My Enemy, My Husband

My Enemy, My Husband
Kalut



**


"Maaf, agak lama. Tadi aku ...." Arga menggantungkan kalimatnya saat ia menyadari keadaan kamar yang sepi.


"Cher?" panggilnya. Pria itu celingukan mencari sang istri yang entah dimana keberadaannya.


Ia membuka kamar mandi, namun tempat itu sama kosong dan sepi. Arga sedikit bingung saat tak dapat menemukan keberadaan istrinya itu.


"Kemana dia?" tanyanya bermonolog sendiri. Kemudian, ia mendudukan diri ditepi ranjang. Mencoba menebak-nebak kemana perginya sang istri.


"Kok perasaan gue gak enak ya? Apa dia balik ke pesta?"


Tiba-tiba saja dering ponsel mengalihkan atensinya. Ia mencari benda pipih yang ia tinggal semalam, yang ternyata terselip dibawah bantal. Melihat siapa yang menghubungi, segera ia mengangkatnya.


"Hallo, Ga! Kamu dimana?" Suara sang mama dari sebrang telepon terdengar begitu khawatir.


"Aku ... Aku di kamar, Ma. Kenapa?" tanya Arga ikut khawatir. Jantungnya tiba-tiba berdegup tak beraturan.


"Chimut ... Chimut ..." isak Mama Jingga tidak mampu melanjutkan kalimatnya.


Tanpa menunggu lagi kalimat sang mama. Arga menjatuhkan ponselnya begitu saja. Segera ia berlari untuk kembali ke ballroom, tempat pesta berlangsung. Perasaan pria itu tak menentu, bayangan-bayangan negatif mengenai sang istri berputar-putar dikepala. Meski ia tidak tau apa yang terjadi, namun ia yakin sesuatu yang buruk tengah menimpa istrinya kini.


"Apa yang terjadi padamu, Cher? Please, jangan buat aku khawatir!" Arga terus bergumam didalam lift.


Bahkan, rasanya kotak besi itu berjalan begitu lambat. "Ahh, sialan! Kenapa lama banget sih?" kesal Arga berulang kali memijit tombol yang dituju.


Pria itu tiba dilantai menuju ballroom. Gegas ia berlari hendak masuk, namun seorang pelayan menghentikan langkahnya. "Mas Arga?" tanyanya.


"Iya!" balas Arga bingung.


"Mas Arga ditunggu dilobi oleh ibu Jingga," lanjut pelayan pria itu.


Tanpa menjawab, Arga kembali memasuki lift untuk sampai dilobi. Tak membutuhkan waktu lama, ia pun sampai. Nampak mama Jingga telah menunggunya.


"Ada apa, Ma? Dimana Cheryl?" cecar Arga khawatir.


Mama Jinga enggan menjawab, ia meraih tangan sang putra dan mengajaknya keluar dari gedung bertingkat tersebut. Atensi Arga langsung tertuju pada kerumunan orang ditepi jalan.


Deg!


"Cheryl?!" pekiknya keras.


Arga melepaskan tangan sang mama dan segera berlari untuk melihat keadaan sang istri. 'Nggak Cher, kamu gak boleh kenapa-kenapa!' batinnya berharap.


Air matanya jatuh, saat ia memikirkan hal buruk yang mungkin terjadi pada sang istri yang sekarang udah memenuhi hati dan hidupnya. 'Bertahanlah Cher! Aku mencintaimu, aku mencintaimu ...'


Pria itu menyerobot masuk diantara kerumunan orang-orang. Terlihat tangan seseorang tergeletak berlumur darah. Tangan itu sudah dipastikan tangan seorang wanita. Perasaan Arga semakin tak menentu, ia bisa menebak siapa yang tergeletak disana.


"Wah kayaknya itu korban tabrak lari," bisik seseorang yang berada disamping Arga.


"Kasihan ya, keadaannya sangat parah," balas yang lain.


"Mana cantik sekali. Saya gak yakin dia selamat!"


Grasak grusuk dari orang-orang disana menguatkan Arga, jika benar orang yang dimaksud adalah sang istri. Dan apa mereka bilang, parah?


"Cheryl," cicitnya.


Gegas ia semakin masuk lebih dalam. Tidak memedulikan orang-orang yang mengumpat kesal padanya. Tanpa melihat wajahnya, segera ia menjatuhkan diri dan meraih tubuh berlumur darah itu. Lalu, memeluknya erat.


"Apa yang terjadi padamu, Cher? Bangun!" Pecah sudah tangis Arga. Rasa sesak didada pria itu tidak dapat tertahan lagi. Melihat keadaan orang dipelukannya, membuat pria itu menumpahkan air matanya.


Bayangan ketika mereka bertengkar, bercanda, menangis, dan tertawa bersama Cheryl, terputar jelas begitu saja dimemori kepala Arga. Hal yang membuat Arga sadar, jika ia begitu takut kehilangan gadis itu.


"Argghhh!!!" erangnya frustasi.


Ditengah keriuhan itu, ambulan yang sempat mereka hubungi pun datang. Orang-orang memberi jalan untuk kedua petugas yang sudah membawa brankar.


"Maaf, Mas. Ambulannya sudah datang," peringat seseorang. Namun, tidak ada tanggapan dari Arga yang masih terisak lirih.


"Mas, sebaiknya kita segera bawa pasien untuk segera ditangani," pinta petugas. Arga masih saja terdiam, hingga suara seseorang berhasil mengalihkan atensinya.


"Sampai kapan kamu mau peluk dia?"


'Suara itu?' batin Arga.


Seketika pria itu mendongak ke arah sumber suara. Arga membelakak kaget melihat siapa yang barusan bertanya padanya.


"Seneng banget peluk-peluk cewek lain?" kesalnya melipat tangan didada.


"Che-Cheryl?" tanyanya kage, ternyata sang istrilah yang bertanya. Jika, Cheryl duduk disampingnya. Lalu, siapa yang ia peluk?


Segera Arga melepaskan pelukannya. Seorang wanita dengan wajah berlumur darah, yang entah siapa yang ternyata ia tangisi. "I-ini?"


"Mari, Mas. Bantu saya naikan keatas brankar!" pinta petugas Rumah Sakit.


"Ah, i-iya!" balas Arga bingung. Meski begitu, ia pun berdiri dan memangku wanita itu ke atas brankar.


Lalu, Arga segera mendekat pada sang istri yang terduduk diatas aspal. Tanpa kata, Arga segera mendekap tubuh gadis itu. Air matanya kembali luruh, antara takut dan bahagia memyelimuti hatinya. Ia kecup pucuk kepala gadis itu bertubi-tubi. Kemudian, ia melepaskan dekapan itu dan beralih menangkup wajahnya. Memastikan betul wajah cantik itu.


"Apa kamu baik-baik aja? Apa ada yang terluka?" tanyanya khawatir.


Cheryl tersenyum tipis. Meski sedikit kesal karena suaminya itu memeluk wanita lain, namun ia juga senang karena Arga begitu mengkhawatirkan dirinya.


"Kakiku sakit," ucapnya dengan wajah masam menunjuk kaki dengan dagunya.


Tanpa berkata lagi, Arga segera menggendong sang istri memasuki ambulan yang sama dengan wanita tadi. Arga sempat bicara pada sang Mama yang ikut mendekati ambulan, menyuruh keluarganya untuk nanti menyusul. Sampai akhirnya mobil pun melesat meninggalkan jalan tersebut.


Sekali lagi Arga memeluk tubuh Cheryl. Ia benar-benar takut kehilangan gadisnya itu. "Maafin aku, aku bener-bener kalut. Melihat banyak darah, aku gak menyadari kalo itu bukan dirimu," sesal Arga.


"Seandainya wanita ini juga menghindar, mungkin dia juga akan baik-baik saja," lirih Cheryl menatap sendu wanita yang kini terbaring lemah diatas brankar dengan oksigen yang terpasang dihidungnya.


Arga melepas dekapan menatap sang istri. Lalu, ia pun mengikuti arah tatapan Cheryl yang tertuju pada wanita itu. "Siapa dia? Dan, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Arga.


Cheryl beralih menatap pada Arga. "Harusnya aku yang nanya, kenapa kamu nyuruh aku ke tepi pantai?" tanyanya sedikit kesal.


Sontak Arga mengerutkan dahi bingung. "Ke pantai, kapan?" tanya Arga.


Cheryl pun menceritakan pasal chat yang dikirim dari nomor suaminya itu. Hingga ia hampir saja kehilangan nyawa oleh mobil yang tiba-tiba melesat dengan kecepatan tinggi.


Flash back on~


Cheryl terkejut saat body mobil hampir saja menyentuh tubuhnya. Ia berusaha berlari kesebrang. Namun sayang, dress panjang yang ia kenakan terlindas ban mobil dan akhirnya robek, hingga membuat Cheryl hilang kendali dan tersungkur dipinggir jalan dengan kaki membentur keras trotoar.


Ia meringis menahan kakinya yang terluka. Namun, suara dentuman keras membuat ia semakin terkejut. Tubuh seorang wanita melayang, tertabrak mobil tersebut hingga terpental ke arahnya. Hingga Cheryl pun benar-benar dibuat shok karenanya.


"Aaaa!!!"


Flash back off~


\*\*\*\*\*\*