My Enemy, My Husband

My Enemy, My Husband
Hari sial



Hari berganti hari, bulan terus berjalan. Rumah tangga Arga dan Cheryl kian menghangat. Namun, tidak ada yang berubah dari tingkah keduanya. Selalu saja ada hal yang diributkan. Seperti saat ini, sejoli itu tengah beradu argumen di tengah jalan.


"Ya udah panggil bengkel aja, aku udah siang ini," ucap Cheryl terdengar menggerutu, yang melihat Arga mencoba melihat mesin depan mobil mereka.


"Kelas kamu masih dua jam. Bentarlah kita coba dulu," balas Arga lebih tenang.


Meskipun mereka sering beradu argumen seperti itu, namun sekarang Arga lebih sering mengalah. Pria itu sudah terbiasa menurut akan kemauan sang istri. Bahkan, adu argumen mereka sekarang tidak terdengar seperti orang bertengkar, namun lebih terdengar seperti pertengakran manis sepasang kekasih.


"Tapi 'kan aku ada janji sama Reysa," rajuk Cheryl.


Arga menghentikan sejenak aktifitasnya. Lalu, ia mendekat pada sang istri yang tengah berkacak pinggang. "Janji apa, hem? Bukannya janjimu cuma sehidup semati denganku?" goda Arga merapihkan anak rambut gadis yang sudah bukan gadis lagi itu.


Cheryl berdecak mendengar godaan dari suaminya itu. Namun, diakhir decakan itu terselip senyum tersipu darinya. Entah sejak kapan Arga berubah menjadi kian manis. Arga yang melihat rona merah dipipi chuby itu merasa gemas. Hingga ia mengusek rambut gadis itu.


"Yuk!" ajak Arga mengulurkan tangan, Cheryl meraih tangan itu hingga tangan mereka bergandengan.


"Kemana?" tanya Cheryl mengikuti langkah jangkung Arga.


"Ngamer," canda Arga terkekeh.


"Isshh, ngamer mulu ingetnya," Cheryl mengeplak lengan Arga hingga pria itu tertawa.


Wajah Cheryl sering kali memerah ketika Arga selalu blak-blakan soal ranjang. Ia merasa malu, karena akhir-akhir ini sering sekali lebih agresif. Bahkan, gadis itu sering kali meminta duluan.


"Tapi ... Bikin candu 'kan?" goda Arga tersenyum jahil.


"Ck! Apaan sih?" elak Cheryl kian malu.


Arga melebarkan senyum, senang sekali menggoda istrinya itu. Apalagi, tubuh sang gadis sudah seperti lem aibon yang memabokan, membuat ia semakin enggan menjauh dan selalu ingin merapat.


"Tenyata pacaran udah halal itu enak ya," ucap Arga mengalihkan pembicaraan mereka. Sejoli itu masih berjalan untuk sampai di halte bus.


"Emang apa bedanya?" tanya Cheryl penasaran. Ia yang tidak pernah berpacaran, tentu tidak tau akan perbedaan itu.


"Ya bedalah, pacaran biasa tuh mana segan buat bisa bersama. Pegangan tangan gini aja berasa diawasi banyak malaikat. Apalagi kalo-"


"Jadi, kamu suka lakuin itu sama Tania?" sela Cheryl menghentikan langkah kakinya. Gadis itu menatap tajam ke arah suaminya.


"Lakuin apa? Enggak!" elak Arga gelagapan.


"Bohong!" Cheryl menghempaskan tangan sang suami dengan wajah memberenggut kesal.


"Ya ampun, Cher! Nggak, aku gak pernah lakuin apa yang sering kita lakuin. Tania tuh-"


"Belain, belain aja terus," kesal Cheryl menyelak lagi kalimat Arga.


"Siapa yang belain?" Arga masih cukup sabar menghadapi istrinya yang akhir-akhir ini, kerap sekali marah-marah.


Pria itu hendak meraih tangan sang gadis, namun Cheryl segera menepisnya. "Please, Cinta ... Ini gak harus di permasalahin. Kamu tau sendiri, Tania menjadi orang lain dihadapan aku. Jangankan melakukan hubungan seperti itu, dia benar-benar bersikap seperti gadis polos yang gak tau apa-apa," jelas Arga.


Mengingat kelakuan wanita itu yang seperti apa, membuat Cheryl berulang kali menanyakan hal serupa. Tentu wanita manapun enggan miliknya pernah dimiliki wanita lain. Membayangkannya saja, oh sungguh! Membuat gadis itu tidak ikhlas.


"Taxi!" Cheryl menghentikan sebuah taxi yang melintas dihadapan mereka.


"Udah ya, jangan marah terus!" bujuk Arga, namun Cheryl masih enggan menimpali.


Segera Arga membuka pintu mobil tersebut, mempersilahkan Cheryl untuk masuk. Hingga setelah saat ia hendak masuk menyusul, Cheryl menghentikannya. "Stop!!! Jangan masuk!"


Sontak Arga keheranan, mendapat penolakan itu. "Kenapa?" tanyanya.


"Aku berangkat sendiri. Kamu cari taxi lain!" ketus Cheryl.


"Tapi-"


Brukkk!!!


"Jalan, Pak!" titah Cheryl setelah menutup pintu.


"Cher, bentar dulu!" cegat Arga, namun mobil itu sudah melesat begitu saja. "Cher, Cheryl!" teriaknya.


"Ah, sialan!" kesalnya.


Arga berjalan mondar mandir di trotoar itu. Menunggu taxi atau pun kendaraan umum yang lewat. Namun, hingga beberapa menit ia tidak menemukan kendaraan apapun. "Astaga! Sungguh sial sekali gue hari ini," kesalnya masih mencoba cukup sabar.


Ditengah ke gelisahannya, tibalah sebuah angkot merah. Dengan terpaksa Arga menghentikan kendaraan yang sama sekali belum pernah ia tumpangi. Namun, demi untuk segera sampai kampus dan menyusul sang istri, ia pun rela menumpangi kendaraan itu.


Banyak drama yang membuat ia pusing didalam angkot tersebut, hingga saat turun ia berlari menuju got. Lalu, memuntahkan semua isi perutnya.


"Uwek! Uwek!"


Untuk pertama kalinya seumur hidup, Arga merasakan mabok kendaraan dan itu sangat tidak nyamana sama sekali.


"Mas, Nda apa-apa?" tanya kenek yang meghampiri pria itu. Arga hanya mengangkat tangan sebagai jawaban.


"Walah, Mas, Mas. Ndeso sekali sampean. Moso naik angkot saja iso mabok, toh?" tanya pria itu menggeleng tak percaya. Meski kesal, Arga tidak mampu untuk menjawab. Ia masih mengatur napas untuk menetralkan kembali dirinya.


"Yo wes, Mas. Sini bayarannya!" pinta pria itu mengadahkan tangan.


Arga meraba saku celana sampai kemeja yang ia kenakan. Hingga ia tersadar sesuatu. "Mampus!" desahnya pelan.


"Nopo toh, Mas?" tanya pria itu.


Arga menghela napas kasar. Sungguh ini adalah hari tersial untuknya. "Dompet sama ponsel saya, terbawa sama istri saya yang udah sampai kampus lebih dulu," jelasnya. "Bentar saya cari dulu!"


Baru saja Arga hendak pergi, namun Pria itu mencegatnya. "Walah, sampean iki gimana, toh? Moso naik angkot nda mau bayar?" kesal pria itu.


"Bukan gak mau bayar, Mas. Saya akan bayar, cuma saya harus cari istri saya dulu," balas Arga menjelaskan.


"Heleh, alesan. Ora duwene duit, ya ora usah naik angkot," dumel pria itu.


Meski dengan bahasa yang tidak Arga mengerti, namun ia tau kenek itu tengah mendumel mengumpatinya. Arga berdecak kesal, hingga ia melihat seseorang yang hendak memasuki area kampus.


"Naya!" panggilnya. Seorang gadis mendongak, melihat Arga yang melambaikan tangan meminta kode untuk menghampirinya, gadis itu pun bergegas menghampiri.


"Ada apa, A?" tanyanya.


"Lu ada duit gak? Gue pinjem dulu buat bayar angkot," tanya Arga tanpa rasa malu.


"Hah?!" Berbeda dengan gadis itu yang menganga merasa tak percaya. Seorang sultan meminjam uang?


"Udah buruan, ntar gue ganti sepuluh kali lipat deh," bujuk Arga.


Sontak gadis itu berbinar mendengarnya. "Seriusan, A?" tanyanya memastikan.


"Iya, dua rius. Udah buruan sini!" pinta Arga.


Segera gadis itu mengambil uang pecahan seratus ribu pada Arga. "Ini kebanyakan! Gak ada yang kecil?" tanya Arga.


"Gak apa-apa, A. Sok mangga, pake aja!"


Tanpa menjawab, Arga segera memberikan uang itu pada kenek. Pria itu pun menerima dan memberikan kembalian pada Arga. Lalu, kembali setelah berterima kasih.


"Nih, sisanya!" Arga menyerahkan kembalian itu pada sang gadis.


"Gak usah buat A Arga aja, takut nanti teh butuh deui," tolak sang gadis.


"Nggak, gue udah gak butuh lagi. Nih ambil!" Arga masih mencoba memberikan kembalian tersebut.


"Beneran atuh, A. Gak usah, aku teh ikhlas!"


"Jadi, lu niat ngasih aja buat gue?" tanya Arga.


"Enggak!" balas gadis itu menggelengkan kepala.


"Lha terus?" tanya Arga keheranan.


"Naggung atuh kalo cuma lima belas ribu mah, jadi pas in aja seratus ribu. Biar nanti aku teh dapatnya sejuta!"


"Hah???!!!"


\*\*\*\*\*\*