
Bukan Cheryl tapi Arga yang mematung mendengar penuturan Tania. Tentu ia mengingat kembali permintaan Tania yang mengajukan dua pilihan padanya. Dan keputusan wanita itu yang mengurungkan niatnya bunuh diri, pasti meminta ia untuk menikahinya.
"Iya 'kan, Ga? Karena kamu gak biarin aku bunuh diri, itu berarti kamu akan menikahiku?" tanya Tania tersenyum puas.
Arga terdiam tak dapat menjawab. Ia bingung apa yang harus ia lakukan sekarang. Pilihan dirinya begitu sulit, ia seolah terhimpit keadaan. Sementara Cheryl tersenyum dengan ekspresi lucu.
"Kayaknya lu harus dibawa ke rumah sakit deh? Paling nggak, bawa ke tempat pak Kyai Subuh, gitu! Gue takut otak lu keguncang, jiwa lu gak waras," celetuk Cheryl dengan nada ledekan.
"Apa lu bilang?" tantang Tania tak terima menunjuk wajah Cheryl, ia kembali menyorobot seolah akan menyerang gadis itu. Namun, bukan Cheryl namanya jika ia takut dengan gertakan itu. Ia mengadahkan wajah, seolah membalas menantang Tania yang memang lebih tinggi darinya.
Suasana pun mulai menegang. Mata kedua wanita itu bersitubruk mengisyaratkan perang batin yang tidak diketahui semua orang. Arga memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. Tidak mengira ia akan berada di situasi seperti itu.
"Sudahlah! Kita bicarakan ini baik-baik, dengan tenang. Disini panas, kepalaku makin pusing." lerai Arga menengahi.
"Baiklah! Kita bicarakan ini dirumah," balas Cheryl memutuskan tatapan mereka terlebih dahulu.
Sontak saja pendapat itu tidak disetujui Tania. Tentu ia belum siap bertemu dengan kedua orang tua Arga maupun Cheryl. "Buat apa?" selanya.
Cheryl yang sudah berbalik, kembali menoleh. "Lu sendiri 'kan yang kekeh, dengan gak tau malu meminta Arga buat nikahin lu," jelas Cheryl kesal.
Tania terdiam sejenak, hingga ia pun kembali mengalihkan perhatian. "Gak usah pake alasan kerumah segala. Toh, Arga tetap akan nikahin gue. Ya 'kan, Ga?" tanyanya dengan percaya diri. Ia kembali merangkul lengan Arga.
Cheryl yang sudah muak, segera menyerobot ke tengah. Memutus pegangan Tania terhadap suaminya, membuat Tania mendesis dan mendelik kesal.
"Sebaiknya, lu bawa temen lu ini ke tukang urut, gih!" titah Cheryl pada Dinda yang tidak mengerti sama sekali ucapan gadis itu.
"Tukang urut, ngapain?" tanya Dinda heran, mewakili tiga orang disana.
"Gue rasa urat malu dia bermasalah atau mungkin udah putus," celetuk Cheryl.
Sontak saja ucapan Cheryl membuat Dinda melipat bibir. Namun, tidak dengan Tania yang semakin kesal. "Lu ya?" tunjuknya pada wajah Cheryl.
Arga tidak mampu berkata-akta lagi, kepalanya benar-benar berdenyut melihta pertikaian kedua wanita itu.
"Apa?" tantang Cheryl. "Udahlah gue udah cape sama drama lu ini, laper juga gue belum sarapan. Kalo lu mau bunuh diri, bunuh diri aja! Lagian kalo lu mati, justru bagus. Lu memberi kesempatan buat gue dan Arga bahagia," lanjutnya mengakhiri drama itu.
"Ayo!" ajak Cheryl menyeret tangan Arga.
"Bentar dulu, Cher!" tahan Arga.
Seketika Tania tersenyum tipis. Ia yakin, Arga masih mencintainya dan pasti akan menikahinya. Kemudian, ia pun segera merubah wajah memelasnya.
Cheryl melepaskan lengan Arga, saat pria itu memberi kode agar ia mengerti. Meski dengan perasaan dongkol, Cheryl memberikan ruang pada Arga untuk bicara dengan Tania.
Arga beralih memegang kedua tangan Tania, Cheryl pun mendelik kesal melihat adegan tersebut. Namun, gadis itu mencoba untuk menahan emosinya. Berulang kali Arga menghela dan membuang napasnya untuk memulai pembicaraannya.
"Tania ... Aku tau, kamu kecewa dan marah padaku. Semua yang terjadi benar-benar diluar kehendakku. Kamu pantas membenciku dan gak ada alasan kamu memaafkan aku," ungkap Arga serius.
"Terlepas dari apa yang pernah kita lalui, biarkan itu menjadi kenangan terindah kita. Aku tau, ini gak mudah untukmu. Bahkan begitu pula untukku."
"Tapi, semua sudah terjadi. Aku gak bisa nikahin kamu juga," lanjut Arga.
Deg!
Jatuh sudah air mata Tania. Ia yang sudah percaya diri, seketika membeku mendengar ungkapan Arga.
"Aku memang mencintaimu. Tapi, aku gak bisa terus bersamamu. Jadi ...."
Plaakkkk!!!
Satu tamparan keras menjeda ucapan Arga. Pria itu terpejam merasakan kebas dipipi kirinya. "Semudah itu? Semudah itu, Arga!" ucap Tania dengan air mata yang bercucuran.
Cheryl dan Dinda terkejut membekap mulut mereka yang menganga, tak menyangka Tania dapat melakukn itu.
Greepp!!!
Plaaakkk!!!
Cheryl menangkap tangan Tania, lalu menamparnya dengan amarah yang membuncak. Satu persatu kata yang diucapkan Tania pada Arga, begitu menusuk dihatinya.
"Siapa lu, berani membentak suami gue?" tanya Cheryl tenang, namun penuh penekanan.
"Lu gak ada hak buat menghakimi suami gue! Kalo lu tanya salah lu dimana?"
"Lu MIKIR!!!" tegas Cheryl.
Arga yang merasa bersalah terdiam, saat Tania memakinya. Namun mendengar bentakan Cheryl tentu ia shok, tiba-tiba saja sang gadis seperti itu. "Cher!" ucapnya ingin menenangkan. Namun, tangan Cheryl terangkat berharap ia diam.
Tania terengah-engah setelah meluapkan semua amarah dan merasakan kebas atas tamaparan Cheryl. Wanita itu hanya memicing ke arah Cheryl dengan bola mata memerah.
"Lu harusnya ngaca! Kenapa lu bisa dibuang begitu saja? Kalo lu tanya pengkhaianatan? Lu harusnya lebih tau, siapa disini yang terkhianati?" teriak Cheryl.
Sontak saja Arga bingung dengan ucapan Cheryl. Begitupun Tania, ia merasa menyadari sesuatu. Ucapan Cheryl seolah tengah menyinggungnya. Mungkinkah Cheryl? Sektika wajah Tania terlihat tegang menatap Cheryl.
"Kenapa? Apa ucapan gue kurang jelas? Apa perlu gue beberin semuanya?" tanya Cheryl.
"Tunggu! Cher, maksudnya? Apa maksud semuanya?" sela Arga.
Tania sedikit gelagapan. Ia memutar otak untuk lari dari situasi itu. Ia berusaha tenang untuk terlihat santai. "Apa?" tantangnya. Ia medekat kearah Cheryl dengan tatapan tajam.
"Lu denger baik-baik, gue gak akan pernah membiarkan hidup lu bahagia! Ngerti," peringat Tania menunjuk bahu Cheryl. Lalu, pergi begitu saja disusul Dinda dibelakangnya.
"Tan, Tan, Tania!" cegat Arga namun segera ditepis wanita itu.
"Ini maksudnya apa? Sebenarnya apa yang mau kamu beberin?" tanya Arga curiga.
Cheryl berusaha bersikap biasa saja. Ia rasa ini bukan waktu yang tepat untuk mengubgkapkan itu. "Apa?" tanyanya lugu.
Arga menghela napas yang disertai decakan kesal. "Ayolah, Cher! Maksudmu apa tadi?" tanyanya dengan pelan.
"Apa? Yang mana?" tanya Cheryl pura-pura boodoh.
"Yang tadi?" tanya Arga mendesak. Cheryl terlihat berpikir keras.
"Ya ampun, Cher yang tadi. Masa kamu lupa?" tanya Arga yang mulai kesal.
"Yang mana sih? Lupa! Udahlah ayo pergi, aku laper mau makan!" final Cheryl menyeret lengan Arga.
"Ayolah Cher, yang tadi?" Arga terus meminta penjelasan. Sedangkan, Cheryl bersikukuh pura-pura lupa. Sejoli itu terus beradu argumen sampai mereka memasuki mobil yang terparkir sedikit jauh dari sana.
**
"Aaaa!!!!"
Pranggg!!!
Semua barang dari atas meja rias tersapu bersih keatas lantai. Tania masih belum bisa meredam emosinya, setelah diantar pulang oleh Dinda beberapa menit yang lalu.
"Cheryl sialan!!!!"
"Gue bersumpah, gue akan balas lu cewek sialan!"
\*\*\*\*\*\*