
Pagi menjelang, sinar mentari menyapa penghuni kamar yang masih terlelap. Arga bergeliyat, saat tiba-tiba lengan kanannya terasa begitu kebas. Tangan kirinya, kemudian meraba-raba sesuatu yang kini menimpa lengan kanannya.
Seketika mata pria itu terbuka lebar saat ia menyentuh benda kenyal dengan ujung jarinya. Ia menoleh dan betapa terkejutnya ia mendapati Cheryl masih terlelap. Diatas lengannya sebagai bantal.
'Kenapa dia bisa tidur dilengan gue?' tanyanya bermonolog dalam hati. 'Dan ini?' ia meraba ujung jarinya yang sempat menyentuh benda kenyal yang ternyata bibir gadis itu.
Arga terdiam, memperhatikan wajah tenang Cheryl yang masih dalam alunan mimpi. Wajah polos tanpa make up, namun terlihat begitu cantik.
Cantik? Arga menyunggingkan senyum kecil. Entah sejak kapan, rasa benci itu perlahan mulai menipis. Justru sekarang, banyak sekali rasa khawatir yang ia rasakan terhadap gadis itu. Bahkan, rasa aneh yang selalu tiba-tiba hadir saat berdekatan dengannya.
'Kalo diem kek gini dia emang cantik,' pujinya dalam hati. Tangan kirinya bergerak merapihkan anak rambut yang menjuntai dipipi gadis itu.
'Tapi entah kenapa, gue selalu pengen denger keberisikan lu,' lanjutnya masih dalam hati.
Arga menyentuh pipi lembut itu dengan punggung tangannya. Tiba-tiba perasaan aneh itu kembali hadir, membawa debaran dibagian dadanya. Mata pria itu terfokus pada benda kenyal yang sempat ia jamah tadi. Lalu, sesuatu dalam dirinya mendorong ia untuk meraup bibir ranum tersebut.
Belum sampai bibir itu bertemu dengan bibir sang gadis, Arga dibuat terkejut saat tiba-tiba saja kedua mata gadis itu terbuka lebar. Ia segera menjauhlan diri seraya menarik tangannya yang masih tertindih, menyebabkan sang gadis tersadar sempurna.
"Aaa!!!" gadis itu memekik. Entah apa yang terjadi ia tidak sadar sama sekali. Lalu, ia meraba pundaknya yang terasa kebas.
"Ya ampun pundak gue," keluhnya meringis.
Segera Arga bangkit dari posisinya. Jantungnya berdegup dua kali lebih ceapt dengan seluruh tubuh yang terasa terbakar. Entah kenapa ia bisa melakukan semua itu. 'Astaga apa yang gue lakuin?' batinnya bertanya-tanya.
"Buruan bangun, kita harus segera siap-siap!" titah Arga seraya bangkit tanpa menolehkan wajah pada gadis itu. Ia tidak ingin sang gadis melihat wajahnya yang memerah. Segera ia pun berjalan berlenggang menuju kamar mandi.
Cheryl yang melihat tingkah Arga mengerutkan dahi heran. "Kenapa dia?" tanyanya bermonolog sendiri. Tangannya tak henti memijit tengkuknya yang terasa kaku. Hingga ia, menghentikan pergerakan, setelah mengingat sesuatu.
"Tunggu dulu," Gadis itu mengingat kembali, ketika Arga sudah begitu dekat dengan wajahnya tadi. 'Apa yang dia lakuin?'
Cheryl gelagapan meraba-raba tubuhnya sendiri. Dari mulai wajah, turun ke dada hingga bagian terpenting pada dirinya. Aman, tidak ada yang aneh sama sekali. "Tapi, tadi gue melihat Arga dekat banget?" gumamnya bertanya-tanya.
"Hah~ kayaknya gue mimpi deh, gak mungkin juga Arga macam-macam," ucap Cheryl berpendapat.
Ia kembali meggerakan lehernya kanan kiri seraya meringis, "kayaknya nih bantal, harus gue buang. Ck ngeselin!" Cheryl memukul bantal yang sebenarnya tidak berdosa itu.
Gadis itu berpikir, jika bantal itulah penyebab sakit dilehernya kini. Padahal tertidur dilengan Arga semalaman tanpa merubah posisi, tentu saja membuat lehernya kram. Namun, tentu ia tak menyadari itu.
Disaat Cheryl masih bergulat menyalahkan sang bantal, terdengar suara dering panggilan dari ponsel Arga. Penasaran, gadis itu meraih benda itu dari atas nakas. Tertera nama "Tania" dari layar itu.
"Aiiishh, gue kira Arga beneran seromantis itu. Apaan nih, nama pacar aja gak ada manis-manisnya," kekeh gadis itu meledek.
"Angkat gak ya?" tanya Cheryl menimang-nimang. Hingga panggilan itu terputus sendiri. Namun, bebrepa detik kemudian, ponsel itu kembali berdering.
Cheryl kembali terdiam sejenak. Hingga ia pun tersenyum dengan ide licik yang muncul diotaknya. "Gue kerjain ah!"
Ia menggeser icon hijau tanpa menyapa. Terdengar suara wanita itu dari sebrang telepon. Namun, tak dihiraukan Cheryl. Ia pura-pura tidak tahu menahu ada panggilan masuk. Ia berdiri mendekat kearah kamar mandi.
"Iya, bawel lu!" balas Arga dari dalam kamar mandi.
"Buruan jangan lama-lama mandinya! Kebiasaan lu kalo mandi ngabisin sabun, gue udah gerah, badan gue udah lengket nih, buruan!" Teriak Cheryl lagi.
"Berisik! Lu bisa diem gak? Lama-lama gue seret juga lu buat mandi bareng sama gue," teriak Arga yang kesal dari dalam kamar mandi.
Cheryl tak mengira, Arga akan mengucapkan kalimat sarkas seperti itu. Ia membolakan mata dengan mulut terbuka lebar. Kemudian, ia menutup mulutnya itu untuk menahan tawa yang hampir saja pecah.
Entah bagaimana kabar si penelepon yang masih saja belum mengakhiri panggilannya itu. Merasa masih memiliki kesempatan. Cheryl semakin gencar memanasi wanita itu.
"Isshhh kebiasaan deh lu. Gak mau ah! Bukannya mandi, yang ada malah ...." Cheryl menggantungkan kalimatnya. Ia melirik ponsel itu yang ternyata sudah berakhir.
Pecah sudah tawa Cheryl. "Syukurin emang enak, berantem-berantem lu pada," ledek Cheryl pada benda pipih ditangannya. "Lagian udah waktunya juga kalian putus. Baik banget 'kan gue, udah buat jalan untuk kalian pisah," lanjutnya cekikikan.
Sementara Arga didalam sana merasa aneh dengan jawaban Cheryl. "Apa katanya, kebiasaan? Emang sejak kapan gue pernah ngajak dia mandi bareng?" tanyanya bermonolog sendiri.
"Dasar aneh!" Pria itu hanya menggelengkan kepala, tanpa ingin menimpali kembali. Hingga ia teringat sesuatu. "Mungkinkah?"
"Iya, gak salah lagi. Itu pasti para emak-emak masuk kamar. Haisss untung aja jawaban gue tepat. Tapi, astaga! Gue lupa pake gue, lu. Gimana ya?"
"Tapi, si Chemot juga jawabnya, gue lu. Ah, sudahlah biarin aja. Gue yakin tuh anak bisa tangani tuh emak-emak," final Arga. Ia pun tak mempedulikan itu dan kembali melanjutkan aktifitasnya.
**
"Aaaa!!!"
Prank!!!
Sebuah ponsel hancur pada bagian layar diatas lantai, setelah dibanting keras pada sebuah cermin rias. Seorang wanita dengan napas terengah-engah meluapkan emosinya yang membuncak hingga ubun-ubun.
"Apa-apaan ini? Siapa gadis itu?" tanya Tania, wanita yang tengah marah besar setelah mengakhiri panggilannya dengan sang kekasih.
"Gimana dia bisa?" lanjutnya enggan meneruskan kalimatnya. Hanya erangan frustasi yang keluar dari bibir wanita itu.
Lalu, tiba-tiba ia teringat sesuatu. 'Baju?' ingatannya kembali pada kejadian kemarin. Dimana ia melihat kemeja yang sama seperti yang dikenakan seorang gadis.
"Cheryl?" tebaknya. "Apa itu dia?" tanyanya tak mengira.
Lalu, ia menghubungkan beberapa kejadian. Seperti rumah mereka yang berdampingan, pulang pergi bersama, kemeja yang sama, panggilan Cheryl pada mama Arga, dan .... Tania membelakakkan mata ketika mengingat satu hal yang baru ia sadari.
"Jangan-jangan mereka liburan bersama?!"
\*\*\*\*\*\*
Jangan lupa jejaknya yaa gaiss😘