My Enemy, My Husband

My Enemy, My Husband
Membantu meyakinkan



Keadaan sudah mulai menghangat kembali antara Arga dan Key. Kedua saudara itu sudah dapat menintropeksi diri masing-masing mengenai kesalah pahaman mereka selama ini. Arga yang memang salah tidak mengelak untuk mendapat berbagai ceramahan dari saudaranya itu. Hingga obrolan mereka berakhir, ketika Key memutuskan untuk pulang.


"Aku seneng deh, lihat kamu sama Key akur lagi," ucap Cheryl berjalan mendahului Arga yang baru mengunci pintu. Sepasang suami istri itu baru saja mengantarkan Key keluar dari rumah mereka.


"Kamu deket ya, sama Key?" tanya Arga mensejajarkan langkah mereka.


Cheryl terkekeh entah kenapa pertanyaan Arga terdengar meninterogasi dirinya. "Kenapa? Kami cemburu?" godanya mendekatkan wajah.


Arga ikut terkekeh mendapat godaan itu. Entah itu bisa dikatakan cemburu atau apa, yang jelas ia tidak ingin istri mungilnya itu dekat dengan siapapun, termasuk Key. Pria itu menghentikan langkahnya di anak tangga pertama, hingga Cheryl juga ikut berhenti di tangga kedua seraya membalikan tubuh. Membuat sejoli itu berhadapan.


"Apa boleh?" tanya Arga terlihat serius.


Cheryl menaikan alis tak mengerti. "Boleh apa?" tanyanya.


Arga mendekatkan diri dan menarik dagu gadis itu. "Bolehkah aku cemburu? Bolehkah aku memintamu hanya menatap aku saja?" tanyanya serius.


Deg!


Cheryl membeku mendengar pertanyaan itu. Tatapan dan ucapan serius Arga membuat jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Namun, ada rasa aneh ketika pria itu bersikap seperti itu. Ia melengos memalingkan wajahnya, hingga tangan Arga terlepas.


Sontak Arga terkejut. "Kenapa?" tanyanya.


"Kayaknya, kamu jangan kayak gitu deh, Ga!" balas Cheryl. "Jujur aku merasa kamu lain. Aku suka kamu yang kayak biasa," lanjutnya.


Arga terdiam sejenak mencerna ucapan gadis itu, hingga Cheryl membalikan tubuh untuk kembali berjalan menaiki anak tangga. Namun, sebelum itu ia kembali bersuara.


"Aku takut, kamu menganggapku sebagai dia bukan diriku!" ucapnya yang kemudian melangkahkan kakinya.


Bukan apa-apa, Cheryl tentu tau bagaimana sikap Arga pada mantan kekasihnya? Ia hanya tidak ingin Arga memandang ia seperti wanita itu. Dan akan membuat Cheryl sendiri terjebak dalam bayang-bayangnya.


Arga terdiam mematung. Tentu ia mengerti apa maksud istrinya itu. Wanita manapun tidak akan ada yang sudi disamakan dengan wanita lain. Namun, Arga tidak bermaksud seperti itu. Ia bersikap manis karena itu adalah orang spesial baginya. Segera ia mengejar gadis itu, tidak ingin sang istri salah paham karena hal seperti itu.


Baru saja Cehryl selesai menaiki anak tangga, ia dibuat sedikit terperanjat karena perlakuan seseorang padanya. Arga mendekap erat tubuh mungil itu dari belakang. Menghirup aroma rambut sang gadis dalam-dalam.


"Maafin aku, Cher! Aku gak maksud kayak gitu. Aku sama sekali gak ada niat buat memperlakukanmu seperti dia," sesal Arga menjelaskan. "Aku gak tau kenapa aku bisa melakukan itu. Aku hanya mengikuti apa yang hatiku katakan," lanjutnya.


Cheryl tersenyum menanggapi. Namun, ia mencoba menggoda pria itu. "Ehm, aku masih belum percaya. Hati kamu 'kan masih terluka dan pastinya masih terdapat wanita itu," ucap Cheryl diakhiri ekspresi meledek. Tentu hal itu tidak diketahui Arga dari balik tubuhnya.


"Nggak, Cher! Aku baru sadar, keberadaanmu disampingku, perlahan menggeser posisi dia dari hatiku. Aku terluka bukan karena masih mencintainya, tapi aku merasa dibodohi," jelas Arga.


"Tolong bantu aku! Bantu aku untuk meyakinkan, jika dia sudah tidak lagi ada dihatiku, dipikiranku, dan juga dihidupku," lanjutnya.


Blush!


Cheryl tersipu, bolehkah ia bahagia? Entah sejak kapan ia pun merasakan Arga begitu spesial. Rasa khawatir dan tidak ingin pria itu terluka semakin mendalam dihatinya. Ia pun menghela napas dalam sebelum akhirnya membalikan diri.


Sepasang suami istri itu saling berhadapan dengan tatapan bertemu. Cheryl tersenyum seraya menarik hidung mancung Arga. Hal yang sukses membuat pria itu sedikit meringis.


"Baiklah! Mulai sekarang aku akan membantumu move on. Eh bukan, aku akan membantumu melupakan dia, mengahapus segala kenanganmu bersamanya. Hem?" final Cheryl.


Arga tersenyum mengusek pelan pucuk kepala gadis itu. "Apapun! Sesukamu," balasnya. Lalu, tangannya meraih pinggang gadis itu.


Cheryl pun mengalungkan tangan memeluk leher pria itu, senyum terus mengembang dan tak luntur dari bibir keduanya. Perlahan namun pasti bibir mereka pun kembali bertemu. Melanjutkan scene romantis mereka di bioskop tadi. Keduamya berpagut, dengan kaki melangkah menuju kamar mereka. Decapan terdengar merdu dari sejoli itu. Mengubur masalah yang terjadi hari ini.


Bruukkk!!!


Keduanya terjatuh bersama diatas tempat tidur mereka, tanpa melepaskan pagutan yang kian dalam itu. Deru napas memburu terdengar dari bibir keduanya setelah saling melepaskan. Mata Arga sudah dipenuhi kabut gairah yang membara. Ia memejamkan mata, saat mengingat Cheryl tak dapat ia sentuh.


"Berapa lama? Berapa lama lagi?"


\*\*\*\*\*\*