelaskan pada gadis itu.


"Hem, kenapa?" tanya Cheryl mendongak menatap wajah pria itu. Arga terpaku menatap wajah Cheryl yang terlihat cantik dan juga menggemaskan.


Cheryl tersenyum bodoh menampilkan deretam giginya tanpa dosa. "Maaf, kaki gue gatal," ucapnya.


Arga menghembuskan napas panjang. Ia berusaha setenang mungkin, meski sebenarnya sesuatu dalam dirinya semakin tak menentu. Hingga, keadaan kembali tenang dan hening.


"Emm, Ga!" panggil Cheryl ragu, takut-takut pria itu sudah terlelap.


"Hem," balas Arga yang ternyata belum tertidur.


"Apa lu sama Tania ... Beneran putus?" tanya Cheryl semakin hati-hati.


"Kenapa lu nanya itu?" bukan menjawab Arga justru balik bertanya.


Cheryl terdiam sejenak, ia tidak berani menatap wajah pria. "Cuma pengen tau," cicitnya pelan.


"Kalo seandainya dia meminta mempertahankan hubungan. Apa pendapat lu?" tanya Arga yang sukses membuat Cheryl mendongak, hingga kedua netra mereka bertemu.


"Dia menolak putus?" tanya Cheryl sendu.


Arga menggembuskan napas panjang seraya menganggukkan kepala pelan. Cheryl kembali menunduk karena matanya yang tiba-tiba memanas, ada sesuatu yang menyentil dari sudut hatinya.


'Kenapa hati gue sakit? Kenapa gue gak terima? Apa bener, gue mengharapkan pernikahan ini?' batin Cheryl bertanya-tanya.


"Chemot?" sapa Arga yang melihat Cheryl tiba-tiba menunduk. "Lu-"


"Apa lu begitu mencintainya?" sela Cheryl bertanya.


"Hem,"


Jleb! Sesuatu tiba-tiba menikam hati gadis itu. Sakit, hingga menimbulkan air mata yang keluar begitu saja. Tidak ingin air matanya dilihat oleh Arga, ia pun menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.


Lalu, dengan cepat membalikan tubuhnya untuk membelakangi pria itu. "Gue mau tidur," ucapnya.


Sontak saja hal itu membuat pria itu heran. "Cher?" sapanya. Namun, tak ditanggapi gadis itu.


'Gimana cara gue buat bikin lu move on dari wanita itu? Apa harus lu tau dulu kenyataan siapa dia, agar lu sadar?' tanya Cheryl dalam hati disela isak tangisnya yang tertahan.


'Gue gak mau lu terluka, gue gak mau lu sedih. Tapi, gue lebih gak mau lihat lu menderita karena wanita itu. Lalu, apa yang harus gue lakuin?' lanjut Cheryl dalam hati.


Sementara Arga yang melihat Cheryl terdiam. Hanya dapat menyimpulkan jika gadis itu memang ingin tidur. Meski sedikit khawatir akan ucapannya yang mungkin menyakiti gadis itu. Namun, ia rasa itu terlalu mustahil.


'Cinta? Apa arti kata itu sebenarnya. Gimana sebenarnya tentang perasaan gue? Saat bersama Tania, gue begitu senang dapat mengakui dia sebagai pacar gue. Gue senang melihat dia yang mau menerima setiap apa yang gue berikan. Tapi, saat bersama lu, gue merasa lain. Gak ada hal yang gue senang saat kita bersama. Hanya ada rasa kesal dan marah saja. Namun, saat lu gak ada semua terasa sepi dan hampa. Saat lu terluka, gue merasa khawatir. Saat lu sedih, gue merasa harus jadi sandaran lu. Saat lu dalam bahaya, gue merasa harus melindungi lu.' batin Arga memutar memori otaknya kembali, akan dua wanita itu.


'Cheryl, apa gue memiliki perasaan terhadap lu?' tanya Arga masih dalam hati. Ia menoleh menatap gadis itu.


'Tolong! Jelasin sama gue, perasaan apa ini sebenarnya?'


\*\*\*\*\*\*


Jangan lupa jejaknya yaa gaiss😘