My Enemy, My Husband

My Enemy, My Husband
Menghilang



Hari ini adalah hari paling sial untuk Arga. Sudahlah mobilnya mogok, sang istri yang ngambek, naik angkot sampai mabok, diomelin kenek, dan terakhir ia diperas oleh seorang gadis. Oh sungguh, Arga tidak pernah membayangkan hidupnya sesial ini. Hingga sampai jam kelas berakhir, kesialan masih menghinggapi hidup Arga.


Pria itu tidak menemukan keberadaan sang istri sama sekali. Bahkan, saat ia mengunjungi kelas gadis kesayangannya, tidak ada gadis kesayangannya itu disana.


"Dia gak masuk kelas hari ini," jawab seroang gadis, teman sekelas Cheryl.


"Nggak masuk?" gumam Arga keheranan. Lalu, kemana perginya sang istri.


"Kalian berantem, ya?" selidik gadis itu.


"Kepo lu! Enggaklah siapa yang berantem?" kesal Arga pada gadis yang seperti penasaran akan kehidupan rumah tangganya.


"Ck! Biasa aja kali, gue 'kan cuma nanya," kesal balik gadis itu. Lalu, ia berlenggang pergi sembari menggerutu.


"Nggak berantem, tapi istri ngilang gak tau. Dasar aneh!"


Arga menganga mendengar gerutuan gadis itu. Ingin sekali ia menegur, namun rasanya tidak ada waktu untuk itu. Ia pun bergegas untuk menemui Reysa. Saat mengingat Cheryl pernah bilang ada janji dengan sahabatnya itu.


Jika saja, saat datang tadi ia tidak harus masuk, mungkin ia sudah bisa menemukan sang istri. Berhubung jam pelajarannya sudah dimulai, ia pun terpaksa harus masuk kelas terlebih dahulu. Namun, siapa sangka ia bakal kehilangan jejak gadis itu.


"Enggak! Gue gak ada janji tuh sama Cheryl," balas Reysa, saat Arga menanyakan keberadaan istrinya.


"Ck! Tuh anak kemana sih? Kok, perasaan gue gak enak ya," Arga terlihat mulai gusar mendapat jawaban tidak diinginkan dari Reysa.


"Bentar! Kalian gak berantem 'kan?" Seperti gadis tadi, Reysa pun sama menyelidik.


"Ck! Kenapa gue harus berantem sama istri gue?" Lagi-lagi Arga merasa kesal ditanya seperti itu.


"Je elah, gue cuma nanya kali, Ga!" balas Reysa ikut kesal. "Ya udah sii, lu telepon aja susah bener?"


"Nah itu masalahnya, ponsel gue sama dia. Bahkan, dompet gue nyangkut juga di tas dia," balas Arga frustasi.


Reysa terkekeh melihat wajah kusut pria itu. Segitu bucinkah seorang Arga pada Cheryl? Sampai barang-barang penting miliknya pun, semua dititip sang istri. Ampun dah!


"Ya udah, lu tenang dulu! Gue coba hubungi dia," titah Reysa menenangkan dan hanya dibalas anggukan pria itu.


Reysa pun mencoba menghubungi sahabatnya itu dengan aplikasi hijau. Namun, hanya kata "Memanggil" yang menandakan nomor tersebut tidak aktif. Sekali lagi, Reysa mencoba memanggil dengan panggilan biasa. Namun, hanya suara wanita yang tak lain adalah suara sang operator dari sebrang telepon.


"Gak aktif!"


"Coba ke nomor gue!" titah Arga kian gelisah.


Reysa pun menurut, ia mencari nomor Arga dan mencoba menghubunginya. Namun, ternyata hasilnya sama saja, nihil.


"Gak beres nih!" Arga bergegas pergi untuk mencari istrinya. Hingga suara Reysa pun tidak ia dengar sama sekali.


"Ya ampun, tuh anak kelakuannya. Gue jamin si Arga pasti murka itu," Reysa menggelengkan kepala melihat kelakuan sahabatnya itu.


Arga benar-benar kalut. Sepanjang koridor, ia menanyai setiap orang yang ia temui untuk di mintai keterangan mengenai siapa yang melihat Cheryl hari ini. Namun, fix gadis itu tidak masuk. Tidak ada sama sekali dari mereka yang melihat gadis itu.


"Ya Tuhan, Cher kamu dimana?" tanyanya frustasi didepan gerbang, mencoba mencari kendaraan yang mungkin melintas sebagai tumpangan. Untung saja, uang dari Naya ditolak gadis itu untuk dikembalikan. Coba saja jika tidak? Ia akan kesulitan untuk pulang.


Arga berjalan mencoba mencari kendaraan, hingga setelah berjalan beberapa meter, ia menemukan sebuah pangkalan ojeg. Akhirnya ia bisa bernapas lega. Segera ia meminta kang ojeg untuk mengantarnya pulang.


'Smoga kamu ada dirumah, Cher!' harapnya sambil mengenakan helm dikepala.


Tak membutuhkan waktu lama, motor pun sampai didepan rumahnya. Terlihat gerbang rumah masih tertutup rapi. Arga bergegas membuka pintu gerbang yang tidak dikunci, setelah membayar kang ojeg terlebih dahulu.


"Cinta, kamu dimana?" Arga terus mencari ke berbagai sudut ruangan, namun hasilnya sama. Gadis itu sama sekali tidak nampak batang hidungnya.


"Ya ampun Cher, kamu dimana sih?" tanya Arga bertolak pinggang di dapur, tempat terakhir ia mencari istrinya itu. Terlihat pria itu begitu ngos-ngosan mengatur napasnya.


Ia mengambil air putih terlebih dahulu untuk menyegarkan tenggorokannya. Lalu, ia teringat tempat yang harus ia kunjungi. Gegas lagi pria itu berlalu untuk mencari. Tujuannya adalah rumah sang mama dan mama mertua disebrang rumahnya sendiri.


"Ma! Mama!" teriak sang Arga, namun sama seperti rumahnya, rumah itu pun sama sepinya.


Setelah dirasa tidak ada sang mama disana, ia pun bergegas mencari ke rumah sebelah, tepatnya ke rumah sang mama mertua. Namun rumah itu tetap sama.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa semua orang menghilang?" teriak Arga frustasi. Ia pun teringat untuk menghubungi salah satu dari sang mama menggunakan telepon rumah mama Chika.


"Hallo, Ma!"


"Ya ampun, Ga! Kamu kemana aja?" tanya mama Chika yang seolah terdengar sebuah dumelan.


"Arga yang harusnya nanya. Kalian semua kemana?" tanya balik Arga. Tanpa sadar, ia membentak mama mertuanya itu.


"Kok kamu bentak Mama, sih?" kesal mama Chika tak terima.


"Ma-maaf, Ma! Aku gak-"


"Udah itu gak penting. Sekarang kamu buruan ke rumah sakit!" sela mama Chika.


"Rumah sakit? Siapa yang sakit?" tanya Arga shok. Tiba-tiba saja jantungnya berdegup tak karuan, mungkinkah terjadi sesuatu pada sang istri?


"Cheryl-"


"Apa?" pekik Arga kian shok. "Oke, Arga kesana sekarang!"


Tanpa mendengar penjelasan sang mama, Arga bergegas pergi dari rumah mertuanya itu dan kembali ke rumah. Hanya ada satu kendaraan yang bisa ia gunakan, motor kesayangan sang istri yang sudah lama menjadi penghuni garasi. Segera, ia mencari kunci motor itu, sebelum akhirnya melesat meninggalkan rumah.


Ia bahkan tidak peduli akan helm bergambar karakter anak berwarna biru yang dikenakan kini. Pikirannya hanya terfokus akan keadaan sang istri yang membuat ia kian frustasi. Bayangan akan hal negatif menguasi otak dan hatinya. Ia merutuki diri sendiri yang tidak bisa menjaga istrinya tersebut.


"Maafin aku Cher, maafin aku! Aku gak akan pernah memaafka diriku sendiri, jika sesuatu terjadi padamu." gumam Arga sepanjang jalan.


Kendaraan dua roda itu sampai juga dirumah sakit. Sekeras apapun ia mengebut, nyatanya itu bukan motor sport milik sang papa ataupun milik sang mama yang tidak ada tandingannya.


"Maaf, suster! Pasien atas nama Cheryl Maylaffayza, diruangan mana?" tanya Arga tergesa.


Kedua suster yang ada di depan meja resepsionis hanya tersenyum lucu melihat pria tampan dihadapan mereka. Hingga teguran Arga mengalihkan mereka.


"Oh maaf, Mas. Anda lurus saja dari lorong sebelah sana, nanti ada ruangan dengan tag Dokter Rika!" tunjuk suster tersebut.


Tanpa menjawab atau sekedar mengucapkan terima kasih, tidak sempat diucapkan pria itu. Ia segera berlalu mencari ruangan yang di arahakn suster tersebut.


Tak membutuhkan waktu lama ia mendapati ruangan yang dimaksud. Sudah terlanjur kalut, tanpa mengetuk atau permisi terlebih dahulu. Arga menerobos begitu saja ke dalam ruangan itu.


Ceklek!


"Cinta!!!"


Deg!


\*\*\*\*\*\*