My Enemy, My Husband

My Enemy, My Husband
Mencari simpati publik



Malam sebelumnya ....


"Isshh Arga sialan!" kesal Tania, membanting ponsel dari genggamannya ke atas kasur.


"Setelah membela cewek sialan itu, berani sekali dia gak hubungi gue. Arggghh!!" kesalnya frustasi.


Padahal, sebelumnya ia sendiri yang mengabaikan panggilan Arga. Wanita itu pikir, dengan melakukan semua itu, ia masih menjaga image nya. Namun, justru ia mendapati tanda -tanda Arga sudah melupakannya.


"Jadi, lu pikir gue main-main. Oke gue akan buktiin, kalo gue akan menjadi nyonya Argantara," ucapnya menyeringai.


Pagi-pagi sekali, Tania mendatangi kediaman sang teman, Dinda. Lalu, menceritkan niatnya yang ingin mengakhiri hidup penuh dramatis.


"Whatss?? Lu gila!!!" pekik Dinda shok. Ia tak habis pikir dengan rencana temannya itu.


"Terus, gue harus gimana, Din? Gue sayang banget sama Arga. Gue gak bisa hidup tanpa dia," keluh Tania diiringi air mata yang membuat siapa saja iba. Dinda merangkul bahu Tania, untuk menenangkannya.


"Lu yang sabar, ya! Lu gak boleh gegabah. Jalan hidup lu masih panjang. Lu bisa dapatin yang lebih dari Arga," nasehat Dinda.


Berharap dapat dukungan untuk memperjuangkan cintanya, eh ia malah dapat ceramah untuk melupakan Arga. 'Ck! Sialan!' batinnya kesal.


Segera Tania melepaskan dekapan Dinda, dengan tangis kian menjadi. "Gue gak bisa, Din. Gue gak bisa! Gue lebih baik mati," teriaknya kemudian berlalu meninggalkan kediaman Dinda.


"Tan! Tania! Tania, jangan nekat!" teriak Dinda hendak mencegat. Namun temannya itu sudah berlalu pergi.


"Ya ampun tuh anak," Segera Dinda menyusul dan berlari mengikuti langkah Tania


"Gue harus telepon Arga," Ditengah larinya, ia pun teringat untuk menghubungi Arga. Segera Dinda menelepon pria penyebab temannya hampir gila itu.


Dan disinilah Dinda, disebuah jembatan. Dengan napasa ngos-ngosan. "Tan! Ber- berhenti!" ucapnya mendekat dengan tertatih.


"Lu gak usah cegat gue, Din! Hidup gue sudah gak ada artinya lagi," ucap Tania yang kini sudah berdiri dipembatas jembatan itu.


"Lu jangan gini, Tan! Lu harus tetap hidup. Gue udah hubungi si Arga, dia terdengar khawatir sama lu," bujuk Dinda, meraih tangan Tania.


Wanita itu menyeringai dalam hati. Rencananya ternyata berjalan mulus. Mencari simpati publik bukanlah hal susah untuknya. Tinggal menunggu Arga saja, maka semua keinginannya akan segera terwujud.


Tania masih terus mengoceh disela tangisnya mencari simpati, beberapa orang yang lewat ikut mendekat. Penasaran dengan apa yang terjadi.


'Ck! Si Arga mana ini? Masa gue harus lompat dulu,' gerutunya dalam hati. Ia melongokan wajah melihat kebawah, sedikit bergidig ngeri melihat terlalu dalamnya sungai dibawah sana.


'Hissh mana dalam banget,' lanjutnya, masih dalam hati.


Dinda masih berusaha untuk menahan tubuh Tania. "Tan, sadarlah! Jangan bodoh!"


Tania hanya menangis dengan mata melirik kanan kiri seperti mencari sesuatu, yang tentunya tengah mencari Arga. Orang-orang tidak berani mendekat, dan hanya menonton saja dengan kecemasan yang sama.


Hingga tiba-tiba kaki Tania yang sudah menaiki pagar pembatas itu, terpeleset dan wanita itu hampir saja terjatuh.


"Aaaa!!!" pekik semua orang disana.


Grep!!!


Kedua tangan Tania ditarik oleh dua orang dari atas, saat tubuhnya hampir melayang ke bawah sana.


"To-tolong!" pinta Tania panik.


"Tan! Tania bertahanlah!" Arga menangkap satu lagi tangan Tania.


"Ngapain sih pake mau nyebur segala? Lu pikir bunuh diri itu enak apa? Mening kalo lu mati, coba kalo nggak, sakit seumur-umur yang ada," cerocos Cheryl mengomel.


"Udah dulu Cher, ngomelnya. Ayo kita tarik, berat nih! Hepph!" sela Arga dengan suara tertahan mempertahankan berat bobot wanita itu.


Meski dengan perasaan kesal, tak ayal Cheryl pun menurut dan menarik tubuh Cheryl untuk kembali ke atas. "Hepph, ya ampun, kebanyakan dosa lu. Berat amat," Gadis itu masih saja mendumel kesal.


Dinda yang sempat shok, ikut membantu menarik tubuh Tania yang sudah sampai dipembatas.


Greeppp!!!


Tania menubrukan diri memeluk Arga dengan tangis ketakutan. Cheryl yang masih ngos-ngosan hanya mendelik sinis. Sungguh drama queen! Sama seperti yang dikatakan emak-emak readers. Sementara semua orang sudah kembali membubarkan diri. Menyisakan empat orang saja disana.


"Suut! Udah, udah, kamu udah aman sekarang," Arga mengusap rambut tania mencoba menenangkan wanita itu.


"Aku mencintaimu, Ga! Aku gak mau kehilangan kamu. Biarin aku mati" ungkap Tania.


"Heleh, biarin mati. Tadi aja minta tolong?" celetuk Cheryl. Dinda menatap kesal pada gadis ceplas ceplos yang tidak tau sikon itu. Sementara Arga tak menimpali, ia tidak ingin memperkeruh suasana disana.


"Heh, lu gak punya hati ya? Udah jadi pelakor, gak tau malu juga," sinis Dinda.


"Heh Juminten, kalo gue gak punya hati. Mana mungkin gue bela-belain selamatin noh orang," tunjuk Cheryl pada wanita didekapan Arga.


"Lagian ya, gue rasa yang gak punya hati tuh dia. Masa iya, peluk-peluk suami orang, didepan istrinya pula. Perempuan apaan coba? Gak salah tuh nyebut pelakor ke gue?"


Skak! Cerocosan Cheryl sukses membuat Dinda bungkam tak dapat menimpali. Begitupun Arga, yang segera melepas pelukan Tania dari tubuhnya. Ucapan Cheryl memang benar adanya. Bagaimanapun juga, statusnya sekarang tidak memberi hak ia untuk berbuat seperti itu?


'Hem, nyadar 'kan lu?' batin Cheryl tersenyum menang.


Tania yang mendengar cerocosan Cheryl dan melihat Arga melepas dekapannya, seketika meradang. Ia sudah tidak dapat menahan emsoinya lagi. Ia pun menyerobot mendekati Cheryl.


"Heh lu!" tunjuk Tania pada bahu Cheryl sedikit keras. "Gak sadar diri banget sih lu? Lu yang udah rebut Arga dari gue, dan gue gak terima semua itu," sungutnya.


Seketika Dinda dan Arga pun melongo melihat kemarahan Tania. Ini kali pertama dua orang itu melihat amarah Tania. Berbeda dengan Cheryl yang menampilkan senyum tipis diujung bibirnya.


Dimobil sebelumnya, Cheryl diam-diam mengirim chat pada Key. Gadis itu menceritakan singkat apa yang terjadi, hingga Pria itu menyarankan untuk mencoba memancing emosi Tania. Dan benar saja, rencananya itu berhasil.


"Gue gak akan lepasin Arga begitu aja. Dia hanya milik gue. Cinta Arga cuma buat gue, dan lu? Lu cuma pajangan, lu cuma parasit, lu cuma cewek gak tau diri yang hanya mengharap harta Arga!" cerocos Tania mengeluarkan semua uneg-unegnya. Ia sudah tidak peduli dengan image-nya, tidak peduli dengan tanggapan Arga dan Dinda.


Pecah sudah tawa Cheryl. Hal yang ia pikir akan membuat ia kesal, justru berbuah menjadi begitu lucu. Sepertinya ia harus berterima kasih pada Key, atas ilmu yang sudah diberikan pria itu padanya.


Hal itu membuat Arga dan Dinda kebingunan. Namun, tidak dengan Tania. Tawa Cheryl semakin menyulut amarah wanita itu. "Cukup! Lu sekarang mungkin bisa tertawa. Tapi besok," Tania menggandeng lengan Arga. Dan hal itu berhasil menghentikan tawa Cheryl.


"Lu akan nangis. Karena apa? Karena Arga akan menikahi gue!"


Deg!


\*\*\*\*\*\*