
"Lu tuh mijit, apa menggelitik sih? Yang bener dong!" bentakan seorang wanita membuat wanita yang tengah memijit wanita tersebut, terlonjak kaget. Sudah tidak asing memang, namun tetap saja itu selalu membuat ia ketakutan.
"I-iya," balasnya tergugup.
"Udah gak usah mewek. Udah berani juga lu buat bunuh orang, masa masih mewek," ledek teman si wanita yang dipijit.
Tania, wanita yang mendapat bentakan itu hanya bisa menangis. Ia yang biasa hidup bergelimang harta, dari hasil kerja kotornya. Harus mendapat perlakuan seperti itu. Dulu ia selalu memperlakukan asisten rumah tangga seperti itu, dan sekarang ia sendiri merasaknnya.
"Gue denger kasus lu bukan cuma pembunuhan ya? Tapi, kasus prostitusi juga," celetuk temannya.
"Wah ternyata lu cewek bokingan. Banyak duit dong lu?" ledek satu temannya lagi.
"Kalo gitu boss, dia wajib dong bayar pj sama kita. Duitnya 'kan pasti banyak," usul wanita lainnya.
Tania menggelengkan kepala. Jangankan uang, semua barang-barangnya sudah kena sita pihak polisi sebagai barang bukti. Wanita yang dianggap boss yang tengah dipijit itu menoleh meminta penjelasan.
"A-aku, aku gak ada," cicit Tania.
Grepp!!
"Aaaa!!!" Tania memekik kesakitan saat rambutnya dijambak kasar oleh wanita itu.
"Lu jangan bohongin gue. Mana keluarin semua uang lu!" pinta wanita itu mengadahkan tangan.
"G-gak ada boss!" lirih Tania.
"Jangan bohong!" bentak wanita itu.
"Be-beneran boss. Semua barang dan uangku disita," jelas Tania.
"Ck! Gak guna lu!" Wanita itu menghempaskan Tania, hingga wanita itu tersungkur dilantai. Tania kembali menangis mendapati perlakuan itu. Ketiga wanita disana hanya tertawa menanggapi.
Sementara wanita yang disebut boss itu berdecih. "Udah gak usah mewek. Buruan pijitin lagi!" titahnya.
Dengan menahan sakit, Tania kembali duduk dibantu satu wanita dan mulai memijit pundak wanita itu. Menurut adalah jalan satu-satunya, bagi Tania untuk bertahan hidup sekaranh.
'Kenapa nasib gue jadi begini? Apa ini karma dari apa yang pernah gue lakuin?' batinnya bertanya.
Tiba-tiba ia teringat seseorang yang selama ini selalu memanjakannya. Seseorang yang selalu setia mencintainya. Namun, dengan tega Tania justru mengkhianatinya.
'Maafin aku, Ga! Maaf!' batinnya lagi menangis.
"Saudari Tania! Ada seseorang yang ingin bertemu anda," ucap salah satu petugas.
Semua orang hening, begitu pun Tania. 'Siapa?' batinnya.
**
"Ngapain sih? Udahlah gak usah," tanya Arga malas.
"Isshh kamu tuh, jangan kayak gitu. Biar gitu, dia tetap mantan kamu lho!" balas Cheryl yang disertai nada ledekan. Namun, Arga hanya berdecak menanggapi.
Kini sejoli itu sedang berada didalam sebuah mobil yang dikendarai oleh Key. Karena ia tidak mau pulang, benar saja ia ditugaskan jadi sopir pasangan pengantin itu. Meski sempat menolak, namun ancaman sang mama untuk mengasingkan dirinya tidaklah main-main, hingga ia pun terpaksa harus menurut.
Key tertawa didepan sana. Hal yang semakin membuat Arga tersulut emosi. "Gak usah ketawa lu!" kesalnya.
"Yang dikatakan Cheryl tuh emang benar, Ga! Emang lu gak mau dapat penjelasan atau maaf dari cewek uler itu?" tanya Key setelah menghentikan tawanya.
"Sekali ini saja, Ga! Lagian ini udah sepuluh hari dia ditahan. Aku yakin gak akan ada keluarga dia yang menjenguk," jelas Cheryl.
Bagaimanapun, Cheryl tetap merasa iba pada wanita itu. Untuk alasan perencanaan pembunuhan terhadap dirinya, mungkin karena Tania terlalu kesal. Bagaimanapun, Cheryl mengakui dirinya sudah menjadi orang ketiga diantara mereka. Meski sebenarnya, Tania sendirilah yang sudah berkhianat.
"Emm, anggap saja ini sebagai salam perpisahan. Besok 'kan kita pulang. Terus kita gak tau, akan bertemu lagi dengannya atau nggak!" bujuk Cheryl. Arga hanya menghembuskan nafas panjang.
"Ayolah, Ga! Tuhan aja Maha pemaaf lho, masa kamu gak mau maafin dia?"
"Nggak segampang itu Cher! Apa yang sudah dia lakuin sama kamu. Itu yang gak bisa aku maafin," tolak Arga.
Ya, bukan pengkhianatan yang membuat Arga tidak bisa memaafkan mantan kekasihnya itu. Tapi, perencanaan pembunuhanlah yang membuat ia tidak terima dan sulit memaafkan. Jika saja sesuatu terjadi pada sang istri, mungkin ia sendiri sekarang sudah mendekam dibalik jeruji, karena kasus yang sama.
Cheryl yang mengerti, menggenggam tangan suaminya itu. Menangkup pipi Arga yang tengah tertunduk, hingga pria itu mendongak. "Lepasin dendam itu! Aku tau ini tidak mudah. Aku sendiri juga enggan memafkannya. Tapi ... Untuk kehidupan kita, untuk kebahagiaan kita. Kita lepasin semua dendam dihati kita," jelasnya.
"Seseorang pernah berkata. Jika ingin mencapai kebahagiaanmu, maka lepaskan semua yang tidak perlu ada dihatimu. Dendam hanya akan membawa kehancuran untuk kita sendiri. Jika kita memiliki dendam, lalu apa bedanya kita sama mereka yang pernah jahat sama kita?"
Arga tersenyum haru. Gadis yang selama ini selalu ia klaim lemot. Ternyata lebih baik dan lebih bijak dari dirinya. Ia meraih tubuh istrinya itu, lalu mendekapnya.
"Kamu benar. Lagi pula aku udah janji, untuk mengikuti setiap ucapanmu. Makasih untuk selalu disampingku, dan mendorongku untuk menjadi manusia lebih baik," ucap Arga dan diangguki Cheryl, yang ikut memeluk erat tubuh tegap itu.
"Je elah, berasa jadi nyamuk gue!" celetuk Key menyindir.
Hal itu tentu mengalihkan atensi sejoli tersebut. Hingga kedua manusia itu tertawa melihat wajah masam sepupu mereka dari spion atas.
"Siapa suruh milih jadi sopir?" ledek Arga.
"Ck! Asyem lu!" umpat Key, yang ditanggapi gelak tawa menggelegar sejoli itu.
**
Dan disinilah tiga manusia itu. Disebuah ruang tunggu, menunggu seseorang yang tengah dipanggil petugas polisi. Tak membutuhkan waktu lama, seseorang diatas kursi roda bersama petugas datang menghampiri mereka.
"Arga!" cicitnya dengan air mata yang tiba-tiba saja terjatuh.
Ketiga orang itu menoleh, mereka shok menatap pada wanita yang biasa tampak cantik dan modis, kini terlihat lusuh dan tak terawat. Bahkan, tubuhnya mulai kurus hingga nampak kulit wajah yang mengendur.
"Tania?" cicit Arga merasa tak percaya.
Tania mengusap air mata kasar. Ia mencoba biasa saja, lalu mendorong kursi rodanya sendiri. Wanita itu terdiam menundukan kepala. Ia hanya memainkan kedua tangan, malu dan bingung harus bicara apa? Begitupun Arga, ia tidak tau apa yang harus dibicarakan. Hingga suara Cheryl mengalihkan atensi mereka semua.
"Lu apa kabar?" tanya Cheryl. Sontak Tania mendongak menatap wanita yang hampir ia bunuh.
Tania tersenyum miris. Ditanya seperti itu, tentu tidak ada yang baik-baik saja dari dirinya. Fisik dan batinnya tersiksa setiap hari ulah dari teman satu selnya.
"Lu nanya gue baik-baik aja?" tanya balik Tania.
Key dan Arga menatap tak percaya, wanita itu masih saja terdengar arogan meski dengan keadaanya sekarang.
"Lu?" kesal Key. Namun, tangan Cheryl memberi kode menyela ucapan pria itu.
Tanpa diduga, Cheryl mendekat kearah Tania. Ia berjongkok, lalu tiba-tiba memeluk wanita itu. Hingga kedua pria itu kembali shok, dengan mata membola lebar.
"Menangislah! Mungkin itu akan sedikit mengurangi rasa sakit lu!"
\*\*\*\*\*\*