My Enemy, My Husband

My Enemy, My Husband
Cemburu



"Wow!!! Ini keren sekali," pekik mama Chika kegirangan. Kini ia bersama besan dan pengantin baru itu sudah berada dirumah yang akan ditinggali Arga dan Cheryl.


"Iya, aku gak nyangka rumah ini ternyata begitu mewah," balas mama Jingga ikut takjub dengan desain rumah minimalis itu.


"Beneran, Kak Jin! Aku kira ini rumah kecil dan gak menarik. Aku sempet mikir, ini rumah biasa aja. Ternyata ...."


Kedua ibu itu begitu heboh dengan seluruh interior rumah tingkat dua itu. Pasalnya, rumah itu tidak terlihat luas dari luar, bahkan sangat mini. Namun, setelah tau isi didalam begitu lengkap dengan interior tak main-main. Mereka pun menginginkan rumah seperti demikian. Usut punya usut ternyata rumah itu adalah sebuah rumah lama, yang sudah direnovasi bagian dalamnya saja. Jadi, dari luar itu tampak biasa saja dan tidak menarik sama sekali.


"Gimana, apa kalian suka?" tanya papa Sha pada pasangan itu.


Cheryl yang sempat melamun tersadar akan ucapan sang papa mertua. Gadis itu tersenyum seraya mengangguk. Lalu, ia melirik sekilas pada Arga yang terlihat tak bergairah dan kembali pada para orang tua yang begitu antusias.


'Seandainya ini pernikahan yang diinginkan, gue mungkin akan menjadi wanita paling bahagia didunia. Mendapat mertua yang begitu penyayang adalah harapan dari semua gadis. Namun, semua bagai percuma. Saat gue sadar semua hanya kepura-puraan,' batin Cheryl.


Arga melirik ke arah sang istri yang menunduk. 'Apa lu merasa tertekan dengan semua ini? Maafin gue, harusnya kita gak lakuin ini. Mungkinkah kita bisa memulainya?' tanyanya dalam hati.


Setelah acara pindahan itu selesai. Kini para wanita tengah menyiapkan makan malam untuk merayakan syukuran pindahnya pasangan pengantin baru itu. Acara kecil-kecilan yang hanya dihadiri keluaraga saja.


"Lu mau kemana?" tanya Cheryl heran ketika ia memasuki kamar dan melihat Arga sudah rapi dengan pakaian casual yang melekat ditubuhnya.


"Gue keluar sebentar," jawabnya. Lalu, hendak berlenggang. Namun, suara Cheryl menghentikannya.


"Nemuin Tania?" tanyanya.


Seketika Arga berbalik. "Cuma sebentar," balas Arga.


Cheryl tersenyum sinis. Entah kenapa hatinya merasa tersentil mendengar jawaban itu. Ia berbalik menatap serius ke arah Arga. "Harus?" tanyanya.


Arga menghembuskan napas panjang, tau apa maksud gadis itu. "Dia mau membicarakan hal penting. Dan gue harus menemui dia," balasnya.


"Penting," Cheryl menarik satu sudut bibirnya seraya melengos. "Sory gue lupa. Acara kita ini emang gak penting. Dia 'kan PACAR lu. Jelas lebih penting sih ya," sindirnya dengan menekan kata pacar.


"Udah deh, gak usah mulai. Gue lagi malas berdebat sama lu," balas Arga pelan namun begitu ngena dihati Cheryl.


Cheryl tersenyum menatap Arga. "Oke, terserah lu!" ucapnya dan berlalu kembali meninggalkan kamar.


Arga menghela napas kasar seraya berdecak kesal. "Bukan itu maksud gue," gumamnya berkacak pinggang.


Cheryl berjalan cepat dari kamar itu menuju tepi kolam renang. Tiba-tiba satu tetes cairan bening dari sudut matanya keluar begitu saja. "Isshh gue kenapa sih? Ngapain juga gue peduli," kesalnya menyeka air mata.


Lalu, ia mendudukkan diri disebuah kursi santai. "Ayolah Cher, jangan terlalu berharap atas semua ini. Percuma," ucapnya menegarkan diri sendiri.


"Gak apa-apa lagi kalo lu berharap," celetuk sesorang, hingga sukses membuat Cheryl terkesiap.


"Astaga!" Gadis itu memegang dada yang hampir saja loncat. "Isshh lu ngagetin aja," kesalnya menimpuk bahu seorang pria yang sudah mendudukan diri disampingnya.


Key, pria yang sudah membuat Cheryl terkejut pun tergelak seraya mengacak rambut gadis itu. Ternyata hal itu menjadi perhatian seseorang dari balik jendela.


Arga yang sempat ingin meminta maaf dan menjelaskan maksudnya menemui Tania, hendak mengejar gadis itu. Namun, siapa sangka ternyata kehadiran Key kalah cepat dengannya. Entah kenapa ia begitu kesal melihat kedua manusia yang tengah bercanda ria itu disana.


"Cih! Ngapain mereka pake ketawa-ketawa segala. Alay," gerutunya kesal.


"Ikutan gih! Seru tuh kayaknya," bisik seorang wanita ditelinganya.


"Astaga! Oma, ngapain Oma disini?" tanya Arga sedikit kikuk. Pria itu terlonjak kaget saat tiba-tiba saja oma Siska sudah ada disampingnya.


"Lagi nonton yang cemburu," kekeh wanita yang masih segar diusianya itu.


"Heleh, gak mau ngaku. Kelihatan kali, Ga," ledeknya lagi.


"Oma ...." rengek Arga hingga wanita itu tergelak seraya memeluk cucu dari adiknya itu dari samping.


"Oma jadi kangen cucu-cucu, Oma. Mereka apa kabar ya?" tanyanya dengan wajah sendu.


Arga membalas mendekap wanita itu. "Mereka pasti baik, Oma. Yakin deh!" ucapnya memberi semangat.


"Bukannya sekarang onty Kia sama uncle Rei akan pulang, ya?" tanya Arga.


"Entahlah, oma gak yakin," pasrah oma Siska. "Kamu tau, mereka tuh keterlaluan. Masa iya mau pulang tahun depan. Gak sayang sama orang tua emang. Gak tau itu si Opa udah sering sakit-sakitan kebanyakan mikirin anak cucunya yang pada jauh," cerocosnya.


"Terus om sama tantemu, mereka sama aja. Gak pada ingat pulang dah tuh," lanjutnya.


Arga terkekeh mendengar cerocosan omanya itu. "Sabar Oma, om Aska juga 'kan katanya minggu depan pulang."


"Itu tuh dia mau pulang, setelah Oma bilang Oma sakit," lanjut oma Siska membuat Arga membelakak. "Habis kalo gak gitu mereka gak akan pulang!"


"Issh Oma jangan gitu dong, ucapan itu doa lho, Oma. Arga gak mau Oma sakit," peringat Arga. Hal itu tentu membuat senyum wanita baya itu mengembang.


"Kamu emang cucu yang paling pengertian," ucapnya mencubit pipi pria tampan itu.


Ditengah perbincangan itu, atensi Arga kembli pada kedua manusia yang masih mengobrol berdua dikursi santai tadi. 'Kayaknya gue gak bisa pergi. Kalo gue pergi, keenakan tuh si buaya deketin si Chemot,' batin Arga.


Ia pun mengetikan chat pada Tania karena tidak bisa menemuinya. Dengan beralaskan ada urusan keluarga yang tidak dapat ia tinggal. Lalu, ia berpamitan pada sang oma untuk mendekati kedua mansuia itu.


"Eheeemm!!!"


Deheman keras Arga menghentikan tawa Cheryl. Seketila keduanya menoleh kearah Arga. Kedua manusia itu saling tatap, mungkinlah Arga mendengar pembahasan mereka?


"Kenapa lu masih disini? Katanya mau nemuin pacar?" tanya Cheryl dengan nada sindiran.


"Suutt!!!" peringat Arga. "Lu bisa gak sih, ngomongnya gak usah keras-keras!"


"Kenapa?" Bukan Cheryl, namun Key yang menimpali. "Lu gak mau semua orang denger, kalo lu masih punya hubungan sama pelc*r itu?" lanjutnya dengan sarkas.


"Pengec*t!"


Tentu saja hal itu menyulut amarah Arga, ia meraih kerah kemeja Key untuk memberi peringatan. Cheryl shok bukan main, ia segera menghadang pergerakan tangan Arga yang mungkin saja akan melayangkan pukulan pada pria disampingnya. "Eh, eh, lu apa-apaan?"


"Sudah beribu-ribu kali gue bilang sama lu, stop panggil Tania dengan sebutan itu. Dia bukan cewek yang seperti ada diotak lu," peringat Arga.


Namun, Key hanya menanggapi santai. "Gue akan stop, setelah dia berhenti dari pekerjaannya itu."


"Lu?" Arga semakin mengeratkan cengkraman itu sekuat tenaga. Hingga Key berdiri dibuatnya.


Sontak Cheryl ikut berdiri, dengan perasaan waswas. Ia takut akan terjadi perang saudara lagi. "Ga, udah, Ga. Lepasin Key!" pintanya pelan seraya mencoba melerai.


Namun tak dihiraukan kedua pria yang masih bersitegang itu. Sekali lagi ia hendak melerai, namun tangannya ditepis Arga, hingga Cheryl hilang keseimbangan dan ....


Byurrrr!!!!


\*\*\*\*\*\*


Nyebur dah tuh si Chemot🙈 yuk jejaknya yaa gaiss jangan lupa😘😘