My Enemy, My Husband

My Enemy, My Husband
Satu kosong



"Satu kosong,"


Arga tertawa puas tanpa suara didalam kamar mandi. Sungguh ia begitu bahagia dapat mengerjai gadis menyebalkan itu. Melihat ketegangan diwajah Cheryl, membuat kesenangan sendiri untuknya.


"Mampus, emang enak gue kerjain!" ejeknya disela tawa. "Seenak jidat ngatain mesum, lha dia sendiri malah menikamati," lanjutnya. Ia tak henti cekikikan mengingat kepasrahan gadis itu.


Setelah merasa puas, atensinya baru beralih pada tubuh bagian tengahnya yang masih stay berdiri, tanpa mau kembali terlelap.


"Ck! Aisshh ... Masa gue harus nenangin lu?" tanyanya kesal. Tindakannya terhadap Cheryl tentu membuat jiwa kelelakiannya bangkit. Hingga ia harus menenangkan benda keramatnya yang berdiri tegak.


"Huhh~ demi ngerjain si Chemot, gue rela mandi malam," pasrahnya berlalu menuju shower untuk mengguyur tubuhnya. Karena hanya dengan cara itu, gairahnya akan teredam.


Padahal ia sekarang memiliki seseorang yang halal untuk menyalurkan kebutuhan batinnya itu. Namun, tentu saja itu tidak akan ia lakukan. Mengingat siapa yang ia halalakan mustahil untuk ia sentuh. Akhirnya berkarir solo dan air dinginlah jalan ninjanya.


Sementara itu didalam kamar. Cheryl masih kesal dengan kelakuan pria itu. Setelah lama tenggorokanmya tercekat, kini ia sudah kembali dapat menggerutu.


"Dasar mesum! Gak punya hati. Seenak jidat ngerjain gue. Awas aja, gue balas nanti lu, hisss!!"


Sementara bibir ranum itu tak henti menggerutu. Tangannya memulai membongkar kopernya. Dahinya mengerenyit heran melihat barang-barang baru yang ada didalam sana. Bahkan ia tak menemukan barangnya yang ia masukan.


"Piyama gue mana?" tanyanya heran. Penasarn dengan apa yang menjadi pakaiannya. Ia pun mengangkat sehelai kain itu.


"Apaan ini?" tanyanya. Lalu, melebarkan kain tipis. "Ini?" Cheryl shok bukan main. Ternyata piyamanya sudah diganti dengan kain-kain tipis yang orang-orang sebut lingerie si gaun malam.


"Mama!!!" teriaknya kesal.


**


Dua wanita berbeda generasi tergelak, hingga menggema diruang keluarga. Kedua pria disana hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan istri-istri mereka.


"Ya ampun, Ma! Aku gak kebayang gimana penampilan chimut pasti cantik dan sexy ya?" mama Chika tak henti membayangkan apa yang sudah dilakukannya bersama sang ibu mertua.


"Iyalah. Cucu Mama pasti cantik. Mama jamin Arga pasti kelepek-kelepek dan gak akan bisa menolak pesona chimut," balas oma Rila.


"Iya, Ma! Terus bentar lagi, aku bakal punya cucu," papar mama Chika girang.


"Dan Mama bakal punya cicit," sambung oma Rila hingga kedua wanita itu kembali tergelak.


"Huh~ kalian ini. Emang paling bisa," papa Deril hanuya geleng-geleng kepala. Tak habis pikir ternyata sang istri bisa satu frekuensi dengan mamanya.


"Ck! Apaan sih, Pa. Papa bakal sehat-sehat aja. Jangan mikir yang macam-macam!" kesal papa Deril. Berulang kali Papanya itu selalu mengeluh karena penyakitnya. Dan hal itu selalu membuat semua anggota keluarganya merasa khawatir.


Seketika kedua wanita itu berhenti tertawa. Oma Rila berpindah mendekat kesamping suaminya itu. Lalu mengusap punggung tangan sang suami yang masih tegap, namun lemah akan penyakit itu.


"Benar kata Deril. Kamu jangan lagi berpikir tentang kepergian. Kita semua bakal pergi, karena semua sudah ditakdirkan," ucapnya. "Tapi sekarang yang harus kamu pikirkan, bagaimana anak cucu kita bahagia, hem?" lanjutnya.


Opa Devan tersenyum dan merangkul bahu sang istri. Wanita lemot yang mendadakan bijak. Wanita ceria yang selalu membuatnya semangat. Satu-satunya wanita yang mengisi hati dan hidupnya.


Mama Chika tersenyum melihat keharmonisan kedua mertuanya. Hingga tangan merangkul membuat ia melebarkan senyum dan memeluk tubuh suami disampingnya.


**


Kembali ke hotel ...


Cheryl membongkar semua isi kopernya. Tak ada satu pun barang bawaannya yang nyangkut disana. Semua pakaian sudah disulap oleh seseorang yang ia yakini pastilah mamamya yang menjadi pelaku.


Ia mondar-mandir, bingung harus mengenakan apa? Bahkan hanya kaos oblong pun tak ada disana. Apa iya, dia harus mengenakan dress untuk tidur? Pikirnya. Lalu, atensinya teralihkan pada koper Arga.


"Apa gue minjem kaos dia aja ya?" Pikirnya menimang.


"Issh tapi 'kan? Masa iya gue pake barang dia? Gengsi dong!" Lama gadis itu berpikir.


"Tapi, gue gak mungkin terus pake bathrob. Apalagi harus pake kain tipis itu," Cheryl bergidik membayangkan ia mengenakan lingeri dan gak akan lepas dari cengkraman Arga.


"Huh~ baiklah, aku pinjam kaos dia aja. Dari pada bahaya. Mau cari juga udah malam, besok baru gue beli," pasrah Cheryl yang akhrirnya mengambil satu kaos hitam dari koper Arga. Untung saja ada hotpans yang nyelip bersama dal*mannya yang tidak kena bongkar oleh sang mama.


"Nah, ini lebih baik," ucap Cheryl melihat dirinya didepan cermin besar. Meski kaos itu tampak kebesaran, namun itu lebih baik.


Kebetulan Arga sudah menemukan remot lampu hingga ruangan itu sudah terang. Bahkan lilin-lilin dan kelopak bunga yang sempat bertaburan itu, sudah Arga singkirkan saat gadis itu berendam tadi. Hingga ruangan tersebut sudah bersih kembali.


Cheryl membereskan kembali barang-barang kedalam kopernya. Jika sampai Arga tau, bahaya. Ia bisa saja jadi bahan bual-bulan pria itu.


"Dah beres. Sebaiknya gue cepat tidur, sebelum dia balik dan sadar," Ia segera naik ke atas kasur dan membalut seluruh tubuhnya dengan selimut.


\*\*\*\*\*\*


Jangan lupa jejaknya yaa gaisss😘😘