
Semua orang sektika senyap dengan pengakuan Arga. Tidak ada yang berani mengeluarkan suara sepatah kata pun. Cheryl menatap tak percaya Arga mengakui, bahkan melindungi dirinya.
"Kalo kalian ada hak untuk menuntutnya. Maka, gue juga ada hak buat nuntut kalian!" tegas Arga. Pria itu meraih tangan Cheryl, menggenggam tangan gadis itu.
"Ayo, kita pulang!" ajak Arga dan hanya diangguki Cheryl yang masih menatap tak percaya pria itu.
Sejoli itu pun keluar dari keramaian. Sorak sorai pun terdengar dari para penonton disana. Ada yang ikut baper dengan perlakun Arga, ada pula yang geram karena gadis yang mendapat cap pelakor itu tidak mendapat hukuman dari komunitas.
Seperti seorang wanita yang kini tengah melihat mereka dari kejuhan. Tangannya mengepal kuat dengan wajah mengeras. "Segitu mudahnya lu lupain gue, Ga? Segitu pedulinya lu sama cewek itu?" geramnya.
Tania menatap tajam pasangan yang tengah berjalan bergandengan tangan itu. "Lu lihat aja, Ga! Gue gak akan pernah lepasin lu begitu aja," geramnya. Niat hati ingin menjatuhkan Cheryl, ia justru harus melihat Arga yang sudah nampak berpaling darinya. Sungguh! Keberuntungan sedang tidak berpihak kepadanya.
Sementara itu disisi lain, seorang pria tersenyum senang melihat drama tersebut. Pria itu berdiri didepan pintu mobil miliknya.
Pluffhh
Suara bubble meletup dibibirnya menandakan kepuasannya juga. "Sekarang kita tinggal tunggu, drama sesungguhnya akan segera dimulai," ucapnya mengunyah permen karet itu kembali.
"TA-NI-A" ejanya. "Sudah waktunya, lu kembali ketempat asal lu. Dan gue akan pastikan itu!" ucap Key menyeringai. Kemudian pria itu pun memasuki mobilnya tersebut.
**
"Lu kenapa diem aja dibully kayak gitu?" tanya Arga. Pria itu meraih tissue dari atas dasbor, mengelap wajah cantik Cheryl dengan telaten.
"Setidaknya lu 'kan punya mulut. Lu bisa balas omongan mereka," ucap Arga lagi seperti sebuah omelan.
Cheryl yang biasanya kesal mendengar omelan seperti itu, dan selalu ingin menimpali mendadak tak berselera. Hatinya menghangat mengingat pengakuan Arga tadi. Bisa dikatakan ia meleleh dengan tindakan pria itu kali ini.
"Lu ha-"
Greepp!!!
Suara Arga terputus dengan tindakan Cheryl yang tiba-tiba saja memeluk tubuhnya. Gadis itu tidak mampu berkata-kata. Bahagia, hanya itu yang bisa hatinya katakan. Cairan bening keluar begitu saja dari ujung matanya.
Arga terpaku sejenak. Hatinya kembali berdebar mendapat perlakuan itu. Ia mengulurkan tangan untuk membelai rambut sang gadis. Tau pasti, hal tadi begitu berat untuk gadis itu.
"Harusnya, kalo ada apa-apa lu bilang sama gue," ucap Arga lembut.
Cheryl melepaskan pelukannya, setelah beberapa saat ia tak bersuara. Akhirmya ia pun bersuara dengan tatapan menatap dalam pria itu. "Kenapa lu belain gue?" tanyanya.
Arga mengusap jejak kebasahan dipipi gadis itu. "Karena itu tugas gue! Semenjak gue mengucap ijab kabul didepan papa lu, saat itu pula tanggung jawab papa berpindah ke gue," jelas Arga.
"Gue punya kewajiban segalanya terhadap lu. Termasuk melindungi lu, memberi ke amanan buat lu, me-" suara Arga kembali terputus saat tiba-tiba saja Cheryl menarik kedua pipi Arga dan melayangakn kecupan dalam dibibir pria itu.
Arga terpalu sejenak, dengan mata membola. Tak menyangka, sang gadis akan melakukan itu. Berbeda dengan Cheryl yang begitu meresapi dengan mata terpejam.
Gadis itu perlahan menjauhkan wajah. Ia tersenyum tulus menatap mata Arga. "Makasih! Makasih udah mengakui gue sebagai istri lu. Mulai sekarang, gue gak akan diem lagi. Gue akan mengakui lu keseluruh dunia, kalo lu memang suami gue!" ucapnya.
**
Hari kian gelap, keadaan mendadak canggung antara sejoli itu. Semenjak pulang kuliah tadi, pasangan itu mendadak kehilangan pembahasan.
"Emm, gue tidur duluan!" pamit Cheryl ragu, ia hendak beranjak dari sofa. Namun, suara Arga menghentikannya.
"Emm, gue juga!" sela Arga segera mematikan televisi.
Suasana kembali hening. Tidak ada yang beranjak duluan dari sofa tersebut. Keduanya masih begulat dengan pemikiran masing-masing dengan mata saling mencuri pandang sati sama lain.
'Ya ampun kenapa suasananya jadi gini. Kok, gue bingung mau ngomong apa? Dan lagi, apa yang harus gue lakuin? Apa ngajak duluan, ya!' batin Cheryl bertanya-tanya. Ia sampai menggigit-gigit bibir bawahnya bingung.
'Kenapa jadi gini sih? Gue mendadak hilang kalimat yang harus gue ucapin. Ayo, Ga! Lu cowok, lu harus memulai!' batin Arga sama bingung.
"Ayo!" ajak keduanya seraya bangkit bersamaan.
Cheryl tertawa dengan tingkah mereka, begitu pun Arga yang ikut tertawa. Entah bagaimana mereka memiliki pemikiran yang sama. Arga mengulurkan tangan dan disambut senang oleh gadis itu. Keduanya pun berlalu menuju kamar mereka.
"Gue mau ganti baju dulu," ucap Cheryl dan diiyakan oleh Arga yang langsung mendudukam diri diatas ranjang mengecek kembali poselnya sebelum ia silent.
Cheryl berlalu menuju ruang ganti, ia membuka lemari untuk mencari piyama yang akan ia kenakan. Lalu, tiba-tiba saja atensinya tertuju pada sebuah gaun tipis yang sempat ia bawa pas pindahan.
Ia meraih kain itu dan merentangkan kain tersebut. "Apa ini waktunya gue nyerahin diri?" tanyanya bermonolog sendiri. "Tapi, apa lu akan menerima gue?" Kembali rasa ragu menyelimuti.
Namun, ia kembali mengingat akan tanggung jawab yang dikatakan Arga. Haruskah ia juga memberikan hak pada suaminya?
Setelah berulang kali berpikir, ia pun mengurungkan niatnya. Ia kembali menyimpan gaun sexy itu dan memilih mengambil setelan piyama pendek. Salah satu piyama yang ia beli ditepi pantai waktu itu.
Cheryl kembali setelah berganti pakaian. Keadaan kamar gelap dan hanya menyisakan lampu temaram saja. Dengan percaya diri ia berjalan menuju ranjang. Tanpa ia sadari, piyama bermotif itu tembus pandang didalam kegelapan. Arga terpaku melihat lekuk tubuh Cheryl yang terlihat sempurna. Dal*man sang gadis yang berwarna hitam, terlihat jelas dimatanya.
Glek!
Ayolah, Arga lelaki normal. Disuguhi pemandangan seperti itu, tentu membuat jiwa kelelakiannya bangkit seketika. Apalagi setelah ia mengingat status mereka yang menghalalkan jika ia bisa melakukan itu.
"Ga?" sapa Cheryl bingung mendekatkan wajah pada wajah Arga yang tak lekat menatap dirinya.
"Lu-"
Grreeepp!!
Arga menarik tangan Cheryl hingga gadis itu terduduk dipangkuannya. Gadis itu sedikit terkejut, namun melihat tatapan Arga, membuat ia ikut menatap lekat matanya.
"Apa kita bisa melakukannya?"
\*\*\*\*\*\*