My Enemy, My Husband

My Enemy, My Husband
Rencana resepsi



Hening!


Keadaan kembali terasa canggung diantara sepasang suami istri yang baru saja pertama kali mencari pahala itu. Cheryl yang merebahkan kepala didada sang suami, mendongak pelan dan ternyata saat itu juga Arga menunduk melihat padanya.


Dengan cepat, Cheryl kembali menunduakn pandangannya. Terasa panas menjalari wajah, ketika bayangan beberapa menit lalu terngiang-ngiang dikepala. Begitupun Arga, pria itu mengalihkan pandangan ke sembaramg arah. Tidak mengira ia bisa melakukan itu dengan gadis yang selama ini ia klam musuhnya tersebut.


"Ehemm!!" Arga berdehem untuk mencairkan suasana.


"Apa ... Masih sakit?" tanya Arga sedikit ragu.


"Hem?" Cheryl mendongak mendapat pertanyaan itu. Gadis itu menatap netra Arga yang telihat khawatir. Hingga tiba-tiba ia merasa malu dan gelagapan dibuatnya.


"Ah, itu ... Ng-nggak! Eh, sedikit!"


Arga tersenyum merasa lucu, ia mengeratkan rangkulan pada tubuh dalam dekapannya itu, lalu mengecup kembali pucuk kepalanya. Dan hal itu membuat Cheryl menatap polos pada Arga.


"Maaf ya, kalo membuatmu sakit!" sesalnya. "Mulai sekarang, gak ada yang harus kita tutup-tutupi lagi satu sama lain. Apapun atau bagaimanapun perasaanmu, katakan aja! Hem?"


Cheryl tersenyum seraya mengangguk yakin dan dibalas kecupan hangat dipucuk kepalanya dari Arga. "Mau mandi bersama?" tawarnya.


"Emm, boleh!" balas Cheryl. Arga tersenyum dan hendak bangkit, namun tangan Cheryl menghentikan pergerakannya.


"Tapi, Ga ..." Gadis itu terlihat ragu untuk bicara.


Arga menaikan sebelah alisnya dan bertanya, "apa?"


"Emm, gendong!" pinta Cheryl manja. "Gak bisa jalan," rengeknya. Tentu rasa kebas di pusat intinya itu membuat ia berpikir tidak akan mampu untuk sekedar menggerakan tubuhnya.


Arga terkekeh seraya mengusek pucuk kepala gadis itu. "Dengan senang hati, my wife," ucapnya.


Pria itu segera berdiri dengan keadaan yang masih polos tanpa sehelai benang pun. Sontak saja Cheryl memalingkan wajahnya.


"Isshh pake dulu bajunya!" protes Cheryl memerintah.


"Lha kenapa?" tanya Arga heran.


"Itu, itunya!" tunjuk Cheryl.


Arga menurunkan pandangan menatap tubuhnya sendiri. Kedua sudut bibirnya terangkat setelah tau apa maksud dari gadis itu. Senjatanya yang sudah menciut nampak gondal gandul menggemaskan. Namun, entah kenapa tidak ada rasa risih atau pun malu meski Cheryl melihatnya.


"Udah gak apa-apa, ayo!" ajaknya. Tanpa menunggu jawaban Cheryl, Arga sudah menggendong istrinya itu.


Cheryl sedikit memekik, dan memukul dada Arga dengan semburat merah dipipinya. Hingga Arga tergelak melihat ekspresi menggemaskan itu. Keduanya terus bercanda seraya berlalu menuju kamar mandi dengan tubuh sama-sama polos.


**


Sementara itu, para orang tua tengah mempersiapkan rencana untuk acara resepsi pernikahan Arga dan Cheryl. Kedua keluarga sudah sepakat akan menggelar resepsi dalam dua minggu yang akan datang. Hari dimana libur semester pertama dimulai sekaligus libur tahun baru juga.


Sengaja mereka merencanakan itu agar semua keluarga bisa hadir dan berkumpul, sekaligus liburan bersama. Rencananya pesta akan digelar disebuah hotel dipulau Dewata. Tamu undangan yang merupakan kolega bisnis papa Shaka dan papa Deril, memang bukanlah orang-orang biasa. Mereka adalah pemilik kerajaan-kerajaan bisnis di Negri ini.


"Baiklah, semua persiapan kita atur sekarang. Aku sama kak Jin, akan mulai dari fiting baju," usul mama Chika dan disetujui para orang tua disana.


Wanita itu menghembuskan napas berat. "Apa anak cucu Onty, bakalan pulang ya, Jin?" tanya oma Siska sendu.


"Mereka pasti pulang Onty, tenang aja," balas mama Jingga menenangkan.


"Bener, Ti. Karena itu kita sepakat untuk adain acara dihari libur. Agar kita bisa liburan bersama," balas mama Chika menggenggam tangan yang mulai keriput itu.


"Onty tenang aja. Kalo si Aka sama Kia gak mau pulang, aku bakal seret mereka," celetuk papa Shaka ikut menenangkan.


Terdengar hembusan napas panjang dari wanita itu. Ia berharap juga demikian. Diusia senjanya, ia sangat membutuhkan perhatian anak dan cucunya tersebut.


"Udah dari pada kamu sedih, lebih baik kita masak. Sebentar lagi makan siang, suami kita pasti bentar pulang," usul oma Ay.


Oma Siska setuju. Hingga para wanita itu berlalu menuju dapur. Ya, para kakek itu tengah mengunjungi empang ikan milik opa Devan, yang baru beberapa bulan ia beli. Pria tua itu sengaja, menyediakan tempat untuk mereka menghabiskan waktu saat libur dengan memancing. Meski sudah berumur, namun mereka masih aktif masuk ke kantor. Berbeda dengan opa Devan yang sering sakit-sakitan, ia sudah jarang masuk kantor atas larangan keras dari putranya, papa Deril.


"Oh iya, Chi. Kapan kita berjiarah ke makam Bundamu?" tanya oma Rilla.


"Emm, mungkin besok, Ma. Cheryl juga sudah lama tidak ikut, biar sekalian," balas mama Chika.


"Hah~ Gak kerasa ya, sudah tiga tahun mbak Rara pergi ninggalin kita," ucap oma Ay.


"Iya, Kak. Entah besok atau lusa, giliran kita ya!" balas oma Siska sendu.


"Semua yang lahir pasti kembali pada yang maha Kuasa. Seberapa keras pun kita menolak untuk tidak ingin mati. Nyatanya kita hidup memang untuk mati," jelas oma Agel dan diangguki mereka. Wanita itu memanglah selalu menjadi yang terbijak dari yang lain.


"Dan kematian, tidak diukur dari umur. Itu sudah menjadi takdir dan rahasia Tuhan. Manusia tidak akan pernah tau, mereka hanya mampu menebak," sambung Jingga.


"Iya, seperti bang Rendi dan Aysha," balas oma Ay, mengingat sepupu sekaligus besannya yang harus pergi terlebih dahulu, karena sebuah kecelakaan.


"Renata dan mamanya," sambung Jingga mengingat istri sahabatnya yang juga sudah pergi karena sebuah kecelakaan.


"Oh iya, gimana itu sama Iky? Apa dia gak ada niatan buat menikah lagi?" tanya oma Rilla penasaran. Pasalnya, mendiang Renata sudah pergi lima tahun yang lalu. Namun, pria dewasa itu tidak terlihat memiliki hubungan dengan wanita mana pun juga.


"Kayaknya enggak, Ma. Kak Iky ini type pria setia," balas mama Chika. Hanya hembusan napas panjang yang terdengar dari semua bibir disana, mengingat satu persatu keluarga mereka yang sudah kembali ke pangkuan-Nya.


**


Ditempat lain, tepatnya disebuah kamar. Reysa tengah memandangi potret mendiang sang mamih yang terdapat disebuah figura kecil.


"Mamih apa kabar?" tanyanya bermonolog sendiri. "Mamih tau, aku sering sekali ribut sama Rayna, tapi aku selalu mengalah kok. Aku pengen bukan sekedar jadi kakak aja. Tapi, aku bisa jadi mamih untuknya juga," lanjutnya.


"Aku kangen sama Mamih." Satu tetes bulir jatuh begitu saja dari ujung matanya.


"Isshh menyedihkan sekali ya, aku!" ucapnya tersenyum kecut seraya mengusap air matanya kasar.


"Tapi ... Aku lebih sedih lihat papih yang kesepian. Apa Mamih masih belum ngizinin buat Papih nikah lagi?"


"Aku harap, Mamih mau mengikhlaskan papih buat nikah lagi. Selagi calon istrinya baik, aku harap Mamih juga ikut bahagia disana."


\*\*\*\*\*\*